CERPEN : Perihal Cinta Yang Selalu Menguatkan

Telah dibaca 15 kali

Orang tuaku, aku yakin mereka selalu punya cinta di dalam hati mereka untuk satu sama lain. Walaupun tidak lagi mereka tunjukkan. Tua bukan berarti cinta ikut menua. Semoga saja benar begitu.

Perihal Cinta Yang Selalu Menguatkan

Sebenarnya aku tahu, diantara mereka sudah tidak ada lagi cinta yang tersisa. Mereka masih terus bersama karena anak-anaknya. Kerap kali sepulang bekerja, aku mendengar suara piring pecah, suara perabotan yang dilempar dan suara-suara lain yang cukup membuat siapapun yang berada disana ikut merasakan kehancuran. Rumah tangga Ayah dan Ibu kacau.

Perihal cinta

Beranjak sebentar dari cerita Ayah dan Ibu yang kisah cintanya sudah hampir hancur. Siapa sangka, hidupku juga hancur setelah kejadian itu. Kejadian yang membuatku menjadi seseorang yang sangat lemah. Kakiku bahkan rasanya tidak kuat menopang beban tubuhku lagi, ditambah masalah yang datang tiada henti.

Aku merasa diriku sudah meninggal, walau belum seutuhnya. Kerap kali aku tertidur di lantai, terbujur, belum kaku memang. Sepertinya hanya tubuhku yang hidup, hati dan pikiranku sudah mati.

Aku menarik nafas panjang sambil terpejam menahan air mataku yang akan menetes. Berbulan-bulan sudah berlalu semenjak kejadian itu. Kecelakaan maut itu hampir saja merenggut nyawaku. Kecelakaan yang tidak pernah terbayangkan sedikitpun akan terjadi dihidupku. Dimasa yang seharusnya aku menjadi manusia produktif, mulai mengejar masa depan dan menjadi orang yang sukses. Hal terpenting adalah membuat orang tuaku bangga padaku dan berusaha memperbaiki lagi hubungan mereka jika memang masih memungkinkan.

Kecelakaan malam itu justru merenggut semua mimpiku.

Tadinya, diumurku ini ada banyak cara untuk menjadi produktif. Tetapi, sekarang semua menjadi terbatas. Serba susah bagiku. Bahkan satu-satunya hal yang aku pikirkan setelah kecelakaan itu adalah bagaimana caraku untuk tetap hidup disaat rasanya dunia seperti sudah ingin menghabisiku. Aku merasa tidak berguna, terlebih dimata Ayah dan Ibuku.

Bayangkan saja, sudah berapa uang mereka habiskan untuk merawatku dari kecil hingga sedewasa ini. Mungkin mereka tidak pernah pamrih, bahkan untuk menghitungnya pun mungkin tidak pernah. Tetapi kalau aku jadi mereka, aku pasti menginginkan anak-anakku mampu setidaknya membalas sedikit saja apa yang telah aku korbankan untuk mereka. Salah satunya adalah meminta hasil jerih payah anak-anaknya setiap bulan. Namun, aku justru malah menambah beban orang tuaku yang semakin renta. Mungkin mereka kecewa, tetapi apa boleh buat.

Kejadian itu mendatangkan banyak masalah. Salah satunya Adi, pacarku, semakin hari kita semakin sering bertengkar. Adi bahkan enggan bertemu denganku lagi setelah dia menjengukku di rumah sakit malam itu. Mungkin karena kondisiku saat ini. Aku tidak bisa menyalahkan sikapnya. Setiap orang pasti ingin mendapatkan pasangan yang terbaik. Tetapi, aku sedikit kecewa, karena selama ini dia selalu baik dan mengatakan bahwa dia mencintaiku, dan sekarang sikapnya tidak menunjukkan hal itu sedikitpun.

Disaat-saat terburuk hidupku

Dimasa aku merasa sangat dibawah, masalah silih berganti datang dihidupku, aku butuh seseorang untuk menguatkan aku, tetapi pacarku malah memilih pergi meninggalkanku. Mungkin setiap orang pernah berada dimasa yang sama denganku, mengalami hal-hal sulit. Namun, aku yakin milikku berbeda, sangat buruk rasanya. Membayangkan hari esok membuatku ketakutan. Membayangkan bagaimana hidupku berjalan seusai kecelakaan ini, aku rasanya ingin sekali menghabisi hidupku. Hati dan pikiranku seperti dibunuh oleh harapan yang kini terlihat jelas akan pupus seutuhnya. Aku dibunuh oleh bayangan masa depan yang suram dan tidak berguna.

Dibalik itu semuanya semakin membaik di keluargaku. Ayah dan Ibu sudah jarang sekali bertengkar. Sejujurnya aku tidak begitu ingin memikirkan alasannya. Karena aku merasa hal itu sudah seharusnya mereka lakukan jika mereka betul-betul menyayangi anaknya dan tidak ingin membuatku semakin putus asa.

Suatu malam aku melihat Ayah dan Ibu sedang berbincang dengan serius. Aku mengupingnya sambil terduduk di depan pintu. Mereka menangis sambil memecahkan celengan di lemari. Tabungan mereka sudah habis untuk biaya pengobatanku. Aku makin sedih mendengarnya. Mereka berkata satu sama lain, sedikit berdebat namun pada akhirnya mereka setuju untuk saling mendukung satu sama lain karena kondisiku saat ini. Kira-kira begini isi percakapannya,

“Barangkali kita memang sudah tidak lagi cocok. Aku sudah mati rasa padamu, tetapi meskipun begitu, aku akan tetap bertahan untuk anak kita, Putri. Bahkan aku mau memperbaiki semuanya. Kita harus saling dukung terus. Kita sudah tua, kalau masih mementingkan ego, tidak akan ada untungnya. Usia renta begini tidak mungkin cerai kan?” – kata Ayah

“ Mau cari lagi juga enggak mungkin” – jawab Ibu.

“Ya tidak ada yang mau lah.” – kata Ayah sambil tertawa

“Aku akan coba kerja lagi, walaupun sudah sakit sekali tubuhku ini. Aku mau melihat Putri senyum lagi, biar semangat dia” – lanjut Ayahku.

Air mataku menetes mendengar percakapan mereka

Keesokan harinya, aku terbangun dengan perasaan membara, bahwa aku harus semangat melanjutkan hidup ditengah keterbatasan. Aku teringat percakapan orang tuaku kemarin malam. Mereka rela berbuat apapun untuk anaknya diusia renta ini. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan berusaha mengerjakan apapun yang masih memungkinkan dengan kondisiku saat ini. Walaupun kakiku harus cacat permanen serta beberapa bekas luka yang mungkin akan membekas lama diwajahku. Aku yakin aku bisa berbuat sesuatu yang lebih baik. Rejeki itu sudah ada yang mengatur, walaupun kondisiku begini, aku yakin masih ada pekerjaan yang tersisa untukku.

Aku ingin ucapkan terimakasih banyak kepada orang tuaku yang sudah mencintaiku sepenuh hati. Terimakasih telah menguatkan aku dengan cinta kalian disaat. Adi pacarku mungkin pergi meninggalkanku, tetapi aku sangat yakin cinta kalian padaku tidak pernah hilang. Cinta itu akan selalu menguatkan, bukan melemahkan, aku seperti terlahir kembali meskipun tidak sesempurna yang lain.

Bagaimana sobat KLC cerpen ini menarik yaa? Eiittss, jangan lupa yaa masih banyak lagi artikel menarik lainnya . Yukk akses disini

Editor : _NR_

The following two tabs change content below.

Desy Natasia

Menulis adalah tentang mengekspresikan diri. Jika ingin mengenalku, bacalah tulisanku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.