Telah dibaca beberapa kali
Pernahkah anda dipersalahkan (di- kambing hitam -kan) atas saran anda kepada orang lain? Sebuah masalah dan sebuah solusi memerlukan sebuah keputusan. Bagaimanakah cara mengambil keputusan penting dalam hidup kita? Sebagian orang masih suka meminta pendapat atau meminta orang untuk ikut memutuskan masalahnya, kan?
Ketika ada teman yang mencari anda dan meminta anda untuk membuat keputusan sulit bagi mereka. Apa yang biasa anda lakukan? Iya biasanya kita menyarankan berbagai macam solusi. Kemudian jika solusi dari anda yang sebenarnya hanya untuk gambaran dan pilihan saja, di tururi oleh teman anda dan kemudian terjadi sesuatu yang salah, kerap kali anda akan menjadi kambing hitam akan masalah yang terjadi.
Padahal sebenarnya jika ditelisik, teman anda yang menyalahkan anda akan keburukan yang terjadi tidaklah benar. Mereka hanya cenderung mencari kambing hitam untuk dipersalahkan akan kemampuan yang mereka tidak miliki. Karena sehebat apapun solusi yang anda berikan nyatanya bukan anda yang akan menerapkannya, namun semuanya akan dilakukan dan berimpact pada hidup teman anda tersebut. Juga, sebodoh apapun solusi yang anda berikan, akan lebih bodoh lagi jika teman anda melakukannya dan kesalahannya dilimpahkan kepada anda. Terus apa yang perlu kalian lakukan?
Menghindari di- kambing hitam -kan
Beberapa teman saya berusaha mencoba mengakali saya supaya membuat keputusan bagi mereka, tapi saya menolak. Yang saya lakukan adalah menunjukkan kepada mereka bagaimana bisa membuat keputusan yang bijaksana oleh diri mereka sendiri.

Cara menghadapai masalah
Saat kita tiba dipersimpangan jalan dan tak yakin arah mana yang harus diambil, kita sebaiknya menepi, rehat sejenak dan menanti sebuah bus. Segera biasanya pada saat kita tidak berharap, sebuah bus tiba. Dibagian depan bus umum, ada tulisan yang menandakan tujuan dari bus itu. Jika tujuan dari bus itu sama dengan tujuan anda, naiklah ke bus itu, jika tidak , tunggulah, akan selalu ada bus lain yang datang.
Dengan kata lain, saat kita harus mengambil keputusan dan tak yakin apa yang akan terjadi, sebaiknya menepi, rehat sejenak dan menunggu. Segera biasanya saat kita tak berharap , sebuah solusi akan menghampiri. Setiap solusi punya tujuannya sendiri. Jika tujuannya cocok dengan tujuan kita, ambillah solusi itu. Jika tidak, kita tunggu lagi, akan selalu ada solusi lain yang akan datang.
Begitulah harusnya cara kita mengambil keputusan. Saya berusaha mengumpulkan semua informasi dan menunggu kedatangan solusi. Sesuatu yang bagus akan selalu datang dengan tidak di sangka – sangka, ketika anda tidak memikirkannya.
Demikian pilihan yang bisa anda ambil untuk tindakan – tindakan selanjutnya. Namun jikalau anda sendiri yang berusaha mengambil keputusan penting, anda juga bisa menggunakan strategi tersebut, namun anda tidak harus selalu mengikuti cara tersebut. Semuanya terserah anda.
Jadi kalau ternyata gagal, jangan salahkan saya ya.
Teringat kisah dari Ajahn Brahm dalam bukunya “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” yang menceritakan pengalamannya dipersalahkan oleh seorang mahasiswi.
Suatu hari seorang mahasiswi datang menemui seorang biksu di wihara. Dia akan menempuh ujian penting dalam beberapa hari kedepan dan dia ingin biksu itu membacakan paritta untuknya, supaya dia bernasib baik. Sang biksu dengan baik hati memenuhinya , dengan pikiran hal itu akan memberikan kepercayaan diri baginya. Semuanya gratis dan dia tidak memberi dana baginya.
Kemudian perempuan muda itu tidak pernah terlihat lagi, tapi biksu – biksu mendengar dari teman – temannya, dia menyebarkan berita bahwa biksu – biksu di wihara payah, tidak bisa membaca paritta dengan benar. Ujiannya gagal.
Temannya juga menceritakan bahwa dia gagal karena dia nyaris tak belajar sama sekali. Dia adalah cewek pesta. Dia berharap agar para biksulah yang mengurusi hal – hal yang kurang penting, bagian akademik dari kehidupan kampus.
Memang melihatnya enak menyalahkan orang lain saat anda tertimpa hal – hal yang buruk, tetapi menyalahkan orang lain itu jarang menyelesaikan masalah.
Seseorang gatal – gatal dipantatnya. Dia mengaruk – garuk di kepalanya. Gatalnya tidak akan hilang – Ajahn Chah.
Bagus Perdana
Latest posts by Bagus Perdana (see all)
- Gradient Reflects the “Inclination” of Our Life - 2 Juni 2025
- Online Tutoring: Should We Leave Face-to-Face Learning Behind? - 26 Mei 2025
- 70% Discount or 50% + 40%? Which One to Choose? - 26 Mei 2025
