Telah dibaca beberapa kali
Ada peribahasa mengatakan “ Tuntutlah ilmu setinggi langit ” saat mendengar peribahasa ini, hal yang terlintas dipikiran adalah bersekolah hingga perguruan tinggi. Namun apa semua orang tua bisa menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi?
Mungkinkah semua kalangan menutut ilmu setinggi langit ?
Di jaman ini, kuliah bukan hanya gaya hidup namun kebutuhan. Tak heran jika banyak orang tua berlomba-lomba ingin memasukkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Jika dulu yang bisa masuk perguruan tinggi hanya anak dari kalangan orang berada. Kini orang tua berpenghasilan sedang bahkan kecilpun bisa memasukkan anak-anaknya ke perguruan tinggi. Wayan Wirasa salah satunya, ayahnya adalah seorang buruh banguanan dan ibunya adalah pengerajin bambu. Pemuda cerdas asal Desa Kayubihi, Bangli ini awalnya sempat pesimis untuk masuk perguruan tinggi karena keadaan ekonomi yang tidak memumpuni. “Dulu waktu SMA rasanya gak berniat lanjut sekolah. Jangankan di luar Bali begini, di Bali pun rasanya nggak bisa karena orang tua nggak bisa bantu, kasian juga kalo maksain”, tuturnya.
Jadi dengan bantuan apa?
Namun dengan usaha dan kerja kerasnya ia berhasil masuk perguruan tinggi impiannya dengan bantuan dana pendidikan Bidik Misi. “Awalnya sempat ragu, terutama orang tua karena nggak percaya ada beasiswa yang mau menanggung biaya pendidikan sampai biaya hidup…”, kenangnya. Akan tetapi dengan tekadnya ia beranikan diri mendaftar masuk perguruan tinggi dan akhirnya diterima sebagai mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) tahun 2014. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan sebuah laptop dari kampus atas usahanya mendapatkan salah satu ranking Indeks Prestasi Komulatif (IPK) teratas pada semester I (satu).
Dengan adanya beasiswa ini, ia tidak perlu pusing memikirkan biaya pendidikan karena sudah sepenuhnya ditanggung pemerintah dan kampusnya. Selain itu, ia juga mengaku sangat terbantu dengan beasiswa ini. Terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti membayar kontrakan, listrik, air dan makan jika ada sisa. “Ya bisa dibilang saya sangat bergantung dengan beasiswa ini, walaupun secara itung-itungan buat kebutuhan aja kurang”, ungkapnya. Maklum saja, hidup di tanah rantau, uang saku 600 ribu rupiah per bulan dari pemerintah sangatlah berarti apalagi saat uang saku dari rumah sudah mulai menipis. Tetapi tak dapat dipungkiri, uang saku yang harusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, pernah ia gunakan untuk membeli sebuah gadget pada awal semesternya.
Usaha tidak pernah mengkhianati hasil
Kini mahasiswa semester VI (enam) ini masih berjuang menempuh program sarjananya agar selesai tepat waktu, pasalnya beasiswa ini hanya membiayai kandidatnya dalam VIII (delapan) semester saja. Ditanya tentang keoptimisannya dalam menjalani studi di ITS, ia menyerahkan semua pada usahanya, “Jalan pasti ada, kalau ada usaha…”, ungkapnya optimis. (And)
Andraeni Putri
Latest posts by Andraeni Putri (see all)
- Apa arti garis tangan mu? - 2 April 2018
- Sebuah Trend Akronim Baru di Sosial Media #PAP, BAE, QOTD - 12 Mei 2017
- Anak buruh juga bisa menuntut ilmu setinggi langit - 22 April 2017
