Pacaran? Bolehkah Saya Pacaran?- “Kajian dari Persfektif Hindu”

Telah dibaca 661 kali

Pacaran adalah sebuah istilah yang menyatakan adanya hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan. Pacaran muncul sebagai sebuah ikatan atau status yang mengikat antara pihak laki-laki dan pihak perempuan. Fenomena pacaran berkembang pesat seiring dengan berkembangnya paradigma berpikir remaja bahwa pacaran itu menyenangkan, membuat bahagia, bisa bikin senyum-senyum sendiri, dunia serasa milik berdua dan lain sebagainya. Begitu indah dan mengasyikkan terasa pacaran itu.

Kadangkala banyak remaja yang bingung, apakah boleh atau tidak pacaran itu? Kebingungan ini pun serasa semakin menjadi-jadi ketika terdapat remaja yang dilarang pacaran oleh kedua orang tuanya. Kenapa dilarang? Orang tua melarang anaknya untuk pacaran itu tentunya ada alasan, diantaranya takut anaknya terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif seperti pergaulan bebas, kenakalan remaja dan fenomena sex bebas. Ketakutan orang tua sangatlah wajar karena masa remaja adalah masa-masa yang masih belum stabil dan belum bisa bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Begitulah orang tua, sangat sayang dengan kita. Nah untuk kali ini penulis ingin membahas mengenai fenomena pacaran yang dikaji menurut perspektif Hindu. Penting untuk diingat bahwa pembahasan tentang pacaran ini bukanlah mengajarkan tentang kita harus berpacaran, tapi pembahasan ini ditujukan untuk menambah wawasan remaja terutama remaja Hindu dalam memandang fenomena pacaran itu dengan lebih baik. [Baca juga: pacaran butuh “Kimia”]. Bebicara masalah pacaran pertanyaan pertama yang muncul adalah:

Kenapa timbul keinginan berpacaran?

Manusia secara kodrati memiliki sebuah keinginan untuk mencintai dan dicintai. Hindu mengajarkan bahwa dalam kehidupan manusia akan melewati 4 fase atau tahapan perkembangan kehidupan yang dikenal dengan istilah Catur Asrama, yang meliputi Brahmacari (masa menuntut ilmu), Grahasta (masa membina rumah tangga), Wanaprasta (masa menua) dan Biksuka (kembali ke asal mula). Perkembangan kehidupan ini dapat kita sederhanakan menjadi masa anak-anak, remaja, dewasa, masa tua, dan akhirnya kembali ke Sang Pencipta. Terus kapan muncul pacaran? Pada masa remaja, manusia telah mulai mengalami beberapa perubahan baik fisik dan mental. Perubahan atau perkembangan yang paling mendasar terjadi pada masa remaja adalah pada nafsu atau keinginan (kama). Apa itu kama? Kama adalah nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan dan kesejahteraan hidup.

Kenapa manusia butuh kepuasan? Dalam Hindu manusia terlahir dengan memiliki 10 indria, yaitu: (1) Srotendriya: keinginan untuk mendengar; 2) Tvagendriya: keinginan untuk merasakan sentuhan; (3) Caksvindriya: keinginan untuk melihat; 4) Jihvendriya: keinginan untuk mengecap; (5) Granendriya: keinginan untuk mencium; (6) Vagindriya: keinginan untuk berkata; (7) Panindriya: keinginan untuk memegang sesuatu; (8) Padendriya; keinginan untuk bergerak, berjalan: (9) Payuindriya: keinginan untuk membuang kotoran; (10) Upasthendriya: keinginan untuk kenikmatan dengan kelamin. Kama dan kesepuluh indria ini yang menjadi dasar mengapa timbul rasa sayang terhadap orang lain, rasa tertarik dengan orang lain dan membutuhkan perhatian orang lain. Secara singkat inilah dasar timbulnya keinginan untuk berpacaran.

Kalau kama (nafsu) yang menjadi dasar keinginan untuk pacaran, Apakah Pacaran Hanya Melibatkan Nafsu (Birahi) saja?

Kama memiliki makna yang luas, yang mana kata kama berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti keinginan, cinta, kasih, sayang, kesenangan dari indria; air mani; nama dewa cinta (dalam tulisan bapak Suteja). Cinta? Muncul kata cinta dalam makna kama, nah perlu kiranya kita berpikir untuk membedakan apakah itu cinta dan apakah itu nafsu birahi. Birahi adalah simtom atau gejala yang ditandai dengan mulai berfungsinya hormon yang berkaitan dengan seks yang bersumber dari bagian otak yang disebut dengan limbic. Sedangkan cinta berasal dari sumber yang berbeda yaitu dari dada, dari sekitar jantung. Di sana ada sumber energi pembangkit rasa disebut Anahatta Chakra. Kama atau nafsu mempunyai sifat menuntut. Sedangkan cinta sudah bisa memberi dan menerima. Sebenarnya antara cinta dan birahi merupakan dua hal yang berjalan beriringan, cinta akan selalu tumbuh sampai akhir tapi birahi akan berangsur-angsur hilang seiring berjalannya waktu bertambahnya usia. Dari sini kita bisa mengatakan bahwa pacaran yang baik adalah pacaran yang melibatkan cinta bukan semata-mata nafsu belaka.

Apakah Tujuan Pacaran?

Dalam kitab suci Ṛegveda X.27.12, dinyatakan:

“Kiyāti yoṣa maryanto vadhuyoḥ, Pariprita panyasa varyena, Bhadra vadhur bhavāti yat supeṣaḥ, Svayam sa mitraṁ vanute jane cit”

“Terdapat banyak yang tertarik oleh kebaikan yang unggul (pria) dari beberapa orang yang hendak mengawini mereka. Seorang gadis menjadi kekasih yang beruntung yang memilih seorang teman (pria) bagi dirinya  di antara para peminang”.

Apa yang kita bisa maknai dari Regveda tersebut? Dari pernyataan yang diungkapkan Regveda tersebut bisa kita maknai bahwa pacaran merupakan proses kehidupan yang memang dilewati oleh manusia untuk menemukan seseorang yang tepat mendampingi untuk menjalani kehidupan pada masa Grahasta. Masa pacaran merupakan masa yang akan dialami ketika masa transisi dari masa Brahmacari menuju masa Grahasta. Tidak bisa kita pungkiri bahwa tidak ada perkawinan yang sukses tanpa melewati proses berpacaran terlebih dahulu.

Jadi itulah uraian secara singkat tentang bagaimana pacaran itu kalau kita pandang dari perspektif Hindu. Ingatlah! Pacaran tidak pernah dilarang, tapi pacaran punya etika, pacaran punya batasan dan pacaran punya masanya. Pacaran akan indah apabila dijalani dengan kasih sayang, cinta, perasaan nyaman, saling menerima dan memberi, dan yang paling penting dijalani dengan segala kesiapan memikul tanggung jawab. Jalankanlah semuanya dengan penuh tanggung jawab sesuai kodrat, dan jangan lupa;

“Vayasaḥ karmano’rthasya śṛutasyabhijanasya ca, vesavag buddhi sārupyaṁ ācāran vicarediha”

Hendaknya ia berjalan di dunia fana ini menyesuaikan pakaiannya, kata-kata, dan pikirannya agar ia sesuai dengan umum, kedudukan, kekayaan, pelajaran sucinya, dan juga kebangsaannya. (Gautama Smṛti, IV 18).

Bahan Bacaan:

Trend “Gaul (Pacaran)” Generasi Muda Hindu

Cinta dan Pergaulan Remaja

 

The following two tabs change content below.

Januariawan I Wayan

Tentor Kimia di Bimbel Krishna Learning Center

Latest posts by Januariawan I Wayan (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.