Metode Drill dalam Matematika sudah kuno? Harus di tinggalkan?

Telah dibaca 402 kali

Mendengar istilah Drill, apa hal pertama yang muncul dalam pikiran kalian? Iya, pasti hal mengenai latihan terus menerus, diulang – ulang, sampai bosan, sampai terbiasa. Namun dari metode drill itu kita diharapkan menjadi terbiasa dan mahir akan apa yg dilatih terus menerus secara berulang – ulang tersebut.

Metode Drill

Dari definisi metode mengajar, maka metode drill adalah suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari. Untuk meyakinkan definisi tersebut, dalam buku Nana Sudjana, metode drill adalah satu kegiatan melakukan hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu ketrampilan agar menjadi bersifat permanen. Ciri yang khas dari metode ini adalah kegiatan berupa pengulangan yang berkali-kali dari suatu hal yang sama. Baiklah, mari kita langsung ke topik.

Apakah metode drill itu benar – benar sudah kuno (tidak cocok diterapkan pada zaman sekarang)?

Dilema ini penulis alami saat menyusun proposal Skripsi di bangku kuliah dulu. Saat itu penulis mengambil ide mengenai pembuatan media pembelajaran berbasis game edukasi. Jadi sederhananya penulis ingin mengkolaborasikan antara media tersebut dengan metode drill. Kenapa penulis memilih metode tersebut? Karena dari kajian yang penulis peroleh, karakteristik game memang berisi drill atau practice didalamnya. Jadi sederhananya terdapat proses mengulang terus menerus sampai kriteria yang ditentukan tercapai. Bagi kalian seorang gamer, pasti setuju tentang pernyataan penulis tersebut kan?

Namun dalam jalannya bimbingan, ternyata ide penulis tersebut kurang bisa diterima oleh dosen pembimbing. Karena tidak dapat dipungkiri, praktisi – praktisi yang memegang tegus prinsip pendidikan progresif, metode drill ini kurang cocok diterapkan pada zaman sekarang ini. Dimana dalam pendidikan sekarang, pembelajaran konstruktivisme dengan metode – metode penemuan, pemecahan masalah masih menjadi ratu dalam dunia pendidikan saat ini.

Memang harus diakui metode drill dalam pembelajaran ini memiliki banyak kekurangan dalam penerapannya, antara lain:

  1. Bisa menghambat perkembangan daya inisiatif siswa.
  2. Kurang memperhatikan relevansinya dengan lingkungan.
  3. Membentuk kebiasaan-kebiasaan yang otomatis dan kaku.
  4. Latihan yang dilakukan di bawah pengawasan yang ketat, tekanan yang lebih berat dan suasana serius mudah sekali menimbulkan kebosanan.

Namun dibalik kekurangan yang dimiliki oleh metode tersebut. Pertanyaan penting dari penulis muncul setelah ini. Dalam matematika, tentunya kita mengenal perkalian. Nah disinilah muncul dilema penulis sebagai prakisi pendidik matematika. Adakah metode yang lebih efektif dibanding latihan berulang terus menerus untuk menghafal perkalian ini?

Realita di Lapangan

Oke sebelumnya kita sepakat, diawal haruslah menjelaskan konsep perkalian tersebut kepada siswa. 5 x 7 berarti 7 dijumlahkan sebanyak 5 kali. Setelah siswa memahami konsep tersebut, apakah mungkin di jenjang tingkat selanjutnya siswa masih menghitung perkalian dengan melakukan penjumlahan berulang? Dalam ujian yang diburu oleh waktu, tentunya hal tersebut mustahil. Mereka harus secepat kilat menghitung perkalian, iya solusinya memang harus hafal. Dalam sepersekian detik, harus muncul angka hasil perkalian dari pikirannya. Hafal hafal hafal, tidak ada solusi lain. Maka dari itu, untuk menghafalkan perkalian tersebut, tentu metode drill ini kembali di panggil. Iya kan?

metode drill

Inilah permasalahan kebanyaan anak – anak kita saat ini, mungkin karena tidak ditekankan untuk menghafalkan perkaliaan sejak dini, adik – adik kita dijenjang SMP masih banyak yang kelabaan dalam menjawab cepat perkalian. Jangankan anak SMP, dalam banyak kasus yang penulis temui, anak SMA masih banyak yang tidak hafal perkalian.

Jika diperhatikan sekilas contoh kasus di dunia bahasa, tentunya menghafal banyak kosa kata / vocabulary juga memerlukan latihan sejenis seperti halnya menghafal perkalian. Banyak trik – trik yang bisa dilakukan untuk mengetahui dan menghafal berbagai macam kosa kata bahasa inggris. Dimana hampir semua trik – trik tersebut tidak lepas dari proses mengulang – mengulang – dan mengulang terus. Iya, drill lagi.

Pertanyaan selanjutnya. Bagaimana agar proses mengulang – ulang tersebut menjadi menarik dan tidak membosankan?

Solusi yang ditawarkan

Nah menanggapi masalah klasik itulah, bimbingan belajar Krishna Learning Center hadir dengan program yang dapat melatih keterampilan hitung dasar siswa semenjak dini. Skill Count merupakan program melatih siswa di jenjang SD untuk dapat menguasai keterampilan hitung dasar dengan menggunakan metode drill yang tidak monoton dan membosankan. Bahasa Inggris pun juga hadir dengan program English Skill. Agar tidak penasaran, untuk detail programnya bisa kalian lihat disini.

Jadi dapat penulis simpulkan bahwa tidak ada metode yang paling ampuh untuk menangani berbagai macam permasalahan pembelajaran secara umum. Tergantung pada situasi dan kebutuhan saja. Setujukah dengan pendapat penulis ini? Kalau memiliki pandangan yang berbeda, silahkan tinggalkan pendapat di kolom komentar. Diskusi akan menjadikan pengetahuan kita lebih berkembang dan berpikir terbuka.

Jika tujuannya untuk melatih keterampilan, cukup diperlukan ketekunan, kerja keras, dan pantang menyerah

The following two tabs change content below.

Bagus Perdana

Seorang yang berusaha menuangkan idenya lewat tulisan yang sederhana dan bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.