Ayo Mengenal Hate Speech, Bergosip Masa Kini

Telah dibaca beberapa kali

Hallo sahabat viewers, mungkin sudah tidak asing lagi jika kita mendengar tetangga bergosip atau berghibah. Gosip dan ghibah itu tidak seberbahaya sekarang. Memang sama-sama berguncing, tetapi hanya melalui media mulut ke mulut, dan ditambah sedikit bumbu oleh para tetangga saja. Bergosip dan berghibah sudah memasuki fase yang selangkah lebih tragis. Namanya bukan lagi bergosip atau berghibah namun sudah berubah menjadi hate speech atau ujaran kebencian.

Mengenal Hate Speech

Penyampaian opini yang menimbulkan dampak ketidaknyamanan bagi pihak lain inilah yang kerap kali disebut ujaran kebencian. Hate speech atau ujaran kebencian adalah komunikasi untuk menghina, merendahkan, menghasut, memprovokasi individu ataupun kelompok yang menyasar pada perbedaan, baik itu suku, agama, ras, golongan, gender, dan lain-lain. Ujaran kebencian itu membahayakan, menyakiti para korbannya namun bagi pelakunya ujaran kebencian adalah perasaan senang yang mampu membuatnya melayang-layang. Ujaran kebencian dan gosip masih sama buruknya, hanya saja para pelaku ujaran kebencian ini bahkan sudah tidak lagi mengenal kata etika. Mereka menghapus nilai-nilai dalam diri membuat mereka berani bertindak sesuka hati hanya untuk menghina orang lain.

Bergosip dan berghibah itu arenanya bukan lagi dunia nyata saat ibu-ibu memilih sayuran. Arenanya sudah berubah menjadi teknologi yang canggih. Teknologi yang semakin maju berhasil membuat batas-batas dunia nyata dan maya dihapuskan sedikit demi sedikit. Berkomentar di dunia maya pastinya sangat berbeda dengan di dunia nyata. Kini kita lebih bebas, kita bahkan bebas mengutarakan apa saja. Bebas berpendapat dan berekspresi, namun perlu diingat, jangan sampai kebablasan jika tidak mau berakhir tragis di jeruji besi.

Tiada lagi privasi di dunia penuh globalisasi, penghapusan batas-batas diri membuat kita berbagi segala rinci kisah kehidupan pribadi kepada publik. Patut disayangkan jika hal tersebut justru memicu terjadinya hate speech atau ujaran kebencian, Perkembangan teknologi dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk menyebarkan berita yang tidak benar, melakukan penghinaan dan provokasi, dan perbedaan yang ada di Indonesia dijadikan alasan utamanya. Perbedaan seharusnya bukanlah sebuah masalah yang patut dikhawatirkan lagi. Kita semua bahkan sudah sadar akan perbedaan yang ada, semua itu sudah mendarah daging pada diri kita. Perbedaan yang ada bukanlah menjadi ajang untuk kita saling menghujat dan membenci, justru harus mampu dijadikan media pemersatu bangsa.

Berdampak

Dahulu, gosip mungkin hanya akan menyakiti para korbannya secara batin. Hate speech atau ujaran kebencian yang belakangan ini marak terjadi sungguh sesuatu hal yang membahayakan bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Ujaran kebencian ini disebarkan di ruang publik dan menyasar privasi seseorang. Para penebar kebencian ini bukan hanya menyakiti dan menebar rasa takut serta tidak nyaman bagi para korbannya. Ujaran kebencian itu memiliki tingkat bahaya yang hampir sama seperti narkoba apabila terus dibiarkan.

Ujaran kebencian akan terus dikonsumsi oleh masyarakat, dan di sisi lain ada pihak yang terus gencar untuk menebar dan menanamkan kebencian itu sendiri. Masyarakat pun semakin terprovokasi dan timbullah perpecahan di negeri ini. Dan, apabila tidak diberantas, keberadaan ujaran kebencian dan pelakunya akan terus menghantui persatuan dan kesatuan bangsa yang beragam ini.

Mempengaruhi

Otak manusia sangat rentan untuk tertipu dan terbelenggu oleh suatu informasi yang ada disekitarnya, disetiap harinya. Meskipun demikian, hal ini  masih bisa kita atasi dengan mempelajari lebih banyak tentang cara membedakan argumen, fakta dan opini, hingga mengintegrasikan emosi ke dalam logika berpikir. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang harus mampu menjadi seseorang yang cerdas dalam menyikapi isu-isu penghinaan dan provokasi seperti ini. Berpikir secara cerdas mengajak kita untuk mampu menelaah informasi yang didapatkan, lalu mengambil keputusan yang terbaik. Sehingga dapat dikatakan bahwa para pemikir cerdas adalah seseorang yang mampu berpikir kritis yang tidak hanya menggunakan teori dalam mencari solusinya tetapi juga mampu memahami keadaan disekitarnya. Bahwa pemikir cerdas adalah mereka-mereka yang jelas tidak akan terpengaruh oleh isu-isu penghinaan dan provokasi murahan seperti itu.

Menyikapi

Ujaran kebencian adalah salah satu akibat dari falasi. Falasi adalah kesalahan dalam berpikir. Falasi sendiri sangat efektif dalam mengubah opini publik, memutar balikkan fakta, pembodohan publik, provokasi, pembunuhan karakter, memecah belah, dan tindakan tidak bermoral lainnya. Dalam menyikapi falasi ini , pemerintah telah mengupayakan untuk mengatasi ujaran kebencian atau hate speech yang dapat dilihat melalui diterbitkannya sebuah surat edaran oleh Kapolri.

Orang cerdas diibaratkan seperti sebuah berlian di dalam lumpur, berlian itu akan tetap bersinar. Begitupula seseorang yang memiliki pemikiran yang cerdas, ia akan selalu berhasil menyelesaikan setiap permasalahan yang ada dimanapun ia berada dan sesulit apapun keadaannya. Sesungguhnya kamu adalah apa yang kamu baca, apa yang kamu baca itulah yang pada akhirnya akan membentuk pola pikirmu, dari pola pikir itulah berkembang sebuah penanaman karakter dalam dirimu, bagaimana kamu melihat dunia dan segala permasalahan didalamnya. Sehingga, apabila yang kita baca setiap harinya adalah sebuah kebencian, disinilah diperlukan sebuah pemikiran yang cerdas yang mampu mengolah cara pandang kita terhadap sesuatu dan berhasil memutuskan sebuah sikap untuk keberhasilan dalam hidup ini, tanpa mendatangkan kerugian bagi orang lain. Salah satunya adalah dengan menelaah terlebih dahulu kebenaran suatu informasi yang disajikan, agar kita tidak mudah terprovokasi.

Sudahkah kamu menjadi cerdas?

The following two tabs change content below.

Desy Natasia

Menulis adalah tentang mengekspresikan diri. Jika ingin mengenalku, bacalah tulisanku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.