AKU PINTAR WALAU HANYA DI RUMAH SAJA : MINDSET PENGEMBANGAN DIRI DI ERA PANDEMI

Telah dibaca 6 kali

Di rumah saja terpaksa menjadi pilihan kita karena waswas setiap hari akibat pandemi yang saat ini  sayangnya masih belum membaik. Itulah keluhan seluruh orang di dunia saat ini namun mau tidak mau harus dihadapi dan belajar disikapi dengan bijak. Sektor pendidikan tak lepas dari imbas pandemi ini sehingga penyelenggaraan pendidikan tatap muka guru dan murid untuk memaksimalkan interaksi guru dan murid terpaksa diselenggarakan secara daring. Berbagai keluhan timbul akibat penyelanggaraan pembelajaran via online ini. Mulai dari guru seolah tidak menyampaikan materi secara efektif dan beban orang tua yang semakin bertambah untuk mengajarkan putra putrinya disamping harus mencari nafkah untuk menghidupi keluarga.

Dilema memang, namun dengan situasi sulit ini alangkah baiknya juga kita bisa mendukung usaha pemerintah untuk menanggulangi pandemi. Belajar daring seolah belajar mandiri, tapi dengan hal tersebut kita bisa menyikapi dengan berbeda sehingga justru dengan daring ini kita malah bisa semakin pintar. Yuk kita bahas satu-satu caranya!

1. Kemandirian untuk pengembangan diri

Tidak ada waktu perjalanan ke sekolah sebenarnya ada lebih waktu untuk belajar namun masalah utamanya belajar sendiri di rumah jadi seolah kehilangan arah. Materi pembejalaran via daring seolah terlalu singkat dan tidak mendapat pembelajaran menyeluruh sehingga seperti tidak masuk ke otak. Tapi ingat teman-teman, toh dikeluhkan pun hanya membuat masalah terasa semakin sulit. Tapi kita harus mencoba melihat dari sisi yang berbeda, pembelajaran via online bisa direkam dan beberapa sekolah juga mengirimkan video pembelajaran materi sehingga dapat direview dan dipelajari kembali sesuai dengan kemampuan daya tangkap masing-masing anak.

Ingat tidak, dulu di ruang kelas ada saja yang biasanya cepat sekali mengerti tapi ada juga yang tidak juga mengerti sehingga membuat pelajaran terasa semakin lama karena guru jadi terus mengulang-ngulang hal yang baru diajarkan. Pembelajaran daring memang belajar lebih mandiri tapi dengan kemandirian tersebut maka bisa juga lebih dimanfaatkan sesuai kebutuhan pribadi. Jadi coba deh mulai ditanamkan pemikiran itu, fit it to your pace cause its all for you anyway.

2. Malas oh malas tidak ada yang mengawasi

Belajar itu sulit, kalau tidak ada yang mengawasi pasti tambah malas? Oh tidak juga. Coba kita lihat dari sisi ini ya, berkaca dari sejarah, sekolah selalu menjadi institusi pendidikan untuk memberi pengajaran demi pengetahun dan keterampilan mumpuni ketika memasuki dunia kerja. Dari generasi ke generasi pemikiran tersebut terus bertahan dan diwariskan ke keturunan. Tak salah memang, tapi era yang berbeda tentu memberikan tuntutan yang berbeda pula bukan? Sekolah memberikan materi pembelajaran dasar dengan metode pengajaran umum yang diperuntukkan agar bisa diterima semua orang. One size fits all. Tapi apakah semua orang sama? Tentu saja tidak. Disinilah era belajar dari rumah ini dapat dimanfaatkan lebih untuk pengembangan diri secara personal.

Mungkin kamu suka fotografi atau menari, dengan lebih banyak waktu di rumah ranah ini tentunya dapat lebih kamu eksplorasi. Pengalaman pribadi dari penulis juga nih, sadar gak anak-anak yang selalu dianggap pintar hanya anak-anak yang mampu mendapat nilai baik di pelajaran tertentu saja seperti matematika. Ada beberapa bidang ilmu yang selalu dianggap sebagai cabang ilmu utama, terutama karena merupakan bidang ilmu yang diujikan di ujian nasional. Pintar menari tapi tidak merasa diri pintar secara umun karena nilai matematika atau nilai bahasa inggris tidak baik. Ketika kecil penulis merasa hal itu sehingga tidak pernah percaya diri untuk mengembangkan diri ke arah yang sebenarnya penulis sangat suka, kesenian.

Di rumah saja bisa digunakan sebagai waktu refleksi diri, membuat visi tentang masa depan apa yang kamu inginkan. Jadi coba deh mulai berpikir seperti ini. Kamu akan membuat diri kamu di masa depan akan sangat berterima kasih kepada diri kamu yang sekarang.

Kajian penulis # di rumah saja

Hai KLC learner lama tak berjumpa ya. Semua pasti sehat kan? Ingat jaga kesehatan ya. Seperti kalian aku juga pernah menjadi seorang siswa dan ketika di umur kalian aku juga tidak suka belajar mandiri tapi semakin besar terutama ketika mengikuti koas kedokteran gigi aku tersadar bahwa kesalahan terbesar untuk setiap pembelajaranku adalah tidak berani menjadi mandiri dalam menghadapi pembelajaran.

Aku merasa untuk selalu butuh dibimbing sehingga tidak mempunyai satu pun hal yang bisa aku katakan dengan lantang bahwa aku sanggup mengerjakannya sendiri. Barulah setelah koas kedokteran gigi, aku bertekad menjadi lebih mandiri dalam peningkatan kemampuanku. Kalian tidak mau kan pergi ke dokter gigi yang sedikit-sedikit bilang tidak tahu dan harus tanya teman dulu? Dokter gigi sebagai praktisi penyedia layanan kesehatan gigi dan mulut haruslah terpercaya dan bisa diandalkan. Pengembangan Skillset tidak datang dengan hanya meminta bantuan teman. Skillset kamu adalah milik kamu dan untuk kamu sehingga harus kamu yang berusaha untuk mendapatkannya.

Belajar era pandemi ini mau tak mau membuat murid harus menjadi ekstra mandiri dalam pembelajarannya, semakin tekun, aktif dan ingin tahu agar tidak tertinggal. Berat memang tapi mengubah mindset kalian, kalian akan menyadari ini adalah periode dimana kalian bisa mempersonalisasi pembelajaran kalian dengan lebih baik. Semua pembelajaran adalah untuk kalian.

Kepintaran kalian adalah milik kalian dan untuk kalian.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk KLC reader semua.

Salam saya, Abi.

Jangan lupa untuk membaca artikel kami yang tentunya akan menambah wawasan kalian di ya KLC reader! 😀

Editor : -ND-

The following two tabs change content below.

Abigail Larasati

Mahasiswa Kedokteran Gigi at Universitas Mahasaraswati Denpasar
Seorang gadis yang menulis untuk berbagi dan menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.