Telah dibaca beberapa kali
Hey sobat krishna learning. Bertemu kembali dengan saya, pada tulisan kali ini saya akan membahas dasar digital video editing. Pada tulisan saya sebelumnya, saya telah sharing beberapa hal yang perlu kalian miliki untuk menjadi seorang photographer professional dengan hanya memerlukan keahlian yang kalian miliki. Kali ini saya akan membahas dasar video editing. So langsung saja. Eitss sebelum lanjut jangan lupa mengunjungi artikel – artikel kami lainnya
Dasar Digital Video Editing
Perkembang teknologi multimedia khususnya yang berkaitan dengan audio dan video sangat pesat. Khususnya untuk proses editing audio dan video yang dahulu hanya dapat dilakukan secara analog, yaitu penyuntingan dilakukan dengan menggunakan 1 player video dan 1 recorder video. Cara ini hanya mengizinkan transisi cut to cut.
A/B Roll editing atau Linier Editing
Selanjutnya, muncul penyuntingan dengan 2 player dan 1 recorder yang dilengkapi mixer. Teknik penyuntingan ini menyediakan transisi dissolve, wipe, dan beberapa pola. Teknologi ini disebut A/B Roll editing atau bisa disebut Linier Editing. Karena sifatnya yang linier, jika terjadi perubahan atau revisi di bagian depan ataupun tengah maka seluruh rangkaian di belakangnya harus diulang kembali. Hal ini memakan waktu yang cukup lama dan tidak efisien.
Metode Non Linier Editing (NLE)
Hadirnya teknologi digital video editing mampu menjawab persoalan yang ada di linier editing. Teknologi digital memungkinkan adanya pengerjaan tidak secara berurutan seperti di linier editing, tetapi berdasarkan sekuensi, bisa sekuensi akhir dulu, tengah, dilanjutkan depan atau sebaliknya. Intinya pengerjaan tidak harus berurutan. Karena sifatnya yang tidak berurutan (non linier), metode ini disebut Non Linier Editing (NLE).

Dengan metode NLE file-file audio video di-capture dan disimpan terlebih dahulu dalam hard disk untuk kemudian diimpor. Satu file klip hasil pengimporan, baik berupa audio maupun video dapat dipakai berulang kali dan dapat dipindahkan secara cepat dengan drag dan drop. Untuk memberi transisi dan efek untuk audio maupun video dapat dilakukan secara real time. Hal ini membutuhkan perangkat komputer yang memadai, baik berupa prosesor (CPU), RAM (Random Acces Memory), dan juga kecepatan hard disk agar efisien waktu.
Istilah dalam proses editing video
Sebelum saya lanjut mengenai aplikasi digital yang akan saya jelaskan dikesempatan berikutnya, mari simak beberapa penjelasan dari istilah-istilah yang akan kalian temukan diproses editing video, apa saja? Simak penjelasan berikut :
Aspect Ratio
Aspect ratio adalah rasio perbandingan antara lebar dan tinggi dari sebuah frame. Untuk ukuran standar adalah 4:3 dan untuk film bioskop menggunakan 16:9. Beberapa format video menggunakan aspect ratio yang berbeda-beda.
Resolusi dan Drame Size
Frame size adalah ukuran lebar dan tinggi frame video dengan menggunakan satuan piksel, misal 720 x 576 piksel.
Dalam dunia digital video frame size disebut juga resolusi. Semakin tinggi resolusi gambar, semakin besar informasi yang dimuat. Hal ini juga berarti semakin besar pula kapasitas filenya dan membutuhkan memori yang besar untuk membaca informasi tersebut.
Bit Depth
Bit depth adalah unit terkecil untuk penyiimpanan suatu informasi. Bit depth menyatakan banyaknya bit yang tersimpan untuk mendeskripsikan warna suatu piksel. Sebuah gambar yang memiliki 8 bit per piksel dapat menampilkan 256 warna (28), sedangkan gambar dengan 24 bit dapat menampilkan warna sebanyak 16 juta warna (224).
Komputer menggunakan 24 bit RGB (Red, Green, Blue), sedangkan sinyal video (TV) menggunakan standar 16 bit YUV (luminance dan chrominance) sehingga memiliki jangkauan warna terbatas. Untuk itu, Anda perlu berhati-hati jika membuat video untuk ditayangkan ke televisi karena standarnya tidak sama.
Bit Rate
Bit rate sering disebut data rate. Bit rate menentukan jumlah data yang ditampilkan saat video di-playback. Data rate ini berkaitan erat dengan pemakaian dan pemilihan Codec (Compressor Decompressor). Beberapa Codec menghendaki data rate tertentu, misal MPEG-2 yang digunakan untuk DVD menggunakan data rate maksimal 9,8 Mbps, sedangkan VCD menggunakan data rate 1,15 Mbps.
Digital Video
Video merupakan gabungan gambar-gambar mati yang dibaca berurutan dalam suatu waktu dengan kecepatan tertentu. Gambar-gambar yang digabung tersebut dinamakan frame dan kecepatan pembacaan gambar disebut frame rate (fps)
Karena dimainkan dalam kecepatan tinggi maka tercipta ilusi gerakan yang halus. Semakin besar nilai frame rate, semakin halus pergerakan yang ditampilkan.
Demikianlah penjelasan yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Mudah-mudahan dengan membaca artikel ini wawasan anda berkembang dan pengetahuan kalian bertambah. Untuk menambah wawasan lebih lanjut lagi terus ikuti artikel saya pada postingan di website Krishna Learning Center.
You Never Fail, Until You Stop Trying
Agus Fadli
Latest posts by Agus Fadli (see all)
- Dasar Digital Video Editing : Be Millenials Creative - 22 Februari 2019
- Ingin Jadi Fotografer? Butuh Lebih Pengetahuan tentang Kamera! - 12 Januari 2019
