Telah dibaca beberapa kali
CERPEN | “Brakk”, helaian-helaian manifestasi dari pohon dilemparkan begitu saja di depan mukaku. Layaknya seperti pedagang kaki lima yang membuang sisa makanan di tepi jalan. Terbuang sia-sia dan tidak akan ada yang memungutnya, kecuali binatang liar. Sekarang helaian-helaian itu bahkan tidak menarik minat binatang liar. Tidak bisa dimakan, alasan yang tepat dari binatang liar.
Seandainya dia tahu, itu tidak hanya helaian-helaian yang siap untuk dilempar. Banyak yang terlewatkan demi setiap deretan hitam di helaian-helain itu. Bundaran hitam di bawah kantung mata demi helaian-helaian itu. Janji-janji manis yang terlewatkan demi helaian-helaian itu. Bahkan tidak menatap altar gereja demi helaian-helaian itu.
“Tiga puluh hari dan kau hanya bisa membuat sampah, ” teriak dia. Kupastikan sore ini aku akan berkonsultasi dengan dokter spesialis THT. Tak bisakah, dia mengecilkan suaranya walaupun ruangan 4 x 8 m bernuansa laut ini difasilitasi kedap suara. Mungkin aku akan protes pada Tuhan. Harusnya, gendang telingaku diciptakan Tuhan untuk mendengar suara yang bernada, berirama dan bervolume sedang. Lagi-lagi aku hanya bisa protes pada Sang Pencipta, kurasa aku tidak punya nyali untuk protes pada dia. Terbukti aku diam sekarang.
“Berapa hari lagi kau akan membawa naskahmu?” Sial, aku kembali menunduk. Sorot mata dia tetap tajam walaupun sudah dilapisi kacamata.
“Dan akan kulempar lagi naskahmu.” Sedikit keberanian, aku menatap wajah dia yang mulai keriput. Dia berusaha mengatur nafasnya dan aku kembali seperti orang bisu.
“Istirahatlah sejenak dan saat kau yakin aku tidak akan melempar naskahmu, kau boleh menemuiku.” Suara dia mulai melunak dan seketika hatiku mengeras.
“Saya diberhentikan?” Terimakasih Tuhan, suaraku kembali setengah dari biasanya, apa dia bisa mendengarnya? Dia duduk di kursi putar dan tak menjawab, membiarkanku yang sedikit demi sedikit mulai mengecil.
“Kurasa kau perlu istirahat.” Jawaban ambigu yang tak akan kutanyakan lagi.
Karena aku masih manusia yang beretika maka aku berkata ” Saya mohon diri, Bu. Terimakasih dan saya pasti kembali kesini.” Aku berjongkok dan memunggut helai-helai yang dia istilahkan “sampah”. Jauh dari dia yang berpengalamam berpuluh-puluh tahun sebagai penulis, aku tetap tidak sependapat. Bagiku ini bukan sampah dan aku tetap memiliki keyakinan kuat, suatu saat dia akan menganggap helai-helaian ini adalah emas.
Walau aku bukan peramal, sekali lagi aku menebak apa yang akan dia katakan. ” Kau Api, bukanlah air. Bawa panasmu bukan dinginmu.”
Benar kan, kalau saja aku tak menghormatinya, kulontarkan kata-kata itu satu menit lebih dulu daripada dia. Sekarang, kalian akan menganggapku cenayang. Bukan, aku bukan cenayang yang bisa membaca pikiran orang. Aku adalah pendengar kata-kata setia dia. Tak pernah berubah walaupun rambutnya sudah memutih, kata-kata itu tetap menjadi akhir dari setiap teriakannya. Tak pernah berubah juga, sepuluh tahun dan umurku sudah memasuki kepala dua, aku tidak bisa mengerti maksud kata-kata itu.
Aku menatap gedung di balik kaca bus kota mencari-cari apa ada dia yang menatapku. Kedua tanganku memeluk erat kardus coklat berukuran 45 x 45 cm. Berbagai kenangan masa lalu di kardus itu mulai dari, foto, alat tulis, buku harian, naskah-naskah yang luput dari teriakannya dan yang sudah pernah dilemparnya. Satu jam yang lalu, benda-benda kenangan masa lalu masih tertata di salah satu meja gedung itu yang terletak di kawasan ramai Denpasar, jalan Teuku Umar.
“Baru dari desa, Mas? “ sapa perempuan setengah baya. Aku mengernyitkan kening, pantas saja aku tengah memeluk kardus dan akupun tersenyum. Enggan menjawab, enggan mengangguk dan enggan pula mengelengkan kepala.
“Nanti kalau sudah setahun di Denpasar, pasti Mas kangen pengen balik kampung,” lanjut perempuan setengah baya mengusap keringat di pelipis dengan baju yang mungkin warna dasarnya putih.
“Enak di desa Mas, orangnya ramah-ramah. Kemana-mana nggak takut kecopetan, musim hujan nggak banjir. Pokok’e enak di desa.” Aku terjebak pembicaran yang sebenarnya modus dari curahan hati perempuan setengah baya.
Orang yang duduk di sebelahku begitu merindukan desanya. Cukup terlihat kan? Aku menghela nafas, desa. Aku tidak punya desa. Tidak sepenuhnya, aku punya desa dalam arti lain. Desaku, ya desaku. Kurasa aku akan kesana, sudah lama aku tidak kesana. Lagian sekarang aku punya begitu banyak waktu luang.
Desa Penglipuran ialah desaku, terletak di tengah-tengah pulau dewata. Orang-orang akan lebih mengenal kawasan sejuk dekat dari Desa Penglipuran, Kintamani. Kintamani salah satu objek wisata di Bali yang patut diperhitungkan. Tidak hanya keindahan hamparan laut dengan pasir putihnya yang bisa membelakkan mata turis. Desa yang berada 400 meter dari permukaan laut, menyuguhkan pemandangan segar dan tak biasa. Suhu berkisar antara 17 – 20 derajad celcius. Acap kali karena suhu yang dingin, banyak yang bilang jika kita minum kopi di Kintamani serasa minum es. Aku tidak akan membenarkan pernyataan ini, juga tidak menyalahkan. Kurasa akan terjawab jika aku minum kopi di Kintamani.
Matahari sudah kembali ke peraduan saat kubaca plang nama, Panti Asuhan Bunda Maria. Mengkilat dengan cat perak. Bagi diriku yang menghabiskan masa kecil di panti, menemukan panti ini di desa Penglipuran tidak akan memakan waktu lama. Bagi yang pertama mengunjungi desa ini, akan membingungkan untuk mencari satu rumah. Sesuatu yang khas di Desa Penglipuran, semua rumah di desa ini memiliki pintu gerbang yang seragam dari ujung utama desa sampai bagaian hilir desa. Lebih tepatnya memang didesain sama. Bentuk, bahan, ketinggian sengaja diseragamkan. Kadang aku menebak apakah developer member harga khusus karena satu desa memakai desain dan bahan yang sama? Ataukah memang sudah adat-istiadat yang tak bisa diganggugugat? Terlepas dari semua itu, aku berharap kekhasan desa ini meniadakan kesenjangan yang signifikan di Desa Penglipuran.
Samar-samar kuingat saat aku bermain gundu selepas istirahat jam makan siang di depan plang nama yang masih polos dengan warna asli kayu, coklat. Di sudut halaman itu, terekam jelas aku memandang satu demi satu penghuni panti yang menemukan orang tua baru. Ketika suster-suster mengantar kepergian anak asuhnya, aku akan berlari ke belakang pohon damar di sudut halaman belakang panti. Di sanalah aku menangis, kenapa bukan aku yang mereka pilih? Kenapa aku tidak bisa memanggil mereka ibu atau ayah?
Sampai ketika, perempuan berlesung pipi dengan rambut sepundak menghampiri di tengah gerimis hujan.
“Anak manis, kenapa menangis?” Perempuan itu membungkukan badannya, menjajarkan tinggi badan kami.
“Tidak, aku tidak menangis. Hanya saja…” Aku terdiam tak menemukan alasan yang tepat untuk mengelak.
“Ohh ya, aku salah lihat kamu tidak sedang menangis.” Kurasa perempuan ini buta.
“Gerimis hujan ini yang singgah di pipimu.”
“Yaa.. Anda benar.” Sahutku, sungguh aku tidak ingin dia mengiraku menangis.
“Mengapa gerimis hujan ini hanya singgah di pipimu? Aku benar-benar iri. Kurasa Hujan menyukaimu.” Dia merajuk, kemudian kedua tangannya diletakkan di atas kepalaku.
“Apa yang anda lakukan?” Kedua alis mataku meninggi, heran dengan tingkah yang sedang dia lakoni.
“Aku akan menghalangi gerimis hujan ini dan hujan tak akan singgah di pipimu. Aku betul-betul iri.”
“Jangan…,” seruku menangkis payung tangan yang tengah berada di atas kepalaku.
“Aku menyukai gerimis hujan ini. Biarkan dia tetap singgah di pipiku.” Rona muka dia tampak sayup. Apa dia tersinggung dengan ucapanku? Aku tidak bermaksud.
“Aku kesal sekali. Aku iri.”
“Kenapa gerimis hujan ini hanya singgah di pipimu? Apakah kau mau berbagi denganku, anak manis?” Perempuan ini tak hanya buta, dia juga agak kurang waras. Bagaimana caranya aku membagi air hujan? Suster-suster baru mengajarkanku pembagian angka, belum untuk pembagian hujan.
“Aku tidak tahu rumusnya.”
“Hahahahahaha.” Dia tertawa, lesung pipinya tampak jelas sekarang. Cantik.
“Kenapa anda tertawa, benar aku tidak tahu cara membagi air hujan.” Dia kembali tersenyum.
“Hmmmm, aku punya ide. Bagaimana kalau kamu berbagai cerita mengapa gerimis hujan ini hanya singgah di pipimu.”
“Kalau aku tahu cerita tentang gerimis hujan, mungkin aku tidak akan iri lagi. Bagaimana, kamu setuju?’
Spontan aku mengangguk.
“Tuliskan cerita gerimis hujan itu untukku. Aku sudah tak sabaran menantinya.” Usapan tangan lembut perempuan manis di ubun-ubunku.
Malam itu, aku begitu semangat menulis. Sampai suster mematikan lampu kamar dan mengatakan kalau sudah waktunya tidur. Aku bangun satu jam lebih awal untuk menyelesaikan tulisanku. Sarapan aku lewatkan, semangat yang membara aku menulis. Satu pembaca pertama tengah menanti tulisanku.
Senyum mengembang dan lesung pipinya semakin tampak kemudian pipinya basah. Dia menangis, terlalu burukkah tulisanku. Dia merendahkan badannya berusaha agar sejajar denganku. Spontan, kuusap air matanya.
“Mengapa anda menangis?.”
Dia kembali mengusap ubun-ubunku dan berkata “Aku tidak menangis.”
“Gerimis hujan tengah singgah di pipiku.”
“Tapi sekarang sedang tidak hujan.” Aku kebingungan.
“Yaa tapi tulisanmu ini mengundang gerimis hujan singgah di pipiku. Terimakasih, kamu sudah membaginya.”
“Benarkah?” Aku meragukan ucapan dia.
“Kurasa kau memiliki bakat dalam membagikan sesuatu melalui tulisan. Kenapa kau tidak menulis hal lain dan membagikan kepada yang lain. Selain gerimis hujan, banyak isi dunia yang terlewatkan.”
“Tidakkah mereka akan menertawakan tulisanku.”
“Tidak akan, jika kau berani menunjukan siapa dirimu dalam tulisan. Tak akan ada yang tertawa.
“Kaukah itu, Samuel,” seru suster menghampiriku. Membuyarkan rekaman piring hitam masa lalu. Tergopoh-gopoh langkah suster mendekat dan aku menundukkan kepala pertanda rasa hormatku. Beliau masih tampak segar, walau kerut di dahinya bertambah. Suster menuntun tubuhku memasuki ruang tamu yang tatanan barang-barangnya sama. Meja bundar dengan dikelilingi sofa hitam. Di ujung ruangan ada piala, piagam dan cenderamata tersusun dari yang paling tinggi ke rendah. Lemari kaca yang membedakannya, dulu benda-benda itu tersusun di luar beralaskan meja panjang.
Suster menundukkan kepala mencari-cari sesuatu di bawah meja bundar. “ Ini dia majalahnya.” Dia meniup debu yang sedikit menutupi sampul majalah.
“Ini kan tulisanmu. “ Suster memperlihatkan salah satu tulisanku. Aku tertegun sekian detik memandangi halaman itu. Sudah lama aku tidak kembali mengisi halaman itu. Gambar tangan yang mengenggam bola dunia mengantikan tulisanku.
“Samuel, suster merindukan saat-saat terniang tulisanmu walaupun sudah mau tidur. ”
“Ingatkah kau tulisanmu yang berjudul “Kristal Mencair”?” Aku mengangguk, tulisan jaman dulukala. Laksana bunga kembang sepatu yang masih kuncup, pas mengambarkan tulisanku dulu. Bunga kembang sepatu itu sudah bermekaran sekarang, sungguh indah. Sayangnya malah dilempar begitu saja berapa jam yang lalu.
“Suster sampai berkaca-kaca membaca cerita itu.”
“Kau memang pandai menulis sebuah cerita, Samuel.” Pujian suster kepala, nyaris tak tertangkap gelombang suaranya di gendang telingaku. Bukan karena suara itu tidak nyaring, bukan karena ada suara gaduh lain yang menenggelamkan pujian suster kepala. Lebih tepatnya, pujian itu tidak diperuntukkan
Suster meninggalkan ruang tamu, dia akan memimpin kebaktian malam ini. Aku menolak halus ajakannya.
“Saya akan berkeliling sebentar Suster Kepala, bernostalgia dengan masa kecil,” tolakku dengan tertawa kecil. Kuambil majalah-majalah itu sambil mengayunkan langkah ke pohon damar di sudut halaman belakang panti. Sejenak aku ingin kembali ke masa lalu.
Kubuka satu persatu halaman ini, membaca ulang setiap tulisanku. Kemanakah pembaca pertamaku? Tak bisakah dia mengelus ubun-ubunku? Aku sangat ingin mendengar pujiannya lagi. Tulisanku sekarang jauh lebih bagus. Jauh lebih berbobot, kaya majas, kaya pesan, kaya unsur-unsur bahasa, kaya dan kaya.
“Samuel, aku tidak lagi menangis.”
“Samuel, aku tidak lagi tersenyum.”
“Samuel, aku tidak merasakan apa-apa. Datar. “
Tenggorokanku kering, tercekat, air ludah pun tidak bisa kutelan. Tulisanku yang paling sempurna mengadu. Teriakan siang hari terniang di cawan memori. Teriakan yang sepuluh tahun yang lalu adalah tangisan terharu seorang perempuan berlesung pipi.
Komentar-komentar pada tulisanku berubah dari satu majalah ke majalah yang lain. Pembaca semakin menganggumi tulisanku. Tapi aku kehilangan satu komentar, dari majalah satu ke majalah yang lain semakin berkurang yang menyampaikan perasaan pembaca seusai membaca tulisanku. Hingga tak ada satu pun.
Kurasa, dia bener aku sekarang bukan api dengan sifat panas. Aku melewatkan aku yang sebenarnya dalam tulisanku. Aku terlalu terbuai dengan keangkuhan. Aku lupa satu hal.
“Samuel, aku menunggu tulisanmu. Besok aku tak tahu akan tersenyum atau menangis.”
Samar-samar terniang suara lembut dia. Kucondongkan kepala memandang langit. Besok aku akan menjadi api lagi.
Diah Wulan
Latest posts by Diah Wulan (see all)
- CERPEN: Kau Api Bukanlah Air - 30 Desember 2019
- Review Film: Renunganku tentang Hachiko. Arti sebuah Kesetiaan - 22 Maret 2019
- Drama Korea Gentleman Dignity: Nanti saat umur saya 40 tahun - 7 Februari 2019
