Dilema Guru dalam Dunia Pendidikan Dewasa ini

Telah dibaca 219 kali

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang memiliki visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Kualitas manusia yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia pada masa yang akan datang adalah yang mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan bangsa lain di dunia. Kualitas manusia Indonesia tersebut dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. # Dilema Guru

Peran Pendidikan

Terkait dengan itu, pendidikan mesti dapat menjawab tantangan tersebut. Dengan kata lain, pendidikan harus menyediakan kesempatan bagi setiap peserta didik untuk memperoleh bekal pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai sebagai bekal mereka memasuki persaingan dunia yang kian hari semakin ketat itu. Di samping kesempatan yang seluas-luasnya disediakan, namun yang penting juga adalah memberikan pendidikan yang bermakna (meaningful learning). Karena, hanya dengan pendidikan yang bermakna peserta didik dapat dibekali keterampilan hidup, sedangkan pendidikan yang tidak bermakna (meaningless learning) hanya akan menjadi beban hidup. Kehidupan ke depan adalah sangat berat, penuh tantangan dan kompetitif. Untuk itu perlu penataan kehidupan dalam berbagai hal termasuk aspek pendidikan.

Sentuhan pendidikan mutlak perlu adanya, karena pendidikan adalah merupakan suatu proses pemanusiaan manusia. Sehingga pendidikan merupakan wahana transpormasi budaya. Pendidikan itu sendiri adalah budaya intingeble,merupakan social culture, dan juga merupakan dan mendukung culture system. Sehingga kemajuan peradaban suatu masyarakat dapat diukur dari tinggi rendahnya kualitas lembaga-lembaga pendidikannya. Dalam kaitannya dengan itu dunia pendidikan kita dituntut berperan sebagai agen pembentuk peradaban bangsa,  dituntut untuk dapat membentuk nilai-nilai modern yang tetap bercirikan Indonesia dengan berbagai kearifan lokalnya.

Pendidikan Moral dan etika

Untuk itulah pengaruh pendidikan moral dan etika (yang dapat diberikan secara terintegrasi maupun berdiri sendiri di pendidikan formal), dan di pendidikan informal maupun secara nonformal dimasyarakat adalah dominan kepada peserta didik, dan pelaksanaannya juga akan makin sulit. Seperti sering disaksikan sebagai tontonan oleh masyarakat luas dengan penuh keprihatinan merosotnya moral dan etika dipanggung politik dan ekonomi. Dengan luas dan terbukanya arus informasi melalui berbagai media baik tulis maupun elektronika. Kegiatan para elit di panggung politik dan ekonomi memiliki pengaruh yang besar pada pendidikan moral dan etika yang merupakan unsur penting dalam pendidikan karakter generasi penerus. Martin Luther King Jr, mengatakan “Intelligence plus character, that is the true goal of education”.

Dalam hubungan dengan pendidikan karakter ini,  William J. Bennett (Ed., 1997) dalam bukunya berjudul: ”The Book of Virtues: A Treasury of Great Moral Stories mengemukakan bahwa dalam pendidikan moral, pendidik perlu mengajarkan tentang nilai-nilai moral seperti: rasa hormat kepada orang tua dan guru, jujur, terbuka, toleransi, adil, religius, bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negara, serta memiliki rasa kasih sayang dan cinta terhadap Tuhan, masyarakat, dan lingkungan.

Peran dan Dilema Guru

Maka dari itu diperlukan pendidik (guru) yang berkemampuan mempersonafikasikan nilai-nilai etik kemanusiaan. Meskipun tidak berarti bahwa seorang pendidik adalah seorang malaikat, namun dinamika kehidupannya menunjukkan wajah ketulusan untuk membantu peserta didik.

Namun di tengah harapan akan tujuan pendidikan di negeri ini semakin terjal, hal ini tentu dapat diasumsikan bahwa tantang tersebut semakin sulit. Bila kita mengkaji lebih lanjut pengaruh perkembangan dunia yang begitu pesat dengan teknologi yang semakin canggih mengharuskan dunia pendidikan kita untuk berkembang, tentu inovasi dalam pendidikan diperlukan. Selain itu permasalah serius yang dihadapi oleh dunia pendidikan kita adalah para guru yang memilih menjadi pendidik tidak dihargai di negeri ini. Di negeri yang katanya alokasi pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD guru belum mampu mensejahterakan profesinya. Lebih miris lagi guru yang memiliki tugas mendidik malah mendapat tindakan kekerasan oleh anak didiknya maupun orang tua siswa. Baru – baru ini masih teringat di benak kita seorang guru di bunuh oleh siswanya sendiri hal ini menunjukkan gagalnya dunia pendidikan kita.

Belum lagi tugas-tugas yang dimiliki oleh guru sebagai manusia biasa yang harus menjadi teladan bagi keluarganya di rumah. Guru yang harus mampu memenuhi kebutuhan keluarganya di rumah. Guru harus mengerjakan tugas-tugas adminstrasi di sekolah, harus mendidik siswanya di sekolah. Dengan banyaknya tugas yang dimiliki oleh guru tidak sebanding dengan upah yang meraka dapatkan. Bisa dibayangkan bagaimana jika guru tersebut masih berstatus honorer. Upah yang didapat hanya sekitaran 400-500 ribu rupiah tidak cukup untuk memenuhi kebutahan hidupnya.

Namun kebanggaan sebagai guru bukan pada jumlah uang yang mereka dapat. Tetapi melihat negeri ini menjadi bangsa yang cerdas dengan jiwa sosial serta berwawasan global dengan berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Guru harus menjadi model yang bisa ditiru, dan masyarakat juga harus memberikan dorongan bagi munculnya perilaku disiplin pada anak-anak.

Solusi

Dalam kaitan dengan pembentukan disiplin diri, para pendidik/guru dapat melakukan hal-hal berikut:

  1. para guru harus menggunakan teknik-teknik disiplin yang dapat mendorong tanggung jawab personal,
  2. para guru sedapat mungkin harus menghindari penggunaan hukuman,
  3. para guru harus menyadari kualitas perhatian terhadap peserta didik dan bekerja untuk menciptakan hubungan-hubungan yang baik dengan peserta didik, dan
  4. para guru dan para administrator harus menciptakan hubungan yang kuat dengan orang tua peserta didik.
The following two tabs change content below.

Kusuma Mira

Tentor IPS di Bimbel Krishna Learning Center

Latest posts by Kusuma Mira (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.