Telah dibaca beberapa kali
Kutukan atau Perisai Magic? – Tik, tok, tik, tok. Kira-kira begitu bunyi jarum arloji yang berbentuk bulat dengan lambang huruf “ D” dan “G” yang setengah menyatu. Kupandang arloji berwarna hitam untuk yang ke lima kali. Keterlaluan, operator belum menyuarakan tanda-tanda pesawat akan lepas landas. Sudah sembilan puluh menit dari jam penerbangan seharusnya. Pernah kubaca di sebuah surat kabar dengan nama sebuah alat penunjuk arah, jika terjadi keterlambatan 30-60 menit, maka maskapai wajib menyediakan minuman dan makanan ringan. Selain itu, maskapai wajib memindahkan penumpang ke penerbangan berikutnya atau ke maskapai lainnya, jika diminta oleh penumpang. Haruskah aku meminta sekarang?
Waktu adalah menunggu
Dalam benakku, pasti maskapi penerbangan yang kupilih tidak mengunakan motto “ waktu adalah uang”, melainkan diubah dengan motto “waktu adalah menunggu”. Kupandang sekeliling ruang tunggu, kujumpai wajah lelah, wajah dengan tanda tanya dan wajah mengantuk, 75 % mendominasi. Sisanya ialah wajah acuh tak acuh dan wajah datar. Hampir aku lupa, minoritas wajah ceria pun ada, diwakilkan oleh pasangan yang tak segan-segan bermesraan di tempat umum.
“Sruppp,” kembali kuteguk kopi yang tak lagi hangat, pendingin ruangan memberi andil. Harap dicatat, kopi ini murni dari danaku, bukan kompensasi yang diberikan maskapi penerbangan. Kedua tanganku menarik selimut tipis bermotif simbol tim sepak bola yang terkenal dengan julukan setan merah agar menutupi kaki. Kuciptakan energi kinetik dengan mengosok-gosokan tangan kanan dan kiri. Cukup hangat, hingga kedua pipiku pun ikut merasakan, setelah kutempelkan kedua tangan pada pipi. Cara kuno yang pernah kulihat di film barat yang aku lupa judulnya apa.
Akhirnya, pengeras suara di Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara membuat tubuhku beranjak dan segera menuju gate nomer enam yang akan mengantarku ke Pulau Dewata. Seratus menit lagi aku akan melihat senja yang indah di pantai Jimbaran sambari menikmati sate lilit dan pelecing. Hal ini ialah prioritas pertama. Selanjutnya, belum terpikirkan. Dalam penerbangan, mungkin aku akan memikirkannya.
Doa perempuan dengan rambut sepundak
“ Tuhan, sertailah penerbangan hambamu. Berikanlah kesehatan jasmani dan rohani pilot yang membawa pesawat ini. Iringi setiap detik dari penerbangan ini dengan kasihmu sehingga pesawat ini sampai tujuan dengan selamat. Terimakasih Tuhan. Amin.” Perempuan sebelah kiriku tampak tak sadar telah mengaktifkan layanan loudspeaker. Bahkan di ujung tempat duduk pertama pesawat, sepertinya bisa mendengar doa perempuan dengan rambut sepundak.
Perempuan berambut sepundak tampak dengan seksama membaca doa penerbangan. Bisa kutebak, ini kali pertama penerbangannya. Terlihat dari gesturenya, bibir bawah berulang kali digigit perempuan berambut sepundak, tangan kanan mengetuk batas tempat duduk dengan irama ireguler dan yang lebih kentara dia memegang pelampung lebih erat daripada tasnya.
“Ya Tuhan….,” jerit perempuan berambut sepundak memegang erat lengan kiriku saat pesawat mulai lepas landas. Wajahnya dibenamkan di balik punggungku, terlihat seperti dia mau merangkulku. Jika ini dilihat Rani, aku yakin hal yang lebih menyeramkan daripada perang dunia bisa terjadi. Terkadang gender pilih kasih dengan kaum pria. Saat pria tampak cemburu dengan wanita yang merupakan pasangannya, maka para wanita akan bilang kalau kita manis dan imut. Namun, disaat wanita tampak cemburu dengan kekasihnya, untuk membayangkannya saja membuat bulu kudukku berdiri.
Cengkraman perempuan phobia naik pesawat
“Maaf, mbak. Tangan mbak..,” rintihku. Baru kali ini aku tidak senang dipegang perempuan. Tak lain, tak bukan karena cengkraman perempuan phobia naik pesawat ini benar-benar menyakitkan. Aku mencoba melepaskan pegangannya, astaga wanita ini pasti atlet angkat besi. Cengkaramanya bak lem sakti, tetap menempel di lenganku. Dia memperlakukan tanganku layaknya besi yang tak bisa remuk atau dia lupa kalau tanganku hanyalah sekumpulan jaringan hidup lengkap dengan syaraf yang peka terhadap nyeri.
“Tenang mbak, tenang mbak. Kita akan mendarat di pulau Bali. Tak akan pernah ada pesawat yang jatuh di Bali,” ucapku sambari memegang pundaknya. Semoga kata-kataku dapat menyakinkannya. Cengkraman dia melemah, tapi belum lepas dan mulai menatapku. Aku menghela nafas, kurasa aku harus menyakinkan dia kembali dengan kata-kata yang bisa berfungsi sebagai obat diazepam untuknya.
Perisai magic dari para Dewa
“Pulau Bali terkenal dengan pulau seribu pura. Masyarakat Bali selalu melakukan upacara kepada para Dewa di setiap nadi kehidupan mereka. Sehingga perisai magic dari para Dewa selalu melindungi pulau tersebut, “ lanjutku. Entah darimana kata-kata ini aku sadur, yang jelas jika memang benar ada perisai magic, tidak akan ada bom yang meledak di sana. Bahkan bom itu meledak sampai dua kali.
“Ada masalah? “ tanya seorang pramugari menghampiri tempat duduk kami. Aku menarik tanganku dari pundak dia. Perempuan itu juga merubah posisinya lalu menunduk mengambil pelampung yang terjatuh dan yang paling penting, akhirnya dia melepaskan genggaman yang menyakitkan itu.
“Tidak ada masalah, hanya dia tampak sedikit ketakutan dengan penerbangan pertamanya. Semua terkendali.”
“Terimakasih atas perhatiannya,” kata-kata yang seharusnya kulontarkan tapi didahului perempuan ini. Tak hanya atlet angkat besi, kurasa dia juga seorang artis. Perempuan ini sekarang tersenyum lebar kepada pramugari, sungguh berbanding terbalik dengan eskspresi kepanikan dan ketakutannya sepuluh menit yang lalu.
Masih dengan mimik heran, kupandang perempuan itu. Lagi-lagi senyum yang kuterima darinya. Samar antara senyum berlagak tak terjadi apa-apa atau senyum puas telah berhasil mempermainkanku. Mungkin dia gila dan aku bisa ikut gila jika kuladeni lagi tingkah abnormalnya. Tak akan kuperpanjang masalah ini, lebih baik sekarang aku memejamkan mata. Perempuan gila ini akan menghilang saat kubuka mata, pikirku.
Kamu bisa memanggilku Maya
“Perisai magic, aku juga pernah mendengarnya,” suara perempuan gila yang berupaya mengagalkan tidur indahku. Tekadku sudah bulat, aku tidak akan menghiraukanya,
“Dulu kakekku pernah bercerita, Bali memiliki kekuatan yang semua orang tahu tetapi pura-pura tidak tahu. Kata kakek, mereka takut membayangkan kekuatan itu, jadi akan lebih mudah untuk pura-pura tidak tahu,” lanjutnya. Dia sudah pasti gila sekarang.
“Ayolah, jangan pura-pura tidur. Aku tahu, kamu masih penasaran padaku,” kata perempuan dengan rambut sepundak mengoyang-goyangkan tubuhku.
“Apa yang kau mau dariku? Kalau kau ingin mengodaku, sebaiknya buang jauh-jauh pikiranmu itu. Aku sudah memiliki tunangan.” Tawa lepas dari perempuan dengan rambut sepundak mengalir deras. Aku juga cukup geli untuk mengumbar pernyataan barusan.
“ Kamu bisa memanggilku Maya, “ dia mengulurkan tangan.
“Aku tidak sedang untuk mengodamu, aku hanya butuh teman untuk mengobrol. Perjalanan udara ini membuatku sedikit tegang,” Maya menarik tangannya kembali. Tampaknya dia sadar kalau aku tidak tertarik untuk berjabat tangan dengannya.
“Terima kasih.”
“Terima kasih untuk apa?” tanyaku, tak ada salahnya untuk mengobrol sejenak.
“Terima kasih sudah berusaha menenangkanku.” Andai dia tahu, aku tidak sebaik yang dia pikirkan. Aku hanya tak ingin lenganku memar karena ulahnya.
“Hmmm, kamu pasti berasal dari Bali. Bukankah orang Bali memiliki nama depan yang khas? Bagaimana denganmu?”
Apakah kau seorang peramal
“Ya, kamu bisa memanggilku Wayan. Apakah kau seorang peramal atau asal tebak saja, sampai bisa yakin kalau aku orang Bali?”
Maya tersenyum lagi, “ Jelas terdengar dari dialekmu, Wayan.”
Aku tertawa kecil, aku hampir lupa kalau dialekku masih kental. Di kampus teman-teman selalu menanti kapan aku yang akan membawakan presentasi tugas kelompok. Mereka senang mendengar dialek Baliku, apalagi saat aku mengucapkan “T”, seisi kelas akan tersenyum. Dulu aku merasa dialek bukanlah hal yang lucu, baru aku sadari setelah aku mendengar dialek orang Madura atau pun orang Timur. Terkadang hal yang lucu datang karena hal itu sedikit berbeda dari keseharian yang kita lakoni. Perbedaan memberi nuansa sendiri dalam hidup. Jika semua perbedaan diterima lucu dan menghibur, mungkin perang suku, perang agama, perang golongan dan perang-perang lainnya tak akan terjadi.
“Kau tahu Wayan, ini pertama kali aku naik pesawat dan aku ingin membuktikan suatu hal. “ Aku berhenti meneguk air mineralku, memandangnya dengan kening berkerut.
“ Saat umurku enam tahun, saat itu aku pertama kali dibonceng sepeda motor oleh kakakku. Musibah terjadi, kami terjatuh karena berusaha menghindari anak kecil yang menyebrang. Aku selamat tapi kakakku mengalami perdarahan di otak kata dokter. Belum sempat dia ditangani tim medis, dia sudah menghembuskan nafas terakhir di ambulance.”
Mereka mengutukku sebagai pembawa sial
“Tidak berhenti di sana. Genap saat umurku 10 tahun. Kecelakaan kembali terjadi. Saat itu pertama kali aku naik mobil untuk piknik bersama ayah dan ibuku. Hanya aku yang selamat.” Suaranya sedikit bergetar, kurasa dia tak lagi membual. Mata sendunya, terlihat jelas. Apa bisa saja aku salah, Maya adalah aktris yang handal. Sudah dibuktikannya tadi.
“Orang-orang bilang aku beruntung. Sampai saat kecelakan itu terjadi lagi, mereka mengutukku sebagai pembawa sial.”
“Mungkin itu hanya sebuah kebetulan. Banyak kebetulan yang terjadi di dunia ini,” hiburku, aku memang belum tahu saat ini Maya membual atau tidak. Aku hanya menuruti kata hati untuk sedikit menghiburnya.
“Kecelakan ketiga, terjadi saat umurku 18 tahun. Itu pertama kali aku naik bus karyawisata sekolah. Dari 15 penumpang, hanya aku yang selamat. Bisakah kau menyebutnya sebagai kebetulan, Wayan?”
Aku mengaruk-garuk kepala.
Kenapa aku dihadapkan ke situasi yang belum bisa aku cerna dan mestikah kutanggapi pertanyaan retorik Maya. Aku bukanlah orang yang percaya dengan semacam kutukan. Bagiku kehidupan selalu ada karena sebab dan akibat. Selalu ada reaksi dari setiap aksi, begitu yang kupelajari.
“Lalu apa yang ingin kau buktikan, Maya?”
“Jangan bilang, kamu naik pesawat ini hanya ingin membuktikan apakah pesawat ini akan jatuh atau tidak?”
“Menurutmu?” Maya malah balik bertanya padaku. Percakapan terhenti sejenak, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Kutepis pikiran jauh-jauh kalau pesawat ini akan jatuh. Sangat dangkal, jika aku langsung percaya dengan cerita bahwa Maya mempunyai kutukan. Tak mungkin, setiap perjalanan pertamanya akan mendatangkan korban jiwa. Maya hanya manusia yang sama denganku. Punya organ tubuh yang sama denganku, kecuali kelamin tentu saja.
“Maya, kurasa kau terpengaruh dengan film-film fiksi yang dalam adegannya dipertontonkan tentang kutukan. Atau semacam itulah. “
“Oooo ya, aku ingat sekarang. Pasti kau pengemar film sejenis Final Destination? Rupanya kau orang yang mudah terpengaruh oleh film.” Tawaku berusaha menyembunyikan perasaan ngeri yang sebenarnya. Ada kalanya, manusia akan menyembunyikan rasa takutnya dengan mencari pembenaran yang rasional. Setiap orang pernah mengalami.
“Final Destination, “ ucap Maya sambil menengadahkan kepala kearah langit-langit.
“Apa itu kelanjutan dari Twilight Saga?” tanya Maya, yang membuatku ingin membenturkan kepala.
“Sudahlah, kita lihat saja apa yang akan terjadi. Pesawat ini tak akan jatuh di pulau Bali.”
“Aku yakin itu.” Mantap sekali, deklarasiku barusan. Kuharap Maya tidak lagi melanjutkan cerita yang sebenarnya membuat bulu kudukku berdiri.
“Seberapa yakinkah, kamu? Wayan?” tantang Maya membungkamkanku lama. Sekarang kulihat api di matanya yang kuduga tak ada di mataku. Api yang menunjukakan seberapa yakinnya Maya tentang kutukan yang ada didalam dirinya.
Cerpen keren lainnya : Untuk Siapa Mawar Putih?
Hiruk pikuk teriakan penumpang
Speaker aktif, pilot pesawat ini mengumumkan lima belas menit lagi pesawat akan mendarat. Embel-embel ketinggian, letak geografis, iklim, larangan untuk tetap menonaktifkan telepon suleler serta anjuran mengunakan sabuk pengaman tak ketinggalan. Lega rasanya, mengetahui pesawat ini akan mendarat.
“Bisa kau dengar, Maya?” ucapaku dengan penuh kemenangan. Belum sempat Maya menjawab, terjadi guncangan yang begitu keras. Barang-barang di jok atas berjatuhan, lampu-lampu pesawat padam. Hiruk pikuk teriakan penumpang, mendengungkan gendang telingaku. Disusul guncangan yang kedua, yang sepuluh kali lipat lebih keras. Samar-samar kulihat retakan di lantai pesawat yang kupijak. Kemudian muncul air mengenangi. Pesawat terbelah, aku bisa melihat air dari retakan lantai pesawat.
“Lepas sabuk pengamanmu Wayan,” teriak Maya menyadarkanku. Maya menyodorkan pelampung padaku, nyeri di tulang punggung tak kuhiraukan. Aku dan Maya berusaha keluar dari pesawat ini.
Aku kehilangan Maya, orang-orang di pesawat berebut menuju pintu darurat. Aku berhasil keluar, dengan kemampuan renangku aku berusaha menuju pesisir pantai. Mungkin 500 meter jarak bangkai pesawat dengan pesisir pantai.
Dua hari kemudian.
Kutaruh surat kabar di meja bundar di depan teras rumah. Tak ada korban jiwa dari pesawat yang kutumpangi dua hari yang lalu. Padahal pesawat itu terbelah menjadi dua. Belum diketahui penyebab pasti kenapa pesawat bisa jatuh. Aku lega, Maya selamat dari musibah itu. Kendatipun aku tak berhasil menemukannya setelah tim evakuasi mengumpulkan penumpang-penumpang. Sampai detik ini, aku tidak tahu apakah kutukan yang dikatakan Maya benar atau tidak. Aku masih ragu, apakah periai magickah yang menyelamatkan semua penumpang. Yang pasti kalau pendapatku salah, pesawat bisa jatuh di pulau Bali, tanah kelahiran yang sangat kucintai. Tapi aku tetap yakin, selalu ada sebab akibat dari setiap peristiwa dan Tuhanlah yang tetap sebagai yang Maha tahu.
Diah Wulan
Latest posts by Diah Wulan (see all)
- CERPEN: Kau Api Bukanlah Air - 30 Desember 2019
- Review Film: Renunganku tentang Hachiko. Arti sebuah Kesetiaan - 22 Maret 2019
- Drama Korea Gentleman Dignity: Nanti saat umur saya 40 tahun - 7 Februari 2019

Ngunit lumitaw sa aking trabaho ang isang kamangha-manghang pagkakataon, nang nagsimulang makipagtulungan sa akin ang isang napakabata at nakatutuwang babae na may interes sa mga marangal at matatandang lalaki. http://titangel-in-philippines.com/ Ligtas para sa ibang tao, maaaring nakamamatay para sa iba ang sangkap ng mga droga. Kamakailan lang na sinubok ang paggamit ng Cialis ay kinumbinsi ako na tama ang ibinigay na mga rekomendasyon sa akin.
Hi Diah,
Lama gak baca lagi tulisanmu, liat kink nya lagi di bbm yang mau di uninstall…
Ayo kalau sudah tidak sibuk menulis lagi… Jangan lupa share link nya lagi ke aq ya..
Semangat terus ya
Terimakasih karena telah membaca dan menulis komentarnya. Kami akan sampaikan pesan ini ke pihak penulis artikelnya.