“Cetik Bukan Sihir”- Hati-Hati Cetik (Racun) Disekitar Kita

Telah dibaca 1.191 kali

Di Bali, fenomena cetik (racun)  tidak bisa dipungkiri lagi. Banyak kasus orang meninggal di Bali seringkali dikaitkan dengan aktivitas nyetik (meracuni). Wow seram bukan? Istilah cetik sudah ada sejak zaman dahulu kala yang mana istilah ini juga sangat berhubungan dengan orang-orang yang memiliki kekuatan supranatural (sejenis paranormal, dukun dan balian).

Kenapa bisa? Karena orang yang memiliki kemampuan sebagai balian (dukun) dipercaya memiliki kemampuan untuk membuat berbagai jenis racun atau cetik. Nah, kali ini kita akan membahas mengenai cetik. Kok bahas cetik? Memang dukun bahas-bahas begituan? Bahas tentang cetik bukan berarti kita dukun atau mau belajar nyetik tapi kita bisa belajar kenapa cetik itu berbahaya dan bagaimana cetik dijelaskan secara ilmiah (Cetik bukan Sihir). Untuk membahas itu, pertama kita harus tahu bahwa

Sebenarnya  Apa Sih Cetik (Racun) itu?

Cetik sebenarnya sama dengan racun, kenapa? Karena pada dasarnya cetik adalah ramuan yang dapat menyebabkan orang meninggal dunia baik itu secara perlahan maupun secara cepat. Ramuan cetik biasa dibuat dari bahan-bahan tertentu yang ditambahkan dengan mantra di dalamnya. Mantra? Mantra apa? Sayangnya penulis juga tidak tahu mantra apa itu. Terus kalau dipikir-pikir cetik itu bisa membunuh karena apa ya?

Apakah Karena Mantra Atau Karena Bahan-Bahan Ramuannya?  

Dalam berbagai sumber sastra yang juga diungkapkan dalam  suluh bali beberapa jenis cetik yang paling populer dikenal di masyarakat adalah jenis Cetik Kerikan Gangsa, Cetik Geringsing dan Cetik Cerongcong Polo. Gimana? Pernahkah kalian mendengar nama-nama cetik tersebut? Dari namanya seram apalagi bahayanya. Nah disini kita akan mulai mengkupas sebenarnya apa yang menyebabkan cetik-cetik tersebut berbahaya, apakah karena mantra atau bahan ramuan? dan apakah mungkin ada yang lebih berbahaya daripada itu disekitar kita? Mari kita mulai mengkupasnya.

Cetik Kerikan Gangsa

Cetik ini merupkan cetik yang dibuat dengan bahan dasar serpihan tembaga yang diambil dari sebuah lempengan gong gangsa (alat musik tradisional Bali) yang kemudian dicampurkan dengan medang-medang (kalau di biologi biasa disebut trikomata) pohon bambu. Kenapa bisa cetik ini berbahaya? Nah, secara ilmiah, sebenarnya tembaga memanglah jenis logam berat yang berbahaya. Tembaga adalah logam yang bersifat toksik yang apabila jumlahnya besar di dalam tubuh manusia dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti sakit perut, mual, muntah,  diare, dan gangguan pada peredaran darah, serta beberapa kasus yang parah dapat menyebabkan gagal ginjal dan kematian. Dahsyat bukan tembaga itu (Cetik Kerikan Gangsa)?

Tapi apakah ada logam lain selain temBaGa yang berbahaya?

Jawabanya ada. Malah logam ini ada disekitar kita, penasaran? Logam berat tersebut adalah timbal (Pb). Logam timbal dapat menyebabkan keracunan akut berupa mual, muntah, sakit perut hebat, kelainan fungsi otak, anemi berat, kerusakan ginjal bahkan kematian dapat terjadi dalam 1-2 hari (Santi, 2011). Dimana dapat menemukan timbal? Jangan berpikir jauh, logam timbal juga ternyata banyak dihasilkan dari bahan bakar kendaraan bermotor. Jadi, kalau kita pikir-pikir cetik timbal (Racun) lebih sering kita jumpai dari pada  cetik  Kerikan Gangsa.  (Hati-hati cetik disekitar kita)

Cetik Geringsing

Cetik Geringsing merupakan cetik yang terbuat dari jenis yuyu (kepiting) geringsing yang memiliki ciri bertubuh merah. Jenis cetik ini berbahaya karena dapat menyerang organ lambung sehingga korbannya akan berakibat pada muntah-muntah, sampai dengan muntah darah. Kepiting bisa jadi Cetik? Pasti pernah makan kepiting kan? Secara ilmiah, yuyu atau kepiting  memang memiliki sisi “gelap”, maksudnya beracun. Beberapa jenis racun yang telah diketahui terkandung dalam tubuh kepiting adalah domoic acid, okadaic acid, palytoxin, tetrodotoxin, saxitoxin, neosaxitoxin, surugatoxin, brevetoxin, nereistoxin, dan gonyautoxin. Selain palytoxin, semua racun tersebut termasuk dalam kelompok neurotoxin, yaitu racun yang beraksi terhadap sel saraf, dan biasanya berinteraksi terhadap protein membran. [Baca juga: beberapa spesies kepiting beracun].

Kalian tahu tidak? 

Sebenarnya selain kepiting ada lagi makanan yang mengandung cetik (racun) dan malah sangat dekat dengan kehidupan kita. Diantaranya adalah: (1) kacang merah mengandung racun Fitohemaglutinin yang dapat menyebabkan mual, muntah, nyeri perut dan diare; (2) Singkong, rebung dan biji buah-buahan mengandung glikosida sianogenik yang dapat menyebabkan penyempitan saluran nafas, mual, muntah, dan sakit kepala; (3) Kentang dan tomat hijau mengandung glikoalkaloid yang dapat menyebabkan rasa terbakar pada mulut, sakit perut, mual dan muntah; (4) Seledri mengandung racun kumarin yang dapat menyebabkan sakit perut dan nyeri pada kulit ketika terkena matahari; dan (5) Bayam mengandung asam oksalat yang dapat menyebabkan mual, muntah, kram, dan sakit kepala.

Sebagai informasi tambahan, kalian pasti tahu tentang kasus pembunuhan mirna kan? Pembunuhan yang melibatkan racun sianida, yang untuk kalian ketahui bahwa racun yang ada dalam singkong (apabila singkong tidak dimasak dengan benar) akan menghasilkan racun sianida juga (dikenal dengan hidrogen sianida). Begitulah ternyata, Hati-hati cetik disekitar kita.

Cetik Ceroncong Polo

Informasi mengenai ramuan cetik ceroncong polo tidak begitu banyak, hanya dikatakan bahwa cetik ini dapat menyerang dan merusak kerja otak kita. Dari pernyataan ini, penulis berasumsi bahwa cetik ceroncong polo di ramu dengan melibatkan bahan yang bersifat karsinogenik, apa itu? Karsinogenik adalah zat yang dapat menyebabkan atau memicu terjadinya kanker (terutama kanker otak).  Contoh zat karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker seperti Hidrokarbon Polisiklik Aromatik (HPA) yang terdapat dalam asam rokok dan Amin aromatik dan pewarna azo (Amino Azo Dyes) yang terdapat pada limbah pewarna industri tekstil. [Baca juga: penyebab kanker disekitar kita] 

Demikianlah informasi mengenai seluk beluk Cetik dan segala bahaya yang dikulik secara ilmiah, mudah-mudahan ini semua dapat berguna untuk menambah wawasan ilmiah kita terkait segala bahaya bahan-bahan alam yang ada disekitar kita. Melalui tulisan ini, besar harapan penulis bahwa pembaca bisa lebih bijak memaknai segala peristiwa yang terjadi di kehidupan kita sebagai sebuah perkembangan paradigma berpikir yang menuju ke logis dan ilmiah tanpa menghilangkan tradisi dan budaya yang menjadi warisan leluhur kita. Untuk terakhir mari kita ingat kata Andrea hirata (Penulis Novel Laskar Pelangi) bahwa:

Cinta adalah racun yang manis tapi penuh tipu muslihat

Sumber bacaan:

Tulisan Sentra Informasi Keracunan Nasional BPOM

Santi, Devi Nuraini. (2001). Pencemaran Udara Oleh Timbal (Pb) Serta Penanggulangannya. Diakses dari situs http://library.usu.ac.id

The following two tabs change content below.

Januariawan I Wayan

Tentor Kimia di Bimbel Krishna Learning Center

Latest posts by Januariawan I Wayan (see all)

3 Balasan untuk ““Cetik Bukan Sihir”- Hati-Hati Cetik (Racun) Disekitar Kita”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.