Kebiasaan Buruk Penyebab Senyum Buruk: Kerapihan susunan gigi

Telah dibaca 75 kali

Kerapihan susunan gigi geligi tentu menjadi dambaan semua orang. Selain sangat berpengaruh terhadap penampilan kerapihan gigi geligi juga mempunyai pengaruh besar terhadap fungsi mastikasi dan fonetik. Tak heran, kebutuhan perawatan kawat gigi atau yang dikenal juga dengan nama ‘ behel’ semakin tinggi di masyarakat. Kerapihan dari susunan gigi geligi utamanya dipengaruhi oleh faktor genetik namun selain dari pada itu salah satu penyebab ketidakrapihan gigi geligi yang sering kali tidak diketahui orang awam adalah kebiasaan buruk.

Karena yang Terlihat ‘Sepele’ Akibatnya Tidak Sepele

Terlihat sepele tapi sesungguhnya mempunyai efek jangka panjang terhadap kerapihan susunan gigi geligi sehingga menghentikan kebiasaan tersebut sejak dini dapat mencegah terjadinya ketidakharmonisan hubungan dan susunan gigi geligi atau yang dalam istilah kedokteran gigi disebut maloklusi.

Nah, jadi apa saja kebiasaan buruk itu? Yuk kita bahas satu-satu!

Apa sih maksudnya kebiasaan buruk itu?

Kebiasaan buruk yang dimaksud adalah bad oral habbit yakni kebiasaan-kebiasaan yang menimbulkan tekanan pada gigi geligi sehingga secara perlahan dapat menggerakkan gigi ke luar lengkungnya. Abnormalitas tertentu dari lidah dan perilaku bibir dapat menyebabkan abnormalitas dari susunan gigi geligi. Maloklusi yang terjadi akibat “ bad oral habit” tergantung pada frekuensi, intensitas, dan durasi kebiasaan tersebut dilakukan.

Jadi, apa saja kebiasaan buruk itu?

Sepele tapi tidak sepele kebiasaan buruk ini umum sekali kita lihat, terlihat sepele tapi punya efek buruk untuk jangka panjang.

1. Menghisap Ibu Jari atau jari lainnya

Aktivitas menghisap jari dan ibu jari atau yang juga sering disebut kebiasaan ‘ngempot’ ini adalah sebuah kebiasaan dimana anak menempatkan jari atau ibu jarinya di belakang gigi, kontak dengan bagian atas mulut, mengisap dengan bibir, dan gigi tertutup rapat. Aktivitas mengisap jari dan ibu jari sangat berkaitan dengan otot-otot sekitar rongga mulut.Kebiasaan  Ini sering ditemukan pada anak – anak usia muda dan bisa dianggap normal pada masa bayi dan akan menjadi tidak normal jika berlanjut sampai masa akhir anak – anak.

Ciri khas maloklusi yang terjadi akibat kebiasaan buruk ini adalah gigi depan rahang atas akan terlihat maju (protrusi) sementara gigi depan rahang bawah akan terlihat lebih mundur atau terlihat berdesakan. Hal lain yang juga dapat terlihat adalah adanya renggang pada gigi seri rahang atas dan terdapat gigitan terbuka, sehingga dari depan gigi depan rahang atas tidak berkontak sempurna dengan gigi depan rahang bawah.

kebiasaan buruk
Gambaran Klinis Maloklusi akibat Menghisap Jari (Sumber : https://www.identalhub.com/blog/28/examination-of-thumb-sucking-patient)

2. Menggigit kuku atau bibir bawah

Nah, kebiasaan ini pasti KLC reader semua gak asing banget ya lihatnya. Setidaknya satu dari sekian teman, saudara, atau keluarga yang reader punya kebiasaan ini. Benar kan???

Kebiasaan ini umumnya dihubungkan dengan tingkat kecemasan yang tinggi, namun selain terkait dengan masalah psikologis, dilakukan dalam jangka panjang mempunyai efek yang buruk terhadap susunan gigi geligi.

Kebiasaan yang sering dilakukan pada anak usia 4-6 tahun ini, dapat merubah kedudukan gigi depan atas ke arah depan, sedang gigi depan bawah ke arah dalam.

Gambaran Klinis Maloklusi akibat Menggigigit bibir (Sumber: Palmer, B. The importance of breastfeeding as it relates to the total health section B Missouri J. 2002 )

3. Benapas Melalui Mulut

Readers pernah memperhatikan gak anak-anak yang kalau dalam kondisi diam pun mulut selalu terlihat terbuka? Nah, kemungkinan anak tersebut bernapas melalui mulut.

Anak yang bernapas melalui mulut biasanya berwajah panjang dan sempit, gigi depan atas maju ke arah bibir, serta bibir terbuka dengan bibir bawah yang terletak di belakang gigi seri atas. Hal ini disebabkan oleh karena kurangnya stimulasi muskular normal dari lidah serta adanya tekanan berlebih pada gigi taring dan daerah gigi geraham oleh otot orbicularis oris dan buccinators.  Akibatnya maka segmen bukal (bagian yang mengadap pipi) dari rahang atas berkontraksi dan membuat rahang atas berbentuk seperti huruf V dan palatal (langit-langit mulut) tinggi.

kebiasaan buruk
Gambar Tampak Wajah Anak dengan Kebiasaan Bernapas dengan Mulut (Sumber : Filho SG et al, 2010)
kebiasaan buruk

Gambar Tampak Palatal Rahang Atas pada Pasien dengan Kebiasaan Bernapas dengan Mulut (Sumber : www.klinikjoydental.com)

Lalu, Apa yang bisa dilakukan untuk  menangani kebiasaan ini?

Tentu sudah jelas, kebiasaa buruk ini harus dihentikan sedini mungkin.

Peran orang tua tentunya memegan peran dominan terkait kebiasaan buruk ini yang dimana orang tua sebaiknya menjadi pengawas dan mengedukasi anak terkait kebiasaan buruk yang dimilikinya.

Terkait dengan kebiasaan menghisap ibu jari, cara yang dapat dicoba adalah selain terus menasehati anak adalah dengan :

  • Ibu jari atau jari diolesi bahan yang tidak enak (pahit).
  • Ibu jari diberi satu atau dua plester anti  air.
  • Pembalut elastis.
  • Sarung tangan

Nah, kalau mengggit bibir atau kuku ini yang butuh perhatian ekstra, seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, kebiasaan ini juga mempuyai kaitan terhadap masalah psikologis yaitu tingkat kecemasan yang tinggi. Pendampingan orang tua terhadap anak menjadi sangat penting untuk mencari tahu alasan sesungguhnya dari kecemasan anak, bisa jadi adanya bullying atau ketidaknyamanan tertentu yang dipendam oleh anak. Konseling dengan psikolog juga dapat menjadi alternative agar pendampingan terhadap anak dapat dilakukan dengan profesional.

Untuk bernapas dengan mulut, kemungkinan penyebab adalah adanya masalah pada saluran pernapasan sehingga pemeriksaan ke dokter untuk mengetahui adanya kelainan penting untuk dilakukan.

Kajian Penulis

Tulisanku kali ini berangkat dari pengalamanku menjalani koas kedokteran gigi. Menangani pasien anak, aku tersadar bawa banyak anak yang dibiarkan melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu karena dianggap tidak mengganggu dan tidak menimbulkan sakit ke anak. Salah satu hal yang paling aku sering dengar dari orang tua ketika sedang menangani pasien anak adalah: ‘Bukannya tidak apa-apa? Kan masih gigi susu, nanti juga copot baru ganti yang permanen’.  Selama anak tidak rewel atau tidak sakit berarti tidak masalah. Miskonsepsi dari orang tua inilah yang membuat masalah anak tidak tertangani baik sejak dini.

Ingat ya, tidak sakit belum tentu tidak ada penyakit.

Selain karena faktor genetik, kebiasaan buruk yang dilakukan anak dapat membuat pertumbuhan gigi anak kelak menjadi tidak harmonis, entah terlalu maju, renggang-renggan, dll. Saat anak-anak mungkin tidak terlalu berasa namun memasuki masa remaja, tentu mulai menjadi masalah karena anak akan mulai semakin memikirkan penampilan. Anak mungkin menjadi minder karena diledek temannya ataupun yang merasa rendah diri sendiri karena menganggap penampilannya kurang dibanding temannya yang lain.

Perawatan kawat gigi atau yang dikenal juga dengan nama ‘behel’ dapat menjadi pilihan namun perawatan tersebut pun juga tergolong mahal dan lama dan yang terutama penting untuk dipahami adalah perawatan tersebut memiliki keterbatasan hasil yang dapat dicapai karena faktor anatomis gigi maupun rahang itu sendiri. Kasus yang berat bahkan memerlukan tindak operasi untuk dapat menormalkan lengkung gigi. Melakukan perawatan di tempat ‘abal-abal’ tinggi resiko menyebabkan bertambah parahnya maloklusi yang terjadi dan semakin sulit ditangani.

Untuk itu tingkatkanlah perhatian sehingga tindak pencegahan mungkin dilakukan sejak dini dan jadikanlah senyum indah milik kita semua.

Semoga arikel ini bermanfaat ya readers !

Salam saya,

Abi

DAFTAR PUSTAKA

Bernafas Lewat Mulut Sebabkan Gigi Jadi Berantakan?. 2019. Diakses dari : https://klinikjoydental.com/bernafas-lewat-mulut-sebabkan-gigi-jadi-berantakan/. 28 Februari 2019.

Clinical Affairs. “Policy on Oral Habits”. American Academy of Pediatric Dentistry: 2000.

Examination Of Thumb Sucking Patient. Diakses dari : https://www.identalhub.com/blog/28/examination-of-thumb-sucking-patient. 28 Februari  2019.

McDonald, Avery, Dean. 1988. “Dentistry For The Child And Adolescent” Eighth Edition. C.V. Mosby Company: Washington

Silva OG Filho, Cardoso GCPB, Cardoso M, Capelozza L Filho. 2010. Dental Press J Orthod 15(4):35.e1-12

Penatalksanaan Kebiasaan Buruk. Skripsi. Diunduh dari : http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/1107/SKRIPSI.docx. 28 Februari 2019.

The following two tabs change content below.

Abigail Larasati

Mahasiswa Kedokteran Gigi at Universitas Mahasaraswati Denpasar
Seorang gadis yang menulis untuk berbagi dan menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.