Student Centered Learning: Demokrasinya Pembelajaran

Telah dibaca 242 kali

Student Centered Learning : Dari Kamu, Oleh Kamu, dan Untuk Kamu. Pergi ke sekolah, terus duduk dan mendengarkan guru mengajar, mencatat materi pelajaran, terus pulang ke rumah buat PR. Rutinitas sehari-hari yang tidak asing buat kita para siswa ya? Mendengarkan dari pagi sampai siang pulang sekolah, hayo ngaku pasti pada mengantuk ya?

Kalian pasti pernah juga merasa wah pelajarannya lagi seru terus tiba-tiba penasaran sesuatu tapi karena tidak ada yang bertanya jadi ikutan diam deh. Perasaan mengganjal yang akhirnya berusaha direlakan, tapi tetap saja sayang kan jadi tidak tahu sekarang?

Ooops jangan khawatir, dunia pendidikan sekarang sudah berkembang pesat. Bukan hanya karena teknologi yang membuat semua gampang dicari di internet, tapi juga karena perkembangan metode pembelajarannya. Kalau dulu semua itu tergantung guru sekarang sudah jamannya kita yang siswa menjadi aktif untuk meningkatkan pengetahuan kita sendiri. Semua pembelajaran dari kamu, oleh kamu, dan untuk kamu. Begitu dengar langsung ingat ya sama pelajaran PKN, Demokrasi. Betul sekali, jadi bukan hanya negara kita yang demokrasi tapi juga pembelajaran kita.

Jadi untuk menjawab keluh kesah kita para siswa, perkenalkan Student Centered Learning.

Apa itu Student Centered Learning?

Biar gak pusing ya, mari kita pahami dari namanya :

Ya, jadi sesuai namanya Student Centered Learning (SCL) sederhananya adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pada pendekatan SCL ini, siswa merupakan subjek yang dituntut aktif dan mandiri untuk meningkatkan pengetahuannya.

Bukan berarti kita siswa belajar tanpa guru lo ya, tetapi dalam pendekatan pembelajaran ini guru merupakan mitra pembelajaran, motivator dan fasilitator. Jadi, guru selain tetap membimbing siswa juga lebih banyak memfasilitasi berbagai kegiatan pembelajaran yang memungkinkan lebih banyak interaksi dua arah, baik itu antara siswa ke siswa maupun dari siswa ke guru sehingga siswa tidak hanya menyerap informasi saja, melainkan juga dilatih mencari solusi dari permasalahan dan bahkan mampu menjadi inovator yang menciptakan gagasan baru berdasarkan pengetahuan yang sudah didapatkannya.

Jadi Seperti Apa Pembelajarannya?

Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, SCL bertujuan untuk mendorong siswa menjadi lebih aktif dan mandiri dalam pembelajarannya sehingga dengan pendekatan pembelajaran ini menekankan keterlibatan siswa sebanyak mungkin dalam proses pembelajaran. Beberapa contoh model pembelajaran dalam SCL adalah :

Small Group Discussion (SGD)

Metode diskusi merupakan model pembelajaran yang melibatkan antara kelompok siswa dengan kelompok siswa atau kelompok siswa dengan pengajar untuk menganalisa, menggali atau memperdebatkan topik atau permasalahan tertentu. Kelompok dapat berisi 5-10 siswa dan dimoderatori oleh guru. Pada setiap akhir diskusi guru memberikan ulasan tentang materi diskusi.

Discovery Learning

Metode ini berupa pemberian tugas belajar atau penelitian kepada mahasiswa dengan tujuan supaya mahasiswa dapat mencari sendiri jawabannya tanpa bantuan pengajar sehingga mendorong siswa untuk berinovasi dan berpikir kritis.

belajar bahasa inggris

Problem based Learning (PBL)

Merupakan pendekatan pembelajaran menggunakan masalah dunia nyata sebagai bahan pembelajaran siswa untuk melatih cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. Guru berperan sebagai moderator untuk memelihara suasana yang kondusif.

Mandiri = Sendiri, Kok Kayaknya Malah Tambah Susah Ya?

Semua harus dari inisiatif siswa sendiri jadi rasanya kurang mendapat pengajaran dari guru. Belum lagi kadang materi yang diberikan terlalu umum tapi pendalamannya harus dilakukan sendiri, rasanya belajar malah semakin kehilangan arah. Seharusnya dibimbing biar pintar kok tapi malah rasanya tambah susah untuk jadi pintar?

Ya, keluhan-keluhan tersebut banyak sekali muncul seiring dengan pelaksanaan pembelajaran SCL. Kenyataannya, pelaksanaan SCL saat ini memang belum sempurna dan belum mencapai tujuan idealnya. Tantangan utama siswa tentunya adalah membiasakan diri dengan sistem baru yang menuntut mereka menjadi lebih mandiri ini. Ibaratnya dulu disuapin sekarang harus belajar makan sendiri. Sedangkan dari guru sendiri terkadang juga tidak menjadi fasilitator yang baik untuk pembelajaran SCL ini, dimana guru hanya sekedar memberikan tugas dan menyuruh diskusi tapi kurang memberikan pendampingan selama proses pembelajaran tersebut. Rasanya seolah guru lepas tangan, sehingga sistem pembelajaran terdahulu yang terkesan bosan malah terasa lebih baik.

Walaupun berpusat pada siswa, seluruh pembelajaran tetaplah merupakan kolaborasi antara siswa dan guru. Melalui SCL, siswa difasilitasi untuk mengeksplorasi materi pelajaran dan mendiskusikan materi yang didapat sementara guru aktif mendampingi siswa selama proses tersebut, termasuk memotivasi mereka untuk menemukan pemecahan masalah, diskusi, dan penyimpulan terhadap hasil diskusi. Sehingga dengan demikian, agar SCL dapat berjalan, siswa dan guru sesungguhnya harus sama-sama aktif belajar.

Susah Dilaksanakan, Masih Perlu Diperjuangkan?

Jawabannya Ya.

Ketika di sekolah rasanya memang oke saja pakai metode belajar apapun itu, karena ujian soalnya yang keluar tentu sesuai dengan apa yang diajarkan tapi bagaimana kelak kalau sudah selesai sekolah? Pada waktunya kita semua akan selesai sekolah dan memasuki dunia kerja. Bekal pengetahuan dari sekolah hanyalah modal kecil dan ke depannya akan banyak masalah baru yang solusinya tidak diajarkan di sekolah. Kalau terbiasa disuapin ilmu sama guru terus nanti kerja gak ada gurunya gimana?

Keaktifan dan kemandirian adalah karakter yang terbentuk sekian tahun sehingga sangat penting untuk dibina pada siswa sejak dini. Keaktifan dan kemandirian dalam pembelajaran jugalah yang pada akhirnya membantu untuk mengembangkan soft skill siswa antara lain kemampuan interaksi, presentasi, dan berpikir kritis.

Oleh karenanya walaupun banyak tantangan dalam pelaksanaannya, penerapan SCL secara optimal pada pembelajaran penting untuk dilakukan agar siswa dapat memperoleh pengetahuan beserta soft skill penunjangnya dengan lebih baik untuk menghadapi dunia kerja kelak.

Untuk itu, para guru dan siswa ayo sama-sama aktif belajar untuk kemajuan dunia pendidikan Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
The following two tabs change content below.

Abigail Larasati

Mahasiswa Kedokteran Gigi at Universitas Mahasaraswati Denpasar
Seorang gadis yang menulis untuk berbagi dan menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.