Kondisi Bahasa Indonesia di tengah Pandemi Covid-19

Telah dibaca 46 kali

Hallo sahabat KLC.  Sudah ada yang rindu mengenakan seragam? Atau justru sudah rindu belajar Bahasa Indonesia yang biasanya identik dengan deretan paragraf dan segala macam jenis teks. Masih perlukah kita “di rumah saja”, belajar di rumah, beribadah di rumah?” Dalam hati pasti sudah bergejolak untuk bebas merasakan new normal. Eh, ngomong-ngomong kalian menyadari tidak, semenjak ada corona, ada banyak sekali istilah, singkatan, akronim yang bermunculan? Kalian hafal tidak? Jangan-jangan malah tidak tahu. Nah, kali ini kita bahas sedikit yuks.

Mulai dulu dari singkatan yuks.

Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri dari satu huruf atau lebih (wikipedia). Sejak kemunculan virus corona, ada banyak singkatan yang wajib kita kenal. APD (Alat Pelindung Diri), ODP (Orang Dalam Pantauan) , OTG (Orang Tanpa Gejala), PDP (Pasien Dalam Perawatan), PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) , WFH (Work From Home), SARS-coV-2 (severe acute respiratory syndrome coronavirus 2), CSG (Coronavirus Study Group), KLB (Kejadian Luar Biasa), Fasyankes (Fasilitas pelayanan kesehatan), dan Covid 19 merupakan singkatan dari Corona Virus Disease 2019.

Bahasa indonesia

Sesuai Pedoman Umum Pembentukan Ejaan Bahasa Indonesia (PUEPBI), singkatan yang dibentuk telah mengacu pada salah satu aturan pembentukan singkatan yakni singkatan yakni singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Khusus pada singkatan Fasyakes bukan disebut singkatan melainkan akronim. Tergolong ke dalam akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil. Jadi, singkatan dan akronim itu berbeda ya sobat.

Lalu, bagaimana dengan penulisannya yang benar?

Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Untuk penulisan singkatan jenis lainnya, silakan unduh Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) bisa diakses secara daring ataupun diunduh dalam bentuk PDF. Sedangkan pedoman penulisan akronim bukan nama diri yang beruba gabungan huruf awal ditulis dengan huruf kecil semua. Khusus pada akronim dan singkatan dalam bentuk bahasa Inggris atau bahasa asing tidak tercantum dalam PUEPBI. Namun, secara aturan penulisan serapan (baik utuh maupun sebagian) ditulis secara miring atau diberi garis bawah.

Selanjutnya, selain virus yang dapat berkembang, istilah pun turut menyertai perkembangannya. Sebelumnya, kita kenali dulu, apa itu istilah. Makna kata istilah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah  kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Ada juga mengistilahkan yang bermakna menyebutkan, peristilahan bermakna proses, dan pengistilahan bermakna proses, cara, perbuatan mengistilahkan. Nah, yang dimunculkan oleh Si Corona ini ada apa aja sih?

Pandemi, epidemi, isolasi (bukan isolir),  karantina (bukan karangtina).

Istilah itu yang mondar mandir selama kurang lebih 4 bulan ini kan? Kalian tidak usah bingung apalagi panik dengan istilah tersebut. Semuanya adalah bahasa indonesia baku. Bukan bahasa asing atau bahasa yang baru muncul gara-gara corona. Pandemi merupakan bentuk nomina yang bermakna wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas.

Epidemi artinya penyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah yang luas dan menimbulkan banyak korban, misalnya penyakit yang tidak secara tetap berjangkit di daerah itu atau sejenis dengan wabah. Isolasi merupakan bentuk nomina yang memiliki beberapa makna; pemisahan, penyekatan, keadaan, dan tindakan.  Dengan mengetahui makna istilah kita akan semakin bijak dalam berpikir, berkata, dan berbuat apalagi dalam menyikapi perkembangan dunia yang serba digital.

Setelah mengenal singkatan, akronim, dan istilah yang muncul selama pandemi Covid 19 ini, apa pendapat kalian?

Bangga bukan? Eksistensi penggunaan dan kaidah Bahasa Indonesia semakin dipertunjukkan bukan diperhatikan saja. Jadi, masyarakat yang sebelumnya awam dengan istilah baku menjadi terpaksa untuk memahami. Jadi, bukan bahasa gaul saja yang terus mencekoki pikiran kita. Bukan berarti juga kita bersyukur dengan adanya corona bisa lebih mencintai bahasa Indonesia. Namun, apapun peristiwa yang terjadi kita wajib mengenal hikmah di baliknya. Semoga selalu sehat dan berbahagia.

Nah untuk menambah wawasan kalian yuk dibaca artikel kami yang lainnya mengenai Bahasa Indonesia. Ayo cintai bahasa Nasional kita.

Editor : -ND-

The following two tabs change content below.

Ayu Noviarini

Tentor Bahasa Indonesia di Bimbel Krishna Learning Center

Latest posts by Ayu Noviarini (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.