Telah dibaca beberapa kali
Zaman terus berubah membuat segala sesuatu juga ikut berubah. Tapi, kalau ada satu hal yang selalu sama adalah optimis selalu dianggap lebih baik daripada pesimis. Alasan yang paling umum adalah karena optimis berarti berpikir positif dan hal tersebut membuat seseorang menjadi lebih tangguh dalam menghadapi tantangan apapun. Bagaimana jika optimism itu bias?
Nah, sekarang kalau kalian para KLC readers ditanya balik menjadi optimis dengan berpikir optimis itu maksudnya apa, apakah yang akan kamu jawab? Yakin deh, semua pasti beranggapan ya berarti semua itu jangan terlalu dibawa pusing , santai, let it flow and let it be. Kalau benar kalian berpikir seperti itu, jelas berarti selama ini sudah terkena “jebakan” si optimis. Sekilas memang terlihat seperti itu, tapi sesungguhnya pemikiran-pemikiran seperti itulah yang menjadi miskonsepsi utama terkait optimisme.

Kalau kamu merasa optimis tapi tertanam pemikiran seperti itu, hati-hati karena jangan-jangan bukan bukan optimis, tapi justru memiliki optimism bias.
Apa itu Optimism Bias?
Optimism bias adalah kecenderungan untuk berpikir bahwa kejadian buruk kecil kemungkinan untuk dialami diri sendiri sedangkan kejadian positif lebih banyak dialami diri sendiri dibandingkan dengan orang lain . Dengan kata lain, optimism bias umumnya digambarkan sebagai tingkat optimisme yang tidak realistis.
Naik turun hidup seolah tidak ada, karena semua serba dianggap positif.
Kayaknya Tidak Gimana Banget Deh, Emang Bahaya?
Seolah tidak berpengaruh besar tapi kalau dibiarkan terlalu lama optimism bias ini sesungguhnya berbahaya. Dampak utama dari optimism bias ini adalah menurunnya kemampuan analisa resiko dalam pengambilan keputusan sehingga terkadang menimbulkan konsekuensi yang tidak diharapkan.
Tidak perlu contoh kasus besar tentang optimism bias,
Yang paling sederhana deh, naik motor tidak pakai helm atau naik mobil tidak pakai sit belt. Ah jaraknya pendek atau merasa terlalu ribet, sekali-sekali tidak apa. Kecelakaan bisa terjadi dimana dan kapan saja. Kejadian di lalulintas tidak bisa kita prediksi kan?
Contoh lain, sakit kalau belum parah malas ke dokter. Batuk pilek nanti sembuh sendiri, demam nanti tidur juga turun. Tentu badan memang mempunyai daya tahan tubuh untuk melawan penyakit tapi perlu diingat bahwa penyakit menjadi parah tidak dalam waktu sekejap. Seandainya terdeteksi dari awal maka semakin cepat mendapat perawatan sehingga kemungkinan untuk sembuh semakin tinggi. Kalau terlanjur terlambat, biaya perawatan semakin mahal dan yang terburuk yang tidak bisa sembuh dan menjadi normal seperti sedia kala lagi.
Jadi kalau begitu, Optimis yang benar seperti apa?
Optimis itu benar kok berpikir positif tapi poin penting yang harus selalu diingat adalah berpikir positif bukan berarti tidak mengakui keberadaan masalah.
Kalau tidak ada masalah maka berarti tidak ada yang perlu dicarikan solusinya, kalau tidak ada penyakit maka tidak perlu mendapat pengobatan. Keberadaan masalah penting untuk diakui untuk mengingatkan seseorang adanya sesuatu yang perlu mendapatkan perhatian dan usaha lebih.
Ada kalanya semua memang tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita.
Banyak faktor yang mempengaruhi dan berada di luar kendali kita sehingga ya memang tidak dapat dipungkiri terkadang semua menjadi sulit untuk dijalani ataupun diselesaikan.
Disinilah optimisme yang sesungguhnya diperlukan. Mengakui keberadaan masalah dan tetap menyikapinya dengan positif yaitu dengan tetap tekun dan pantang menyerah.
Cause growth is not found in comfort – Lao Tzu
Kajian Penulis
Masalah optimism bias ini sebenarnya adalah curahan hati pribadi dari aku sendiri (maaf curcol ya readers hehe). Seperti kalian semua, pengaruh optimism bias ke diriku selama ini itu tidak pernah berasa terlalu besar, lebih tepatnya si aku tidak pernah sadar aku punya sampai ketika masuk universitas jadi suka baca buku psikologi. Barulah setelah SMA kelas tiga aku merasakan betul betapa buruknya konsekuensi dari optimism bias yang aku punya, Dari SMA nilaiku secara keseluruan tergolong bagus jadi aku kala itu optimis bisa keterima di universitas yang bagus.
Anggaplah aku memang pintar, tapi apa yang pintar hanya aku? Ada banyak siswa Indonesia lainnya yang juga pintar dan berbakat. Aku menjadi lengah, dan menaruh terlalu banyak ekspektasi terhadap diriku sendiri tanpa memberikan usaha lebih.
Ada banyak siswa Indonesia lainnya yang juga pintar dan berbakat. Aku menjadi lengah, dan menaruh terlalu banyak ekspektasi terhadap diriku sendiri tanpa memberikan usaha lebih.
Betul-betul menyesal sampai sekarang, karena ya walaupun aku juga sudah masuk ke universitas yang bagus juga aku masih suka bertanya-tanya kalau dulu aku usaha lebih apa aku bisa masuk ke universitas impianku dulu?
Untuk KLC readers, semoga artikel ini bermanfaat dan kalian semua terus tekun, pantang dan terus optimis (inget lo ya optimis yang bener gimana) untuk meraih impian kalian semua.
Love, Rayne.
