Drama Korea Gentleman Dignity: Nanti saat umur saya 40 tahun

Telah dibaca 23 kali

Salah satu senior saya memberikan saya kaset drama korea dengan sampul depan “Gentleman Dignity“. Yaaaa, saya penyuka drama korea. Drama korea yang sering disebut drama dengan akting berlebihan. Bahkan adik saya bilang jenis film yang ditonton oleh anak muda yang tersesat jiwanya. Well, lebih dari predikat buruk pada drama korea saya tetap menyukainya.

Tidak butuh alasan bukan, saat saya sudah punya alasan menyukai suatu hal dan kemudian alasan itu berubah maka saya tidak akan menyukainya lagi. Saya lebih nyaman menyukai suatu hal tanpa alasan. Pertempuran malam hari tanpa kantuk, menelantarkan kesha (anjing peliharaan saya) untuk jalan-jalan dan membersihkan rumah jadi terhambat (satu ini memang sudah habit), saya berhasil menyelesaikan drama korea dengan 20 episode dalam tiga hari. That is amasing? You are wrong, three day too slow for me.

Untuk hal yang saya sukai, saya ingin memperlambat waktu. Karena hal itu tidak mungkin jadi saya menggunakan waktu dan kesempatan seoptimal mungkin. It makes no sense?? Bisakah kalian menjelaskan hal yang masuk akal, jika kita menyukai sesuatu. Hohohoho. Selalu dan selalu disetiap akhir film, drama atau buku yang saya jelajahi dunia penulisnya, saya selalu terpaku dengan pesan yang ingin disampaikan. Selebihnya saya abadikan dalam tulisan atau cawan memori yang tanpa batas, tanpa limit dan berhenti saat tak ada lagi oksigen yang membiarkannya tetap merekam rinci kehidupan saya.

Terinspirasi oleh Drama Korea Gentleman Dignity

Drama yang mengisahkan persahabatan empat pria yang ingin menjadi gentleman tapi tak pernah dewasa sampai umur mereka berkepala empat. Sekilas mereka memang terlihat layaknya pria dewasa yang bermartabat. Tapi saat mereka berempat berkumpul mereka tidak lagi berumur 40 tahun tapi mereka akan kembali berumur 18 tahun. Kisah fiktif ini, ingin sekali saya bawa ke kehidupan saya 40 tahun lagi. Nanti saat umur saya 40 tahun, saya ingin tetap memiliki sahabat-sahabat yang sekarang saya miliki. Tak peduli setiap hari adalah lembur, akan ada 15 menit untuk minum kopi bersama sahabat-sahabat saya. Tak peduli jarak lumayan menguras tenaga, akan ada gelak tawa saat menceritakan kebodohan masa lalu. Tak peduli belahan jiwa sudah di samping kita, akan ada lomba narsis saat akan mengambil foto bersama sahabat-sahabat.

Drama Korea Gentleman Dignity
Drama Korea Gentleman Dignity

Nanti saat umur saya 40 tahun

Nanti saat umur saya 40 tahun, dan mungkin saya sudah menemukan tulang rusuk saya, penyebab jantung berdetak lebih kencang atau seseorang yang ingin saya ajak untuk menua secara bahagia. Nanti saat umur saya 40 tahun, menghabiskan sarapan pagi bersama dan ciuman kening good night sebagai penutup satu hari, saya ingin orang itu sama. Tetap sama untuk hari selanjutnya, bulan selanjutnya dan tahun selanjutnya. Bahkan saat teriakan, air mata atau bantingan gelas hadir tapi orang itu akan tetap bertahan di sana. Bahkan saat saya bosan, merasa kalau bukan dia lah orang tapi dia akan tetap mencoba menghipnotis saya kembali.

Kemudian saya akan kembali lagi ingin menua hanya bersama dia. Nanti saat umur saya 40 tahun, saya tidak ingin melihat ibu dan bapak saya di rumah. Melainkan saya ingin ada suatu pagi, bapak tukang pos memberikan saya kartu pos. Foto Ayah dan Ibu saya tersenyum dan bergandengan tangan dengan baju hangat mereka di tempat indah, ikut serta dalam kartu pos itu. Saya ingin kedua orang tua saya merasakan bulan madu kedua meraka tentu tanpa ada tagihan per-smester anak mereka, tanpa perasaan cemas anak mereka sakit kah?? Dan tanpa khwatir anak mereka tidak menjadi orang yang mandiri. Nanti saat umur saya 40 tahun, saya ingin tetap menulis. Menulis untuk saya, menulis untuk dia, menulis untuk mereka. Kemudian dia dan mereka menulis untuk saya. Mungkin, kita bisa bersama-sama tertawa membacanya atau menangis.

Terlepas dari itu nanti saat umur saya 40 tahun, saya akan tetap menonton drama korea hahahahaha.

The following two tabs change content below.

Diah Wulan

Perawat at Siloam Hospitals
Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.