Telah dibaca beberapa kali
Entah kenapa, aku ingin menangis hari ini. Mungkin aku terbawa penghantar melody Film yang tak henti-hentinya membasahi kedua pipi. Mengingat Film ini selalu membuat aku seolah-olah tengah mengiris bawang. Selalu ada air mata di muara jernih telaga perasaanku. “Hachiko”, sungguh sibuk sekali orang yang melewatkan film nyata ini.
Film Haciko, arti sebuah kesetiaan
Kali ini aku tidak memperinci profil dari Hachiko, jenis rasnya, siapa Tuannya. Namun dibalik nama itu, muncul sebuah arti kesetiaan yang sesungguhnya.
Film penghanyut sensasi rasa manusia, menghantarkan tentang arti kesetiaan dari mahkluk ciptaan Tuhan yang tak dianugerahi akal. Tapi dengan sempurnanya, Hachiko mampu dalam keterbatasannya menghadirkan arti kesetiaan yang tak semua manusia yakin untuk bisa melakukannya.

Sampai akhir hayatnya, melawan hari demi hari dalam kesendirian tanpa Tuannya dan selalu menunggu di tempat yang sama. Menunggu untuk satu orang yang sama yang tak kunjung datang dan dengan kesetiaanya dia mampu menyentuh setiap orang yang menyaksikan penantiannya.
Aku sangat iri dengan Tuan dari Hachiko, iri sekali. Namun jauh dari keinginanku untuk punya hewan yang sangat setia seperti Hachiko. Aku langsung membuang jauh-jauh pikiran itu. Tak ada di pikiranku, ada seseorang atau seekor yang akan terus menungguku sampai akhir garis hidupnya. Sampai suatu saat dimana aku meninggalkan dunia ini, tak akan ada yang menungguku seperti Hachiko.
Kenapa Hachiko harus menunggu selama itu?
Menunggu terus tanpa ada kepastian, aku tak tahu seberapa sakitnya itu. Karena aku juga tak pernah mengalami penantian yang begitu panjang. Satu yang bisa kutangkap, pasti sungguh melelahkan. Kadang, aku pernah mempertanyakan, kenapa Hachiko harus menunggu selama itu? Lalu, aku kembali memikirkan.
“Hachiko menunggu Tuannya, karena Tuannya hanya satu, dan tuannya lah yang memberinya makan, berjalan-jalan dengannya, memandikannya, menyisir bulunya, kemudian membukakannya pintu rumah tatkala cuaca dingin melanda. Semua itu dilakukan oleh tuannya dan bukan aku. “Mungkin itulah arti kesetiaan yang sesungguhnya, “hanya ada dia di mata dan hatimu, bahkan itu tak akan tergantikan oleh apapun itu.”
Diah Wulan
Latest posts by Diah Wulan (see all)
- CERPEN: Kau Api Bukanlah Air - 30 Desember 2019
- Review Film: Renunganku tentang Hachiko. Arti sebuah Kesetiaan - 22 Maret 2019
- Drama Korea Gentleman Dignity: Nanti saat umur saya 40 tahun - 7 Februari 2019
