<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>cerpen &#8211; KLC</title>
	<atom:link href="https://krishnalearningcenter.com/tag/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://krishnalearningcenter.com</link>
	<description>Bimbingan Belajar Menuju Gerbang Mapan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Sep 2020 23:36:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.13</generator>

<image>
	<url>https://i2.wp.com/krishnalearningcenter.com/wp-content/uploads/2017/02/cropped-klc-favicon-512-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>cerpen &#8211; KLC</title>
	<link>https://krishnalearningcenter.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">123411097</site>	<item>
		<title>CERPEN : Perihal Cinta Yang Selalu Menguatkan</title>
		<link>https://krishnalearningcenter.com/perihal-cinta-yang-selalu-menguatkan/</link>
					<comments>https://krishnalearningcenter.com/perihal-cinta-yang-selalu-menguatkan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Desy Natasia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2020 23:36:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://krishnalearningcenter.com/?p=4112</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang tuaku, aku yakin mereka selalu punya cinta di dalam hati mereka untuk satu sama lain. Walaupun tidak lagi mereka tunjukkan. Tua bukan berarti cinta ikut menua. Semoga saja benar begitu. Perihal Cinta Yang Selalu Menguatkan Sebenarnya aku tahu, diantara mereka sudah tidak ada lagi cinta yang tersisa. Mereka masih terus bersama karena anak-anaknya. Kerap &#8230; </p>
<p class="link-more"><a href="https://krishnalearningcenter.com/perihal-cinta-yang-selalu-menguatkan/" class="more-link">Lanjutkan membaca<span class="screen-reader-text"> "CERPEN : Perihal Cinta Yang Selalu Menguatkan"</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com/perihal-cinta-yang-selalu-menguatkan/">CERPEN : Perihal Cinta Yang Selalu Menguatkan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com">KLC</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Orang tuaku, aku yakin mereka selalu punya cinta di dalam hati mereka untuk satu sama lain. Walaupun tidak lagi mereka tunjukkan. Tua bukan berarti cinta ikut menua. Semoga saja benar begitu.</p>



<span id="more-4112"></span>



<h2 class="wp-block-heading">Perihal Cinta Yang Selalu Menguatkan </h2>



<p>Sebenarnya aku tahu, diantara mereka sudah tidak ada lagi cinta yang tersisa. Mereka masih terus bersama karena anak-anaknya. Kerap kali sepulang bekerja, aku mendengar suara piring pecah, suara perabotan yang dilempar dan suara-suara lain yang cukup membuat siapapun yang berada disana ikut merasakan kehancuran. Rumah tangga Ayah dan Ibu kacau.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-large is-resized"><img data-attachment-id="4113" data-permalink="https://krishnalearningcenter.com/perihal-cinta-yang-selalu-menguatkan/pexels-pixabay-39691/" data-orig-file="https://i2.wp.com/krishnalearningcenter.com/wp-content/uploads/2020/09/pexels-pixabay-39691.jpg?fit=1280%2C853&amp;ssl=1" data-orig-size="1280,853" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}" data-image-title="pexels-pixabay-39691" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://i2.wp.com/krishnalearningcenter.com/wp-content/uploads/2020/09/pexels-pixabay-39691.jpg?fit=300%2C200&amp;ssl=1" data-large-file="https://i2.wp.com/krishnalearningcenter.com/wp-content/uploads/2020/09/pexels-pixabay-39691.jpg?fit=525%2C350&amp;ssl=1" decoding="async" src="https://i2.wp.com/krishnalearningcenter.com/wp-content/uploads/2020/09/pexels-pixabay-39691.jpg?resize=512%2C341&#038;ssl=1" alt="Perihal cinta" class="wp-image-4113" width="512" height="341" srcset="https://i2.wp.com/krishnalearningcenter.com/wp-content/uploads/2020/09/pexels-pixabay-39691.jpg?resize=1024%2C682&amp;ssl=1 1024w, https://i2.wp.com/krishnalearningcenter.com/wp-content/uploads/2020/09/pexels-pixabay-39691.jpg?resize=300%2C200&amp;ssl=1 300w, https://i2.wp.com/krishnalearningcenter.com/wp-content/uploads/2020/09/pexels-pixabay-39691.jpg?resize=768%2C512&amp;ssl=1 768w, https://i2.wp.com/krishnalearningcenter.com/wp-content/uploads/2020/09/pexels-pixabay-39691.jpg?w=1280&amp;ssl=1 1280w" sizes="(max-width: 512px) 100vw, 512px" data-recalc-dims="1" /></figure></div>



<p>Beranjak sebentar dari cerita Ayah dan Ibu yang kisah cintanya sudah hampir hancur. Siapa sangka, hidupku juga hancur setelah kejadian itu. Kejadian yang membuatku menjadi seseorang yang sangat lemah. Kakiku bahkan rasanya tidak kuat menopang beban tubuhku lagi, ditambah masalah yang datang tiada henti.</p>



<p>Aku merasa diriku sudah meninggal, walau belum seutuhnya. Kerap kali aku tertidur di lantai, terbujur, belum kaku memang. Sepertinya hanya tubuhku yang hidup, hati dan pikiranku sudah mati.</p>



<p>Aku menarik nafas panjang sambil terpejam menahan air mataku yang akan menetes. Berbulan-bulan sudah berlalu semenjak kejadian itu. Kecelakaan maut itu hampir saja merenggut nyawaku. Kecelakaan yang tidak pernah terbayangkan sedikitpun akan terjadi dihidupku. Dimasa yang seharusnya aku menjadi manusia produktif, mulai mengejar masa depan dan menjadi orang yang sukses. Hal terpenting adalah membuat orang tuaku bangga padaku dan berusaha memperbaiki lagi hubungan mereka jika memang masih memungkinkan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kecelakaan malam itu justru merenggut semua mimpiku.</h3>



<p>Tadinya, diumurku ini ada banyak cara untuk menjadi produktif. Tetapi, sekarang semua menjadi terbatas. Serba susah bagiku. Bahkan satu-satunya hal yang aku pikirkan setelah kecelakaan itu adalah bagaimana caraku untuk tetap hidup disaat rasanya dunia seperti sudah ingin menghabisiku. Aku merasa tidak berguna, terlebih dimata Ayah dan Ibuku.</p>



<p>Bayangkan saja, sudah berapa uang mereka habiskan untuk merawatku dari kecil hingga sedewasa ini. Mungkin mereka tidak pernah pamrih, bahkan untuk menghitungnya pun mungkin tidak pernah. Tetapi kalau aku jadi mereka, aku pasti menginginkan anak-anakku mampu setidaknya membalas sedikit saja apa yang telah aku korbankan untuk mereka. Salah satunya adalah meminta hasil jerih payah anak-anaknya setiap bulan. Namun, aku justru malah menambah beban orang tuaku yang semakin renta. Mungkin mereka kecewa, tetapi apa boleh buat.</p>



<p>Kejadian itu mendatangkan banyak masalah. Salah satunya Adi, pacarku, semakin hari kita semakin sering bertengkar. Adi bahkan enggan bertemu denganku lagi setelah dia menjengukku di rumah sakit malam itu. Mungkin karena kondisiku saat ini. Aku tidak bisa menyalahkan sikapnya. Setiap orang pasti ingin mendapatkan pasangan yang terbaik. Tetapi, aku sedikit kecewa, karena selama ini dia selalu baik dan mengatakan bahwa dia mencintaiku, dan sekarang sikapnya tidak menunjukkan hal itu sedikitpun.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Disaat-saat terburuk hidupku</h3>



<p>Dimasa aku merasa sangat dibawah, masalah silih berganti datang dihidupku, aku butuh seseorang untuk menguatkan aku, tetapi pacarku malah memilih pergi meninggalkanku. Mungkin setiap orang pernah berada dimasa yang sama denganku, mengalami hal-hal sulit. Namun, aku yakin milikku berbeda, sangat buruk rasanya. Membayangkan hari esok membuatku ketakutan. Membayangkan bagaimana hidupku berjalan seusai kecelakaan ini, aku rasanya ingin sekali menghabisi hidupku. Hati dan pikiranku seperti dibunuh oleh harapan yang kini terlihat jelas akan pupus seutuhnya. Aku dibunuh oleh bayangan masa depan yang suram dan tidak berguna.</p>



<p>Dibalik itu semuanya semakin membaik di keluargaku. Ayah dan Ibu sudah jarang sekali bertengkar. Sejujurnya aku tidak begitu ingin memikirkan alasannya. Karena aku merasa hal itu sudah seharusnya mereka lakukan jika mereka betul-betul menyayangi anaknya dan tidak ingin membuatku semakin putus asa.</p>



<p>Suatu malam aku melihat Ayah dan Ibu sedang berbincang dengan serius. Aku mengupingnya sambil terduduk di depan pintu. Mereka menangis sambil memecahkan celengan di lemari. Tabungan mereka sudah habis untuk biaya pengobatanku. Aku makin sedih mendengarnya. Mereka berkata satu sama lain, sedikit berdebat namun pada akhirnya mereka setuju untuk saling mendukung satu sama lain karena kondisiku saat ini. Kira-kira begini isi percakapannya,</p>



<p>“Barangkali kita memang sudah tidak lagi cocok. Aku sudah mati rasa padamu, tetapi meskipun begitu, aku akan tetap bertahan untuk anak kita, Putri. Bahkan aku mau memperbaiki semuanya. Kita harus saling dukung terus. Kita sudah tua, kalau masih mementingkan ego, tidak akan ada untungnya. Usia renta begini tidak mungkin cerai kan?” – kata Ayah</p>



<p>“ Mau cari lagi juga <em>enggak </em>mungkin” – jawab Ibu.</p>



<p>“Ya tidak ada yang mau <em>lah</em>.” – kata Ayah sambil tertawa</p>



<p>“Aku akan coba kerja lagi, walaupun sudah sakit sekali tubuhku ini. Aku mau melihat Putri senyum lagi, biar semangat dia” – lanjut Ayahku.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Air mataku menetes mendengar percakapan mereka</h3>



<p>Keesokan harinya, aku terbangun dengan perasaan membara, bahwa aku harus semangat melanjutkan hidup ditengah keterbatasan. Aku teringat percakapan orang tuaku kemarin malam. Mereka rela berbuat apapun untuk anaknya diusia renta ini. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan berusaha mengerjakan apapun yang masih memungkinkan dengan kondisiku saat ini. Walaupun kakiku harus cacat permanen serta beberapa bekas luka yang mungkin akan membekas lama diwajahku. Aku yakin aku bisa berbuat sesuatu yang lebih baik. Rejeki itu sudah ada yang mengatur, walaupun kondisiku begini, aku yakin masih ada pekerjaan yang tersisa untukku.</p>



<p>Aku ingin ucapkan terimakasih banyak kepada orang tuaku yang sudah mencintaiku sepenuh hati. Terimakasih telah menguatkan aku dengan cinta kalian disaat. Adi pacarku mungkin pergi meninggalkanku, tetapi aku sangat yakin cinta kalian padaku tidak pernah hilang. Cinta itu akan selalu menguatkan, bukan melemahkan, aku seperti terlahir kembali meskipun tidak sesempurna yang lain.</p>



<p>Bagaimana sobat KLC cerpen ini menarik yaa? Eiittss, jangan lupa yaa masih banyak lagi artikel menarik lainnya . Yukk akses <a href="https://krishnalearningcenter.com/?s=cerpen">disini</a></p>



<p class="has-text-align-right">Editor : _NR_</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com/perihal-cinta-yang-selalu-menguatkan/">CERPEN : Perihal Cinta Yang Selalu Menguatkan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com">KLC</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://krishnalearningcenter.com/perihal-cinta-yang-selalu-menguatkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4112</post-id>	</item>
		<item>
		<title>CERPEN: Kau Api Bukanlah Air</title>
		<link>https://krishnalearningcenter.com/cerpen-kau-api-bukanlah-air/</link>
					<comments>https://krishnalearningcenter.com/cerpen-kau-api-bukanlah-air/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Diah Wulan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Dec 2019 03:32:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://krishnalearningcenter.com/?p=2867</guid>

					<description><![CDATA[<p>CERPEN &#124; &#8220;Brakk&#8221;, helaian-helaian manifestasi dari pohon dilemparkan begitu saja di depan mukaku.  Layaknya seperti  pedagang kaki lima yang membuang sisa makanan di tepi jalan. Terbuang sia-sia dan tidak akan ada yang memungutnya, kecuali binatang liar. Sekarang helaian-helaian itu bahkan tidak menarik minat binatang liar. Tidak bisa dimakan, alasan yang tepat dari binatang liar. Seandainya &#8230; </p>
<p class="link-more"><a href="https://krishnalearningcenter.com/cerpen-kau-api-bukanlah-air/" class="more-link">Lanjutkan membaca<span class="screen-reader-text"> "CERPEN: Kau Api Bukanlah Air"</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com/cerpen-kau-api-bukanlah-air/">CERPEN: Kau Api Bukanlah Air</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com">KLC</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>CERPEN | &#8220;Brakk&#8221;, helaian-helaian manifestasi dari pohon dilemparkan begitu saja di depan mukaku.  Layaknya seperti  <a href="https://krishnalearningcenter.com/pedagang-kaki-lima-atau-lima-kaki/">pedagang kaki lima</a> yang membuang sisa makanan di tepi jalan. Terbuang sia-sia dan tidak akan ada yang memungutnya, kecuali binatang liar. Sekarang helaian-helaian itu bahkan tidak menarik minat binatang liar. Tidak bisa dimakan, alasan yang tepat dari binatang liar.</p>



<span id="more-2867"></span>



<p>Seandainya dia tahu, itu tidak hanya helaian-helaian yang siap untuk
dilempar. Banyak yang terlewatkan demi setiap deretan hitam di helaian-helain
itu. Bundaran hitam di bawah kantung mata demi helaian-helaian itu. Janji-janji
manis yang terlewatkan demi helaian-helaian itu. Bahkan tidak menatap altar
gereja demi helaian-helaian itu.</p>



<p>&#8220;Tiga puluh hari dan kau hanya bisa membuat sampah, &#8221;
teriak dia. Kupastikan sore ini aku akan berkonsultasi dengan dokter spesialis
THT. Tak bisakah, dia mengecilkan suaranya walaupun ruangan 4 x 8 m bernuansa
laut ini difasilitasi kedap suara. Mungkin aku akan protes pada Tuhan.
Harusnya, gendang telingaku diciptakan Tuhan untuk mendengar suara yang
bernada, berirama dan bervolume sedang. Lagi-lagi aku hanya bisa protes pada
Sang Pencipta, kurasa aku tidak punya nyali untuk protes pada dia. Terbukti aku
diam sekarang.</p>



<p>&#8220;Berapa hari lagi kau akan membawa naskahmu?&#8221; Sial, aku
kembali menunduk. Sorot mata dia tetap tajam walaupun sudah dilapisi kacamata.</p>



<p>&#8220;Dan akan kulempar lagi naskahmu.&#8221; Sedikit keberanian, aku
menatap wajah dia yang mulai keriput. Dia berusaha mengatur nafasnya dan aku
kembali seperti orang bisu.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Istirahatlah sejenak dan saat kau yakin aku tidak akan
melempar naskahmu, kau boleh menemuiku.&#8221; Suara dia mulai melunak dan
seketika hatiku mengeras.</p>



<p>&#8220;Saya diberhentikan?&#8221; Terimakasih Tuhan, suaraku kembali
setengah dari biasanya, apa dia bisa mendengarnya? Dia duduk di kursi putar dan
tak menjawab, membiarkanku yang sedikit demi sedikit mulai mengecil.</p>



<p>&#8220;Kurasa kau perlu istirahat.&#8221; Jawaban ambigu yang tak akan
kutanyakan lagi.</p>



<p>Karena aku masih manusia yang beretika maka aku berkata &#8221; Saya
mohon diri, Bu. Terimakasih dan saya pasti kembali kesini.&#8221; Aku berjongkok
dan memunggut helai-helai yang dia istilahkan “sampah”. Jauh dari dia yang
berpengalamam berpuluh-puluh tahun sebagai penulis, aku tetap tidak sependapat.
Bagiku ini bukan sampah dan aku tetap memiliki keyakinan kuat, suatu saat dia
akan menganggap helai-helaian ini adalah emas.</p>



<p>Walau aku bukan peramal, sekali lagi aku menebak apa yang akan dia
katakan. &#8221; Kau Api, bukanlah air. Bawa panasmu bukan dinginmu.&#8221; </p>



<p>Benar kan, kalau saja aku tak menghormatinya, kulontarkan kata-kata
itu satu menit lebih dulu daripada dia. Sekarang, kalian akan menganggapku cenayang.
Bukan, aku bukan cenayang yang bisa membaca pikiran orang. Aku adalah pendengar
kata-kata setia dia. Tak pernah berubah walaupun rambutnya sudah memutih,
kata-kata itu tetap menjadi akhir dari setiap teriakannya. Tak pernah berubah
juga, sepuluh tahun dan umurku sudah memasuki kepala dua, aku tidak bisa
mengerti maksud kata-kata itu.</p>



<p>Aku menatap gedung di balik kaca bus kota mencari-cari apa ada dia
yang menatapku. Kedua tanganku memeluk erat kardus coklat berukuran 45 x 45 cm.
Berbagai kenangan masa lalu di kardus itu mulai dari, foto, alat tulis, buku
harian, naskah-naskah yang luput dari teriakannya dan yang sudah pernah
dilemparnya. Satu jam yang lalu, benda-benda kenangan masa lalu masih tertata
di salah satu meja gedung itu yang terletak di kawasan ramai Denpasar, jalan
Teuku Umar.</p>



<p>“Baru dari desa, Mas? “ sapa perempuan setengah baya. Aku
mengernyitkan kening, pantas saja aku tengah memeluk kardus dan akupun
tersenyum. Enggan menjawab, enggan mengangguk dan enggan pula mengelengkan
kepala.</p>



<p>“Nanti kalau sudah setahun di Denpasar, pasti Mas kangen pengen
balik kampung,” lanjut perempuan setengah baya mengusap keringat di pelipis
dengan baju yang mungkin warna dasarnya putih. </p>



<p>“Enak di desa Mas, orangnya ramah-ramah. Kemana-mana nggak takut
kecopetan, musim hujan nggak banjir. Pokok’e enak di desa.” Aku terjebak
pembicaran yang sebenarnya modus dari curahan hati perempuan setengah baya. &nbsp;</p>



<p>Orang yang duduk di sebelahku begitu merindukan desanya. Cukup
terlihat kan? Aku menghela nafas, desa. Aku tidak punya desa. Tidak sepenuhnya,
aku punya desa dalam arti lain. Desaku, ya desaku. Kurasa aku akan kesana,
sudah lama aku tidak kesana. Lagian sekarang aku punya begitu banyak waktu
luang. </p>



<p>Desa Penglipuran ialah desaku, terletak di tengah-tengah pulau
dewata. Orang-orang akan lebih mengenal kawasan sejuk dekat dari Desa
Penglipuran, Kintamani. Kintamani salah satu objek wisata di Bali yang patut
diperhitungkan. Tidak hanya keindahan hamparan laut dengan pasir putihnya yang
bisa membelakkan mata turis. Desa yang berada 400 meter dari permukaan laut,
menyuguhkan pemandangan segar dan tak biasa. Suhu berkisar antara 17 – 20
derajad celcius. Acap kali karena suhu yang dingin, banyak yang bilang jika kita
minum kopi di Kintamani serasa minum es. Aku tidak akan membenarkan pernyataan
ini, juga tidak menyalahkan. Kurasa akan terjawab jika aku minum kopi di
Kintamani.</p>



<p>Matahari sudah kembali ke peraduan saat kubaca plang nama, Panti
Asuhan Bunda Maria. Mengkilat dengan cat perak. &nbsp;Bagi diriku yang menghabiskan masa kecil di panti,
menemukan panti ini di desa Penglipuran tidak akan memakan waktu lama. Bagi
yang pertama mengunjungi desa ini, akan membingungkan untuk mencari satu rumah.
Sesuatu yang khas di Desa Penglipuran, semua rumah di desa ini memiliki pintu
gerbang yang seragam dari ujung utama desa sampai bagaian hilir desa. Lebih tepatnya
memang didesain sama. Bentuk, bahan, ketinggian sengaja diseragamkan. Kadang
aku menebak apakah developer member harga khusus karena satu desa memakai
desain dan bahan yang sama? Ataukah memang sudah adat-istiadat yang tak bisa
diganggugugat? Terlepas dari semua itu, aku berharap kekhasan desa ini
meniadakan kesenjangan yang signifikan di Desa Penglipuran.</p>



<p>Samar-samar kuingat saat aku bermain gundu selepas istirahat jam
makan siang di depan plang nama yang masih polos dengan warna asli kayu,
coklat. Di sudut halaman itu, terekam jelas aku memandang satu demi satu
penghuni panti yang menemukan orang tua baru. Ketika suster-suster mengantar
kepergian anak asuhnya, aku akan berlari ke belakang pohon damar di sudut
halaman belakang panti. Di sanalah aku menangis, kenapa bukan aku yang mereka
pilih? Kenapa aku tidak bisa memanggil mereka ibu atau ayah? </p>



<p>Sampai ketika, perempuan berlesung pipi dengan rambut sepundak menghampiri
di tengah gerimis hujan.</p>



<p>“Anak manis, kenapa menangis?” Perempuan itu membungkukan badannya,
menjajarkan tinggi badan kami.</p>



<p>“Tidak, aku tidak menangis. Hanya saja…” Aku terdiam tak menemukan
alasan yang tepat untuk mengelak.</p>



<p>“Ohh ya, aku salah lihat kamu tidak sedang menangis.” Kurasa
perempuan ini buta.</p>



<p>“Gerimis hujan ini yang singgah di pipimu.” </p>



<p>“Yaa.. Anda benar.” Sahutku, sungguh aku tidak ingin dia mengiraku
menangis.</p>



<p>“Mengapa gerimis hujan ini hanya singgah di pipimu? Aku benar-benar
iri. Kurasa Hujan menyukaimu.”&nbsp; Dia
merajuk, kemudian kedua tangannya diletakkan di atas kepalaku.</p>



<p>“Apa yang anda lakukan?” Kedua alis mataku meninggi, heran dengan
tingkah yang sedang dia lakoni.</p>



<p>“Aku akan menghalangi gerimis hujan ini dan hujan tak akan singgah
di pipimu. Aku betul-betul iri.”</p>



<p>“Jangan&#8230;,” seruku menangkis payung tangan yang tengah berada di
atas kepalaku.</p>



<p>“Aku menyukai gerimis hujan ini. Biarkan dia tetap singgah di
pipiku.” Rona muka dia tampak sayup. Apa dia tersinggung dengan ucapanku? Aku
tidak bermaksud.</p>



<p>“Aku kesal sekali. Aku iri.”</p>



<p>“Kenapa gerimis hujan ini hanya singgah di pipimu? Apakah kau mau
berbagi denganku, anak manis?” Perempuan ini tak hanya buta, dia juga agak
kurang waras. Bagaimana caranya aku membagi air hujan? Suster-suster baru
mengajarkanku pembagian angka, belum untuk pembagian hujan.</p>



<p>“Aku tidak tahu rumusnya.” </p>



<p>“Hahahahahaha.” Dia tertawa, lesung pipinya tampak jelas sekarang.
Cantik.</p>



<p>“Kenapa anda tertawa, benar aku tidak tahu cara membagi air hujan.”
Dia kembali tersenyum.</p>



<p>“Hmmmm, aku punya ide. Bagaimana kalau kamu berbagai cerita mengapa
gerimis hujan ini hanya singgah di pipimu.”</p>



<p>“Kalau aku tahu cerita tentang gerimis hujan, mungkin aku tidak akan
iri lagi. Bagaimana, kamu setuju?’</p>



<p>Spontan aku mengangguk. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>



<p>“Tuliskan cerita gerimis hujan itu untukku. Aku sudah tak sabaran
menantinya.” Usapan tangan lembut perempuan manis di ubun-ubunku.</p>



<p>Malam itu, aku begitu semangat menulis. Sampai suster mematikan
lampu kamar dan mengatakan kalau sudah waktunya tidur. Aku bangun satu jam
lebih awal untuk menyelesaikan tulisanku. Sarapan aku lewatkan, semangat yang
membara aku menulis. Satu pembaca pertama tengah menanti tulisanku.</p>



<p>Senyum mengembang dan lesung pipinya semakin tampak kemudian pipinya
basah. Dia menangis, terlalu burukkah tulisanku. Dia merendahkan badannya
berusaha agar sejajar denganku. Spontan, kuusap air matanya.</p>



<p>“Mengapa anda menangis?.”</p>



<p>Dia kembali mengusap ubun-ubunku dan berkata “Aku tidak menangis.”</p>



<p>“Gerimis hujan tengah singgah di pipiku.”</p>



<p>“Tapi sekarang sedang tidak hujan.” Aku kebingungan.</p>



<p>“Yaa tapi tulisanmu ini mengundang gerimis hujan singgah di pipiku.
Terimakasih, kamu sudah membaginya.”</p>



<p>“Benarkah?” Aku meragukan ucapan dia.</p>



<p>“Kurasa kau memiliki bakat dalam membagikan sesuatu melalui tulisan.
Kenapa kau tidak menulis hal lain dan membagikan kepada yang lain. Selain
gerimis hujan, banyak isi dunia yang terlewatkan.”</p>



<p>“Tidakkah mereka akan menertawakan tulisanku.”</p>



<p>“Tidak akan, jika kau berani menunjukan siapa dirimu dalam tulisan.
Tak akan ada yang tertawa.</p>



<p>“Kaukah itu, Samuel,” seru suster menghampiriku. Membuyarkan rekaman
piring hitam masa lalu. Tergopoh-gopoh langkah suster mendekat dan aku menundukkan
kepala pertanda rasa hormatku. Beliau masih tampak segar, walau kerut di
dahinya bertambah. Suster menuntun tubuhku memasuki ruang tamu yang tatanan
barang-barangnya sama. Meja bundar dengan dikelilingi sofa hitam. Di ujung
ruangan ada piala, piagam dan cenderamata tersusun dari yang paling tinggi ke
rendah. Lemari kaca yang membedakannya, dulu benda-benda itu tersusun di luar
beralaskan meja panjang.</p>



<p>Suster menundukkan kepala mencari-cari sesuatu di bawah meja bundar.
“ Ini dia majalahnya.” Dia meniup debu yang sedikit menutupi sampul majalah.</p>



<p>“Ini kan tulisanmu. “ Suster memperlihatkan salah satu tulisanku.
Aku tertegun sekian detik memandangi halaman itu. Sudah lama aku tidak kembali
mengisi halaman itu.&nbsp; Gambar tangan yang mengenggam
bola dunia mengantikan tulisanku.</p>



<p>“Samuel, suster merindukan saat-saat terniang tulisanmu walaupun
sudah mau tidur. ”</p>



<p>“Ingatkah kau tulisanmu yang berjudul “Kristal Mencair”?” Aku
mengangguk, tulisan jaman dulukala. Laksana bunga kembang sepatu yang masih
kuncup, pas mengambarkan tulisanku dulu. Bunga kembang sepatu itu sudah
bermekaran sekarang, sungguh indah. Sayangnya malah dilempar begitu saja berapa
jam yang lalu. </p>



<p>“Suster sampai berkaca-kaca membaca cerita itu.”</p>



<p>“Kau memang pandai menulis sebuah cerita, Samuel.” Pujian suster
kepala, nyaris tak tertangkap gelombang suaranya di gendang telingaku. Bukan
karena suara itu tidak nyaring, bukan karena ada suara gaduh lain yang
menenggelamkan pujian suster kepala. Lebih tepatnya, pujian itu tidak
diperuntukkan</p>



<p>Suster meninggalkan ruang tamu, dia akan memimpin kebaktian malam
ini. Aku menolak halus ajakannya.</p>



<p>“Saya akan berkeliling sebentar Suster Kepala, bernostalgia dengan
masa kecil,” tolakku dengan tertawa kecil. Kuambil majalah-majalah itu sambil
mengayunkan langkah ke pohon damar di sudut halaman belakang panti. Sejenak aku
ingin kembali ke masa lalu.</p>



<p>Kubuka satu persatu halaman ini, membaca ulang setiap tulisanku.
Kemanakah pembaca pertamaku? Tak bisakah dia mengelus ubun-ubunku? Aku sangat
ingin mendengar pujiannya lagi. Tulisanku sekarang jauh lebih bagus. Jauh lebih
berbobot, kaya majas, kaya pesan, kaya unsur-unsur bahasa, kaya dan kaya. </p>



<p>“Samuel, aku tidak lagi menangis.”</p>



<p>“Samuel, aku tidak lagi tersenyum.”</p>



<p>“Samuel, aku tidak merasakan apa-apa. Datar. “</p>



<p>Tenggorokanku kering, tercekat, air ludah pun tidak bisa kutelan. Tulisanku
yang paling sempurna mengadu. Teriakan siang hari terniang di cawan memori.
Teriakan yang sepuluh tahun yang lalu adalah tangisan terharu seorang perempuan
berlesung pipi. </p>



<p>Komentar-komentar pada tulisanku berubah dari satu majalah ke
majalah yang lain. Pembaca semakin menganggumi tulisanku. Tapi aku kehilangan
satu komentar, dari majalah satu ke majalah yang lain semakin berkurang yang
menyampaikan perasaan pembaca seusai membaca tulisanku. Hingga tak ada satu
pun.</p>



<p>&nbsp;Kurasa, dia bener aku
sekarang bukan api dengan sifat panas. Aku melewatkan aku yang sebenarnya dalam
tulisanku. Aku terlalu terbuai dengan keangkuhan. Aku lupa satu hal.</p>



<p>“Samuel, aku menunggu tulisanmu. Besok aku tak tahu akan tersenyum
atau menangis.”</p>



<p>Samar-samar terniang suara lembut dia. Kucondongkan kepala memandang
langit. Besok aku akan menjadi api lagi.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com/cerpen-kau-api-bukanlah-air/">CERPEN: Kau Api Bukanlah Air</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com">KLC</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://krishnalearningcenter.com/cerpen-kau-api-bukanlah-air/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2867</post-id>	</item>
		<item>
		<title>C E R P E N &#124; Kutukan atau Perisai Magic</title>
		<link>https://krishnalearningcenter.com/cerpen-kutukan-atau-perisai-magic/</link>
					<comments>https://krishnalearningcenter.com/cerpen-kutukan-atau-perisai-magic/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Diah Wulan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 May 2017 05:49:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[bali]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kutukan]]></category>
		<category><![CDATA[perisai magic]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://krishnalearningcenter.com/?p=681</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kutukan atau Perisai Magic? &#8211; Tik, tok, tik, tok. Kira-kira begitu bunyi jarum arloji yang berbentuk bulat dengan lambang huruf “ D” dan “G” yang setengah menyatu. Kupandang arloji berwarna hitam untuk yang ke lima kali. Keterlaluan, operator belum menyuarakan tanda-tanda pesawat akan lepas landas. Sudah sembilan puluh menit dari jam penerbangan seharusnya. Pernah kubaca &#8230; </p>
<p class="link-more"><a href="https://krishnalearningcenter.com/cerpen-kutukan-atau-perisai-magic/" class="more-link">Lanjutkan membaca<span class="screen-reader-text"> "C E R P E N &#124; Kutukan atau Perisai Magic"</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com/cerpen-kutukan-atau-perisai-magic/">C E R P E N | Kutukan atau Perisai Magic</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com">KLC</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kutukan atau Perisai Magic?</strong> &#8211; Tik, tok, tik, tok. Kira-kira begitu bunyi jarum arloji yang berbentuk bulat dengan lambang huruf “ D” dan “G” yang setengah menyatu. Kupandang arloji berwarna hitam untuk yang ke lima kali. Keterlaluan, operator belum menyuarakan tanda-tanda pesawat akan lepas landas. Sudah sembilan puluh menit dari jam penerbangan seharusnya. Pernah kubaca di sebuah surat kabar dengan nama sebuah alat penunjuk arah, jika terjadi keterlambatan 30-60 menit, maka maskapai wajib menyediakan minuman dan makanan ringan. Selain itu, maskapai wajib memindahkan penumpang ke penerbangan berikutnya atau ke maskapai lainnya, jika diminta oleh penumpang. Haruskah aku meminta sekarang?</p>
<p><span id="more-681"></span></p>
<h2>Waktu adalah menunggu</h2>
<p>Dalam benakku, pasti maskapi penerbangan yang kupilih tidak mengunakan motto “ waktu adalah uang”, melainkan diubah dengan motto “waktu adalah menunggu”. Kupandang sekeliling ruang tunggu, kujumpai wajah lelah, wajah dengan tanda tanya dan wajah mengantuk, 75 % mendominasi. Sisanya ialah wajah acuh tak acuh dan wajah datar. Hampir aku lupa, minoritas wajah ceria pun ada, diwakilkan oleh pasangan yang tak segan-segan bermesraan di tempat umum.</p>
<p>“Sruppp,” kembali kuteguk kopi yang tak lagi hangat, pendingin ruangan memberi andil. Harap dicatat, kopi  ini murni dari danaku, bukan kompensasi yang diberikan maskapi penerbangan. Kedua tanganku menarik selimut tipis bermotif simbol tim sepak bola yang terkenal dengan julukan setan merah agar menutupi kaki. Kuciptakan energi kinetik dengan mengosok-gosokan tangan kanan dan kiri. Cukup hangat, hingga kedua pipiku pun ikut merasakan, setelah kutempelkan kedua tangan pada pipi. Cara kuno yang pernah kulihat di film barat yang aku lupa judulnya apa.</p>
<p>Akhirnya, pengeras suara di Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara membuat tubuhku beranjak dan segera menuju gate nomer enam yang akan mengantarku ke Pulau Dewata. Seratus menit lagi aku akan melihat senja yang indah di pantai Jimbaran sambari menikmati sate lilit dan pelecing. Hal ini ialah prioritas pertama. Selanjutnya, belum terpikirkan. Dalam penerbangan, mungkin aku akan memikirkannya.</p>
<h2>Doa perempuan dengan rambut sepundak</h2>
<p>“ Tuhan, sertailah penerbangan hambamu. Berikanlah kesehatan jasmani dan rohani pilot yang membawa pesawat ini. Iringi setiap detik dari penerbangan ini dengan kasihmu sehingga pesawat ini sampai tujuan dengan selamat. Terimakasih Tuhan. Amin.” Perempuan sebelah kiriku tampak tak sadar telah mengaktifkan layanan loudspeaker. Bahkan di ujung tempat duduk pertama pesawat,  sepertinya bisa mendengar doa perempuan dengan rambut sepundak.</p>
<p>Perempuan berambut sepundak tampak dengan seksama membaca doa penerbangan. Bisa kutebak, ini kali pertama penerbangannya. Terlihat dari gesturenya, bibir bawah berulang kali digigit perempuan berambut sepundak, tangan kanan mengetuk batas tempat duduk dengan irama ireguler dan yang lebih kentara dia memegang pelampung lebih erat daripada tasnya.</p>
<p>“Ya Tuhan….,” jerit perempuan berambut sepundak memegang erat lengan kiriku saat pesawat mulai lepas landas. Wajahnya dibenamkan di balik punggungku, terlihat seperti dia mau merangkulku. Jika ini dilihat Rani, aku yakin hal yang lebih menyeramkan daripada perang dunia bisa terjadi. Terkadang gender pilih kasih dengan kaum pria. Saat pria tampak cemburu dengan wanita yang merupakan pasangannya, maka para wanita akan bilang kalau kita manis dan imut. Namun, disaat wanita tampak cemburu dengan kekasihnya, untuk membayangkannya saja membuat bulu kudukku berdiri.</p>
<h2>Cengkraman perempuan phobia naik pesawat</h2>
<p>“Maaf, mbak. Tangan mbak..,” rintihku. Baru kali ini aku tidak senang dipegang perempuan. Tak lain, tak bukan karena cengkraman perempuan phobia naik pesawat ini benar-benar menyakitkan. Aku mencoba melepaskan pegangannya, astaga wanita ini pasti atlet angkat besi. Cengkaramanya bak <em>lem sakti</em>, tetap menempel di lenganku. Dia memperlakukan tanganku layaknya besi yang tak bisa remuk atau dia lupa kalau tanganku hanyalah sekumpulan jaringan hidup lengkap dengan syaraf yang peka terhadap nyeri.</p>
<p>“Tenang mbak, tenang mbak. Kita akan mendarat di pulau Bali. Tak akan pernah ada pesawat yang jatuh di Bali,” ucapku sambari memegang pundaknya. Semoga kata-kataku dapat menyakinkannya. Cengkraman dia melemah, tapi belum lepas dan mulai menatapku. Aku menghela nafas, kurasa aku harus menyakinkan dia kembali dengan kata-kata yang bisa berfungsi sebagai <em>obat diazepam</em> untuknya.</p>
<h2><em>Perisai magic</em> dari para Dewa</h2>
<p>“Pulau Bali terkenal dengan pulau seribu pura. Masyarakat Bali selalu melakukan upacara kepada para Dewa di setiap nadi kehidupan mereka. Sehingga <em>perisai magic</em> dari para Dewa selalu melindungi pulau tersebut, “ lanjutku. Entah darimana kata-kata ini aku sadur, yang jelas jika memang benar ada <em>perisai magic</em>, tidak akan ada bom yang meledak di sana. Bahkan bom itu meledak sampai dua kali.</p>
<p>“Ada masalah? “ tanya seorang pramugari menghampiri tempat duduk kami. Aku menarik tanganku dari pundak dia. Perempuan itu juga merubah posisinya lalu menunduk mengambil pelampung yang terjatuh dan yang paling penting, akhirnya dia melepaskan genggaman yang menyakitkan itu.</p>
<p>“Tidak ada masalah, hanya dia tampak sedikit ketakutan dengan penerbangan pertamanya. Semua terkendali.”</p>
<p>“Terimakasih atas perhatiannya,” kata-kata yang seharusnya kulontarkan tapi didahului perempuan ini. Tak hanya atlet angkat besi, kurasa dia juga seorang artis. Perempuan ini sekarang tersenyum lebar kepada pramugari, sungguh berbanding terbalik dengan eskspresi kepanikan dan ketakutannya sepuluh menit yang lalu.</p>
<p>Masih dengan mimik heran, kupandang perempuan itu. Lagi-lagi senyum yang kuterima darinya. Samar antara senyum berlagak tak terjadi apa-apa atau senyum puas telah berhasil mempermainkanku. Mungkin dia gila dan aku bisa ikut gila jika kuladeni lagi tingkah abnormalnya. Tak akan kuperpanjang masalah ini, lebih baik sekarang aku memejamkan mata. Perempuan gila ini akan menghilang saat kubuka mata, pikirku.</p>
<h2>Kamu bisa memanggilku Maya</h2>
<p>“<em>Perisai magic</em>, aku juga pernah mendengarnya,” suara perempuan gila yang berupaya mengagalkan tidur indahku. Tekadku sudah bulat, aku tidak akan menghiraukanya,</p>
<p>“Dulu kakekku pernah bercerita, Bali memiliki kekuatan yang semua orang tahu tetapi pura-pura tidak tahu. Kata kakek, mereka takut membayangkan kekuatan itu, jadi akan lebih mudah untuk pura-pura tidak tahu,” lanjutnya. Dia sudah pasti gila sekarang.</p>
<p>“Ayolah, jangan pura-pura tidur. Aku tahu, kamu masih penasaran padaku,” kata perempuan dengan rambut sepundak mengoyang-goyangkan tubuhku.</p>
<p>“Apa yang kau mau dariku? Kalau kau ingin mengodaku, sebaiknya buang jauh-jauh pikiranmu itu. Aku sudah memiliki tunangan.” Tawa lepas dari perempuan dengan rambut  sepundak mengalir deras. Aku juga cukup geli untuk mengumbar pernyataan barusan.</p>
<p>“ Kamu bisa memanggilku Maya, “ dia mengulurkan tangan.</p>
<p>“Aku tidak sedang untuk mengodamu, aku hanya butuh teman untuk mengobrol. Perjalanan udara ini membuatku sedikit tegang,” Maya menarik tangannya kembali. Tampaknya dia sadar kalau aku tidak tertarik untuk berjabat tangan dengannya.</p>
<p>“Terima kasih.”</p>
<p>“Terima kasih untuk apa?” tanyaku, tak ada salahnya untuk mengobrol sejenak.</p>
<p>“Terima kasih sudah berusaha menenangkanku.” Andai dia tahu, aku tidak sebaik yang dia pikirkan. Aku hanya tak ingin lenganku memar karena ulahnya.</p>
<p>“Hmmm, kamu pasti berasal dari Bali. Bukankah orang Bali memiliki nama depan yang khas? Bagaimana denganmu?”</p>
<h2>Apakah kau seorang peramal</h2>
<p>“Ya, kamu bisa memanggilku Wayan. Apakah kau seorang peramal atau asal tebak saja, sampai bisa yakin kalau aku orang Bali?”</p>
<p>Maya tersenyum lagi, “ Jelas terdengar dari dialekmu, Wayan.”</p>
<p>Aku tertawa kecil, aku hampir lupa kalau dialekku masih kental. Di kampus teman-teman selalu menanti kapan aku yang akan membawakan presentasi tugas kelompok. Mereka senang mendengar dialek Baliku, apalagi saat aku mengucapkan “T”, seisi kelas akan tersenyum. Dulu aku merasa dialek bukanlah hal yang lucu, baru aku sadari setelah aku mendengar dialek orang Madura atau pun orang Timur. Terkadang hal yang lucu datang karena hal itu sedikit berbeda dari keseharian yang kita lakoni. Perbedaan memberi nuansa sendiri dalam hidup. Jika semua perbedaan diterima lucu dan menghibur, mungkin perang suku, perang agama, perang golongan dan perang-perang lainnya tak akan terjadi.</p>
<p>“Kau tahu Wayan, ini pertama kali aku naik pesawat dan aku ingin membuktikan suatu hal. “  Aku berhenti meneguk air mineralku, memandangnya dengan kening berkerut.</p>
<p>“ Saat umurku enam tahun, saat itu aku pertama kali dibonceng sepeda motor oleh kakakku. Musibah terjadi, kami terjatuh karena berusaha menghindari anak kecil yang menyebrang. Aku selamat tapi kakakku mengalami perdarahan di otak kata dokter. Belum sempat dia ditangani tim medis, dia sudah menghembuskan nafas terakhir di ambulance.”</p>
<h2>Mereka mengutukku sebagai pembawa sial</h2>
<p>“Tidak berhenti di sana. Genap saat umurku 10 tahun. Kecelakaan kembali terjadi. Saat itu pertama kali aku naik mobil untuk piknik bersama ayah dan ibuku. Hanya aku yang selamat.”  Suaranya sedikit bergetar, kurasa dia tak lagi membual. Mata sendunya, terlihat jelas. Apa bisa saja aku salah, Maya adalah aktris yang handal. Sudah dibuktikannya tadi.</p>
<p>“Orang-orang bilang aku beruntung. Sampai saat kecelakan itu terjadi lagi, mereka mengutukku sebagai pembawa sial.”</p>
<p>“Mungkin itu hanya sebuah kebetulan. Banyak kebetulan yang terjadi di dunia ini,” hiburku, aku memang belum tahu saat ini Maya membual atau tidak. Aku hanya menuruti kata hati untuk sedikit menghiburnya.</p>
<p>“Kecelakan ketiga, terjadi saat umurku 18 tahun. Itu pertama kali aku naik bus karyawisata sekolah. Dari 15 penumpang, hanya aku yang selamat. Bisakah kau menyebutnya sebagai kebetulan, Wayan?”</p>
<h2>Aku mengaruk-garuk kepala.</h2>
<p>Kenapa aku dihadapkan ke situasi yang belum bisa aku cerna dan mestikah kutanggapi pertanyaan retorik Maya. Aku bukanlah orang yang percaya dengan semacam kutukan. Bagiku kehidupan selalu ada karena sebab dan akibat. Selalu ada reaksi dari setiap aksi, begitu yang kupelajari.</p>
<p>“Lalu apa yang ingin kau buktikan, Maya?”</p>
<p>“Jangan bilang, kamu naik pesawat ini hanya ingin membuktikan apakah pesawat ini akan jatuh atau tidak?”</p>
<p>“Menurutmu?” Maya malah balik bertanya padaku. Percakapan terhenti sejenak, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Kutepis pikiran jauh-jauh kalau pesawat ini akan jatuh. Sangat dangkal, jika aku langsung percaya dengan cerita bahwa Maya mempunyai kutukan. Tak mungkin, setiap perjalanan pertamanya akan mendatangkan korban jiwa. Maya hanya manusia yang sama denganku. Punya organ tubuh yang sama denganku, kecuali kelamin tentu saja.</p>
<p>“Maya, kurasa kau terpengaruh dengan film-film fiksi yang dalam adegannya dipertontonkan tentang kutukan. Atau semacam itulah. “</p>
<p>“Oooo ya, aku ingat sekarang. Pasti kau pengemar film sejenis <em>Final Destination</em>? Rupanya kau orang yang mudah terpengaruh oleh film.” Tawaku berusaha menyembunyikan perasaan ngeri yang sebenarnya. Ada kalanya, manusia akan menyembunyikan rasa takutnya dengan mencari pembenaran yang rasional. Setiap orang pernah mengalami.</p>
<p>“<em>Final Destination</em>, “ ucap Maya sambil menengadahkan kepala kearah langit-langit.</p>
<p>“Apa itu kelanjutan dari <em>Twilight Saga</em>?” tanya Maya, yang membuatku ingin membenturkan kepala.</p>
<p>“Sudahlah, kita lihat saja apa yang akan terjadi. Pesawat ini tak akan jatuh di pulau Bali.”</p>
<p>“Aku yakin itu.” Mantap sekali, deklarasiku barusan. Kuharap Maya tidak lagi melanjutkan cerita yang sebenarnya membuat bulu kudukku berdiri.</p>
<p>“Seberapa yakinkah, kamu? Wayan?” tantang Maya membungkamkanku lama. Sekarang kulihat api di matanya yang kuduga tak ada di mataku. Api yang menunjukakan seberapa yakinnya Maya tentang kutukan yang ada didalam dirinya.</p>
<p><strong>Cerpen keren lainnya :</strong> <a href="https://krishnalearningcenter.com/cerpen-untuk-siapa-mawar-putih/">Untuk Siapa Mawar Putih?</a></p>
<h2>Hiruk pikuk teriakan penumpang</h2>
<p>Speaker aktif, pilot pesawat ini mengumumkan lima belas menit lagi pesawat akan mendarat. Embel-embel ketinggian, letak geografis, iklim, larangan untuk tetap menonaktifkan telepon suleler serta anjuran mengunakan sabuk pengaman tak ketinggalan. Lega rasanya, mengetahui pesawat ini akan mendarat.</p>
<p>“Bisa kau dengar, Maya?” ucapaku dengan penuh kemenangan. Belum sempat Maya menjawab, terjadi guncangan yang begitu keras. Barang-barang di jok atas berjatuhan, lampu-lampu pesawat padam. Hiruk pikuk teriakan penumpang, mendengungkan gendang telingaku. Disusul guncangan yang kedua, yang sepuluh kali lipat lebih keras. Samar-samar kulihat retakan di lantai pesawat yang kupijak. Kemudian muncul air mengenangi. Pesawat terbelah, aku bisa melihat air dari retakan lantai pesawat.</p>
<p>“Lepas sabuk pengamanmu Wayan,” teriak Maya menyadarkanku. Maya menyodorkan pelampung padaku, nyeri di tulang punggung tak kuhiraukan. Aku dan Maya berusaha keluar dari pesawat ini.</p>
<p>Aku kehilangan Maya, orang-orang di pesawat berebut menuju pintu darurat. Aku berhasil keluar, dengan kemampuan renangku aku berusaha menuju pesisir pantai.  Mungkin 500 meter jarak bangkai pesawat dengan pesisir pantai.</p>
<h2>Dua hari kemudian.</h2>
<p>Kutaruh surat kabar di meja bundar di depan teras rumah. Tak ada korban jiwa dari pesawat yang kutumpangi dua hari yang lalu. Padahal pesawat itu terbelah menjadi dua. Belum diketahui penyebab pasti kenapa pesawat bisa jatuh. Aku lega, Maya selamat dari musibah itu. Kendatipun aku tak berhasil menemukannya setelah tim evakuasi mengumpulkan penumpang-penumpang. Sampai detik ini, aku tidak tahu apakah kutukan yang dikatakan Maya benar atau tidak. Aku masih ragu, apakah periai magickah yang menyelamatkan semua penumpang. Yang pasti kalau pendapatku salah, pesawat bisa jatuh di pulau Bali, tanah kelahiran yang sangat kucintai. Tapi aku tetap yakin, selalu ada sebab akibat dari setiap peristiwa dan Tuhanlah yang tetap sebagai yang Maha tahu.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com/cerpen-kutukan-atau-perisai-magic/">C E R P E N | Kutukan atau Perisai Magic</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com">KLC</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://krishnalearningcenter.com/cerpen-kutukan-atau-perisai-magic/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">681</post-id>	</item>
		<item>
		<title>CERPEN &#124; Untuk Siapa Mawar Putih?</title>
		<link>https://krishnalearningcenter.com/cerpen-untuk-siapa-mawar-putih/</link>
					<comments>https://krishnalearningcenter.com/cerpen-untuk-siapa-mawar-putih/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Diah Wulan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 May 2017 08:08:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[mawar putih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://krishnalearningcenter.com/?p=576</guid>

					<description><![CDATA[<p>CERPEN &#124; Untuk Siapa Mawar Putih? &#8211; Kepalan tangan ini semakin mengeras, andai ada batu bata sudah kubelah menjadi dua. Pertanyaannya sekarang, apakah asuransi menanggung biaya pengobatan jika aku melakukan tindakan pamer kekuatan ini. Pihak kedua sebagai korban sudah jelas tidak akan menuntut ganti rugi. Pernahkah batu bata menuntut ganti rugi? Terniang-niang di cawan memori, &#8230; </p>
<p class="link-more"><a href="https://krishnalearningcenter.com/cerpen-untuk-siapa-mawar-putih/" class="more-link">Lanjutkan membaca<span class="screen-reader-text"> "CERPEN &#124; Untuk Siapa Mawar Putih?"</span></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com/cerpen-untuk-siapa-mawar-putih/">CERPEN | Untuk Siapa Mawar Putih?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com">KLC</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="https://krishnalearningcenter.com/?s=cerpen">CERPEN</a> | Untuk Siapa Mawar Putih?</strong> &#8211; Kepalan tangan ini semakin mengeras, andai ada batu bata sudah kubelah menjadi dua. Pertanyaannya sekarang, apakah asuransi menanggung biaya pengobatan jika aku melakukan tindakan pamer kekuatan ini. Pihak kedua sebagai korban sudah jelas tidak akan menuntut ganti rugi. Pernahkah batu bata menuntut ganti rugi?</p>
<p><span id="more-576"></span></p>
<p>Terniang-niang di cawan memori, saat kugenggam mawar putih ini. Demi setangkai mawar putih, dua lembar kertas yang selalu diperebutkan manusia zaman sekarang berpindah kepunyaan. Demi setangkai mawar putih, aku harus ketinggalan bus. Tawar-menawar membuatku lengah dengan kehadiran waktu. Tak hanya tawar-menawar, saat kini usiaku memasuki kepala dua, kehadiran waktu selalu tidak bisa kupungkiri. Sebagai manusia penjelajah waktu, aku selalu terlambat menyadari kehadiran waktu dan yang tersisa tinggal penyesalan kepada waktu. Setidaknya aku masih menyesal kepada waktu selagi jantungku berdenyut hingga nanti aku mungkin bisa tersenyum dengan kehadiran waktu.</p>
<h2>Apakah sebaiknya aku bersahabat dengan kehadiran waktu mulai dari sekarang?</h2>
<p><em>“Bolehkan kuminta bunga itu, Paman? “</em> seorang gadis berambut panjang yang dikepang dua lengkap dengan manik-manik strawberry menatapku berbinar-binar. Mirip Shinchan saat meminta boneka pahlawan bertopeng kepada mamanya.  Suara nyaring memecah lamunanku terhadap kehadiran waktu dan melemahkan kepalan tangan.</p>
<p><em>“Jika aku memberikannya, kemudian kepada siapa adik berikan?”</em> Aku balik bertanya, kuharap dia tidak menjawab akan memberikan pada pacarnya. Jika iya, akan kutuntut media elektronik yang merangsang percepatan psikis anak-anak. Masa kanak-kanak menurutku adalah masa bermain, sayang media-media sering mengekspos percintaan di kalangan anak-anak. Suatu saat ada masanya itu, masa yang tepat dengan orang yang tepat menghasilkan faedah yang tepat. Aku baru saja merumuskan teori baru.</p>
<p><em>“Ibu, tentu saja ibu.”</em> Mantap sekali anak yang mungkin usia lima atau enam tahun menjawabku. Namun stimulus untuk merespon jawaban agak melambat sampai ke cawan memoriku. Terhalang pengalaman masa lalu. Kata “ibu”, selalu melambatkan segala aspek kehidupanku. Tidak ada yang salah dengan kata sakti ini, hanya saja kata sakti ini selalu membuatku tertegun beberapa menit.</p>
<p><em>“Paman, Paman”</em> panggil gadis kecil seraya menarik tanganku.</p>
<p>Masih tertegun, hanya cawan memoriku sudah memberi perintah kepada syaraf sensoris untuk memandang mata jernih gadis mungil. Sungguh mata yang begitu cantik.</p>
<p>“<em>Boleh untukku ya Paman, ibu pasti senang. Ibu suka, suka, suka sekali mawar putih.</em>”</p>
<h2>Mawar putih ini, haruskan kuberikan pada anak kecil ini?</h2>
<p>Aku sudah melewatkan jam kerja, melewatkan bubur kacang hijau yang selalu menjadi sarapan pagi dan sekarang terdampar di taman kota demi mawar putih. Tapi mawar putih ini juga yang mengeraskan kepalan tanganku. Marah karena tak bisa kuberikan mawar putih ini kepadanya. Setidaknya bagi anak kecil ini, mawar putih bisa menciptakan senyum di wajah dua orang. Jika mawar putih ini tetap di gengamanku, hanya bisa mengeraskan kepalan tangan.</p>
<p>“<em>Makasih Paman,</em> “ gadis kecil mencium pipi kiriku spontan. Tak sia-sia, kuberikan mawar putih, ciuman gadis kecil dengan mata yang begitu cantik ialah imbalan yang setimpal. Kupandangi langkah-langkah riang anak kecil itu. Langkah yang ringan kurasa. Seringan kapas, yang siap terbang mengikuti arah angin. Sangat berbeda dengan langkah beratku. Pernah saking beratnya langkahku, kugunakan tangan untuk mengerakkan langkah.</p>
<p>Sial, perutku sudah menghantarkan impuls untuk segera diisi. Enam puluh menit sudah terlewati dari waktu sarapan, tapi aku masih enggan mengubah posisi dari kursi bundar yang terletak di pojok taman kota. Begitu enggan, tetap terpekur menatap awan. Begitu enggan, melaksanankan runitas sehari-hari. Teriakan bos jika aku terlihat lambat, omelan costumer jika aku tidak memberikan kepuasaan pelayanan dan keluhan otot-otot tangan dan kakiku yang seharian harus berdiri dan membawa tumpukan piring.</p>
<p><em>“Permisi, Mas,”</em> suara wanita sepayuh baya sambari memegang sapu. Mengayunkan sapu ke kiri dan ke kanan. Mengumpulkan daun-daun kering, plastik dan botol-botol kosong.</p>
<p><em>“Sendiri saja, Mas?”</em> Pertanyaan untukku, ya siapa lagi masak pohon cemara yang di belakang kursi tempat duduk.</p>
<p><em>“Ya Bu. Ibu mau menemani saya memang? “</em> candaku. Kebiasaan lama, jika ada yang bertanya kepadaku, maka aku akan balik bertanya<em>. Feed back</em> yang cukup bagus, bukan.</p>
<h2>Wanita separuh baya menanggapi tawaranku.</h2>
<p>Dia duduk di sampingku. Samar-samar antara dia menerima tawaranku atau dia lelah dan ingin bersandar sebentar. Terang saja, aku berlari mengitari taman kota satu putaran saja, sudah bercucuran keringat. Sedangkan wanita separuh baya setiap hari membersihkan taman kota, seorang diri. Pantas wanita separuh baya tampak kurus. Sekali lagi kuakui keperkasaan seorang wanita.</p>
<p><em>“Sendirian aja, Mas? Lagi menunggu orang ya?”</em> Lebih dulu, wanita separuh baya memecah keheningan.</p>
<p><em>“Ya kan sekarang sudah sama Ibu,”</em> gurauku.</p>
<p>“<em>Walah Mas ini, senang bercanda. Tak kira Mas’e nunggu pacarnya. Tadi sempat tak lihat bawa bunga segala. Lah sekarang bunganya dimana Mas?</em>” Wanita separuh baya ini bisa jadi observer yang baik, kalau di luar negeri sana bisa jadi paparazzi.</p>
<p>“<em>Wahh ibu perhatian juga sama saya.</em>”</p>
<p>“<em>Bukan gitu Mas, soalnya <span style="color: #008000;">Sampean</span> yang pertama datang di taman kota setelah saya. Orang penglihatan saya masih bagus, ya saya bisa liat <span style="color: #008000;">Sampean</span>?</em>”</p>
<p>“<em>Pagi tadi, masih saya lihat <span style="color: #008000;">Sampean</span> bawa bunga,</em>” lanjut wanita separuh baya meyakinkan kalau dia tidak sedang menguntitku, melainkan secara tidak sengaja memperhatikan kehadiranku. Mungkin, bagi wanita separuh baya penampakanku di pagi hari membawa bunga dan sekarang tidak lagi membawa bunga adalah suatu yang tak lazim. Bisa-bisa dia menerka, kalau wanita yang ingin aku temui hari ini tidak jadi datang, sehingga aku dirundung kesedihan. Fatalnya, bisa saja aku sedang terpuruk di taman kota. Sehingga wanita paruh baya bersimpati dan ingin menghiburku. Sungguh pikiranku sekarang sedang dirasuki drama televisi.</p>
<p>“<em>Bunganya sudah saya berikan kepada anak kecil, Ibu.</em>”</p>
<p>“<em>Ooo,</em>”gumannya.</p>
<h2>Raut wajahnya masih ingin bertanya lagi, tapi dipendam.</h2>
<p>“<em>Saya tidak tahu dimana orang yang ingin saya berikan bunga itu</em>.”</p>
<p>“<em>Lahh, alamatnya Mas nggak punya? Kan sekarang bisa diantar ya Mas,</em>” saran wanita separuh baya.</p>
<p>“<em>Saya tidak tahu alamatnya, saya tidak punya nomer yang bisa dihubungi dan saya tidak tahu dimana saya harus mencarinya.</em>” Ekspresi wanita separuh terbaya terperangah mendengar jawabanku.</p>
<p>“<em>Lho, ngapaen Mas beli bunga kalo gitu?</em>”</p>
<h2>Aku kembali tertegun, aku membeli bunga agar kenangan tentang sosok wanita itu kembali.</h2>
<p>Sosok wanita yang sangat aku rindukan kehadirannya. Sosok wanita yang akan mendatangkan kedamaian di cawan memori. Menghangatkan tubuh dengan pelukannya. Mengusir ketakutanku saat gelap merabunkan penglihatan. Bak cahaya, dia akan selalu menuntun sehingga aku tidak akan tersandung dan jatuh.</p>
<p>“<em>Maaf sebelumnya Mas, wajah Mas tampak tak asing. Sepertinya saya pernah melihat Mas sebelumnya, tapi saya lupa</em>.”</p>
<p>“<em>Yaa bu, dari lima tahun yang lalu, ditanggal dan bulan yang sama saya selalu mengunjungi taman kota ini setiap tahunnya.</em>”</p>
<p>“<em>Oooo pantesan dari pertama saya melihat <span style="color: #008000;">Sampean</span>, kayaknya saya pernah liat <span style="color: #008000;">Sampean</span></em>.”</p>
<p>“<em>Yang membedakan tahun ini, saya tidak kembali ke rumah dengan membawa bunga lagi dan keesokan hari bunga itu akan layu begitu saja, Bu.</em>”</p>
<p>“<em>Wahhhh, sudah lima tahun dan Mas belum bisa memberikannya</em>,” wanita separuh baya mengeleng-gelengkan kepala.</p>
<p>“<em>Ya sudah Mas, mungkin nggak jodoh. Mas usaha lagi cari wanita yang baru saja, saya punya anak tapi masih lima tahun usianya. Kalo Mas mau nungguin anak gadis saya besar, ya <span style="color: #008000;">ora opo-opo</span> Mas, hehehe,</em> ” kelakar wanita separuh baya berusaha menghiburku. Kuhargai usahanya dengan ikut tersenyum.</p>
<p>“<em>Ibu salah kaprah. Bunga itu bukan untuk orang yang saya ingin jadikan pacar atau istri.</em>”</p>
<h2>Untuk siapa ?</h2>
<p>“<em>Lalu untuk siapa</em>?” rasa tahu wanita separuh baya merambat.</p>
<p>“<em>Untuk ibu saya,</em>” jawabku pendek dan lirih. Raut wajah wanita separuh baya kembali terkejut.</p>
<p>“<em>Maaf Mas, kalau saya boleh tahu ibu Mas memang dimana sekarang?</em>” suara wanita separuh baya berhati-hati, nadanya mengisyaratkan jika dia berusaha menjaga perasaanku. Aku menangadahkan kepala ke langit seraya menjawab.</p>
<p>“<em>Lima tahun yang lalu ibu saya pergi bekerja ke Arab Saudi. Selang empat belas bulan kemudian, ibu dikabarkan melarikan diri dari rumah majikannya. Majikannya di sana juga bilang kalau ibu mengambil beberapa perhiasaan lalu kabur. Sejak saat itu, tak ada lagi kabar tentang ibu.</em> “ wanita separuh baya tidak bertanya lagi, melainkan menemaniku dalam keheningan untuk beberapa menit.</p>
<h2>Jelas terekam dalam cawan memori, saat aku mengantarkan kepergian ibu.</h2>
<p>Mataku tak lepas menatap punggung ibu yang semakin menghilang. Sebelum kepergian ibu, aku sempat bernegosiasi dengannya. Aku akan bekerja dan tidak melanjutkan sekolah mengah atas, asal ibu tetap di rumah. Asal ibu yang tetap membuatkan sarapanku, asal tetap ibu yang memukul kepalaku jika aku ketahuan merokok, asal tetap ibu yang panik saat tahu kalau aku demam. Asal tetap ibu, yang rela sehariaan terjaga menunggui aku yang sedang demam, asal tetap ibu, yang mengomel jika tidak aku habiskan makanan buatannya dan asal tetap ibu, yang tengah malam membenarkan letak selimutku sehingga aku tetap hangat.</p>
<p>“<em>Tak hanya Arab Saudi, bahkan jika itu neraka pun ibu akan tetap ke sana. Ibu tak ingin kamu tidak sekolah. Ibu ingin kamu jadi orang pintar, Nak. Orang yang berguna dan tidak dipandang sebelah mata.</em> “  Perkataan ibu tempo itu, mengagalkan negosiasiku dengannya.</p>
<p>“<em>Hari ini adalah ulang tahunnya dan ibu suka sekali dengan mawar putih</em>,” ucapku mencairkan dinding es yang melapisi percakapan kami yang sempat terhenti. Sebelum kepergian ibu, di hari ini ibu selalu mengajaku ke taman ini. Dia akan membelikan aku gulali dan tersenyum saat gulali itu belepotan di bibirku. Aku baru mengetahui kalau hari ini ulang tahun beliau tatkala melihat paspor satu hari sebelum kepergiannya. Ironis, disaat ulang tahun ibu harusnya aku yang memberi hadiah, malah aku yang dibelikan gulali. Salah satu kelalaianku terhadap waktu, dan tak mungkin aku minta kehadiran waktu saat itu diulang lagi.</p>
<p>“<em>Ibu, ibu, ibu</em> “ panggil gadis kecil menyerahkan mawar putih dan “<em>Selamat ulang tahun ibu,</em> “lanjut gadis kecil sambil bernyanyi lagu “ <em>happy birthday</em> “, ya lah masak lagu “ naik-naik ke puncak gunung .“</p>
<h2>Wanita separuh baya tersenyum lebar, memeluk dan mengecup kening gadis kecil.</h2>
<p>“ <em>Terimakasih sayang,</em> “wanita separuh baya mengenggam mawar putih.</p>
<p>“<em>Ibu, ibu aku minta bunga itu dari Paman itu,</em>” tunjuk gadis kecil dengan tangan kanannya. Telunjuk kanannya pas menunjuk ke arahku. Mata yang begitu cantik, dan aku melihat binar mata cantik yang melonggarkan kepenatanku. Memberi aku ruang untuk sejenak merasakan kehadiran sosok ibu.</p>
<p>“<em>Terimakasih Nak,</em>“ ucap wanita separuh baya menatapku dan melanjutkan perkataan.</p>
<p>“<em>Terimakasih mawar putihnya. Mas, kalau pun ibu Mas ada di sini, beliau pasti mengucapkan kata yang sama.</em>”</p>
<p>Mataku tak lepas dari pandangan wanita separuh baya yang mengandeng tangan gadis kecil. Sama seperti lima tahun yang lalu, terus memandang sampai sosok itu menghilang. Hanya bedanya, sekarang cawan memoriku tentang ibu sudah memiliki banyak warna. Dulu hanya satu, hitam. Sekarang beranekaragam warna cerah memenuhi cawan memori. Kasih ibu sudah menghangatkan persendian, mencairkan kristal-kristal yang dulu merobek lapisan demi lapisan sendi. Aku beranjak dan mengayunkan langkah seringan langkah gadis kecil tadi. Kali ini lebih ringan dari kapas, udara. Ringan tak terhingga yang menghantarkanku untuk berusaha mengikuti jejak ibu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>Catatan :</h2>
<p><a href="http://kbbi.web.id/sampean" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Sampean</a> : Kamu ( bahasa jawa halus)</p>
<p>Ora opo-opo : Tidak apa-apa ( bahasa jawa)</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com/cerpen-untuk-siapa-mawar-putih/">CERPEN | Untuk Siapa Mawar Putih?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://krishnalearningcenter.com">KLC</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://krishnalearningcenter.com/cerpen-untuk-siapa-mawar-putih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">576</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/

Object Caching 47/85 objects using memcached
Page Caching using disk: enhanced 
Database Caching using redis

Served from: krishnalearningcenter.com @ 2026-10-06 23:50:54 by W3 Total Cache
-->