CERPEN | Untuk Siapa Mawar Putih?

Telah dibaca 184 kali

CERPEN | Untuk Siapa Mawar Putih? – Kepalan tangan ini semakin mengeras, andai ada batu bata sudah kubelah menjadi dua. Pertanyaannya sekarang, apakah asuransi menanggung biaya pengobatan jika aku melakukan tindakan pamer kekuatan ini. Pihak kedua sebagai korban sudah jelas tidak akan menuntut ganti rugi. Pernahkah batu bata menuntut ganti rugi?

Terniang-niang di cawan memori, saat kugenggam mawar putih ini. Demi setangkai mawar putih, dua lembar kertas yang selalu diperebutkan manusia zaman sekarang berpindah kepunyaan. Demi setangkai mawar putih, aku harus ketinggalan bus. Tawar-menawar membuatku lengah dengan kehadiran waktu. Tak hanya tawar-menawar, saat kini usiaku memasuki kepala dua, kehadiran waktu selalu tidak bisa kupungkiri. Sebagai manusia penjelajah waktu, aku selalu terlambat menyadari kehadiran waktu dan yang tersisa tinggal penyesalan kepada waktu. Setidaknya aku masih menyesal kepada waktu selagi jantungku berdenyut hingga nanti aku mungkin bisa tersenyum dengan kehadiran waktu.

Apakah sebaiknya aku bersahabat dengan kehadiran waktu mulai dari sekarang?

“Bolehkan kuminta bunga itu, Paman? “ seorang gadis berambut panjang yang dikepang dua lengkap dengan manik-manik strawberry menatapku berbinar-binar. Mirip Shinchan saat meminta boneka pahlawan bertopeng kepada mamanya.  Suara nyaring memecah lamunanku terhadap kehadiran waktu dan melemahkan kepalan tangan.

“Jika aku memberikannya, kemudian kepada siapa adik berikan?” Aku balik bertanya, kuharap dia tidak menjawab akan memberikan pada pacarnya. Jika iya, akan kutuntut media elektronik yang merangsang percepatan psikis anak-anak. Masa kanak-kanak menurutku adalah masa bermain, sayang media-media sering mengekspos percintaan di kalangan anak-anak. Suatu saat ada masanya itu, masa yang tepat dengan orang yang tepat menghasilkan faedah yang tepat. Aku baru saja merumuskan teori baru.

“Ibu, tentu saja ibu.” Mantap sekali anak yang mungkin usia lima atau enam tahun menjawabku. Namun stimulus untuk merespon jawaban agak melambat sampai ke cawan memoriku. Terhalang pengalaman masa lalu. Kata “ibu”, selalu melambatkan segala aspek kehidupanku. Tidak ada yang salah dengan kata sakti ini, hanya saja kata sakti ini selalu membuatku tertegun beberapa menit.

“Paman, Paman” panggil gadis kecil seraya menarik tanganku.

Masih tertegun, hanya cawan memoriku sudah memberi perintah kepada syaraf sensoris untuk memandang mata jernih gadis mungil. Sungguh mata yang begitu cantik.

Boleh untukku ya Paman, ibu pasti senang. Ibu suka, suka, suka sekali mawar putih.

Mawar putih ini, haruskan kuberikan pada anak kecil ini?

Aku sudah melewatkan jam kerja, melewatkan bubur kacang hijau yang selalu menjadi sarapan pagi dan sekarang terdampar di taman kota demi mawar putih. Tapi mawar putih ini juga yang mengeraskan kepalan tanganku. Marah karena tak bisa kuberikan mawar putih ini kepadanya. Setidaknya bagi anak kecil ini, mawar putih bisa menciptakan senyum di wajah dua orang. Jika mawar putih ini tetap di gengamanku, hanya bisa mengeraskan kepalan tangan.

Makasih Paman, “ gadis kecil mencium pipi kiriku spontan. Tak sia-sia, kuberikan mawar putih, ciuman gadis kecil dengan mata yang begitu cantik ialah imbalan yang setimpal. Kupandangi langkah-langkah riang anak kecil itu. Langkah yang ringan kurasa. Seringan kapas, yang siap terbang mengikuti arah angin. Sangat berbeda dengan langkah beratku. Pernah saking beratnya langkahku, kugunakan tangan untuk mengerakkan langkah.

Sial, perutku sudah menghantarkan impuls untuk segera diisi. Enam puluh menit sudah terlewati dari waktu sarapan, tapi aku masih enggan mengubah posisi dari kursi bundar yang terletak di pojok taman kota. Begitu enggan, tetap terpekur menatap awan. Begitu enggan, melaksanankan runitas sehari-hari. Teriakan bos jika aku terlihat lambat, omelan costumer jika aku tidak memberikan kepuasaan pelayanan dan keluhan otot-otot tangan dan kakiku yang seharian harus berdiri dan membawa tumpukan piring.

“Permisi, Mas,” suara wanita sepayuh baya sambari memegang sapu. Mengayunkan sapu ke kiri dan ke kanan. Mengumpulkan daun-daun kering, plastik dan botol-botol kosong.

“Sendiri saja, Mas?” Pertanyaan untukku, ya siapa lagi masak pohon cemara yang di belakang kursi tempat duduk.

“Ya Bu. Ibu mau menemani saya memang? “ candaku. Kebiasaan lama, jika ada yang bertanya kepadaku, maka aku akan balik bertanya. Feed back yang cukup bagus, bukan.

Wanita separuh baya menanggapi tawaranku.

Dia duduk di sampingku. Samar-samar antara dia menerima tawaranku atau dia lelah dan ingin bersandar sebentar. Terang saja, aku berlari mengitari taman kota satu putaran saja, sudah bercucuran keringat. Sedangkan wanita separuh baya setiap hari membersihkan taman kota, seorang diri. Pantas wanita separuh baya tampak kurus. Sekali lagi kuakui keperkasaan seorang wanita.

“Sendirian aja, Mas? Lagi menunggu orang ya?” Lebih dulu, wanita separuh baya memecah keheningan.

“Ya kan sekarang sudah sama Ibu,” gurauku.

Walah Mas ini, senang bercanda. Tak kira Mas’e nunggu pacarnya. Tadi sempat tak lihat bawa bunga segala. Lah sekarang bunganya dimana Mas?” Wanita separuh baya ini bisa jadi observer yang baik, kalau di luar negeri sana bisa jadi paparazzi.

Wahh ibu perhatian juga sama saya.

Bukan gitu Mas, soalnya Sampean yang pertama datang di taman kota setelah saya. Orang penglihatan saya masih bagus, ya saya bisa liat Sampean?

Pagi tadi, masih saya lihat Sampean bawa bunga,” lanjut wanita separuh baya meyakinkan kalau dia tidak sedang menguntitku, melainkan secara tidak sengaja memperhatikan kehadiranku. Mungkin, bagi wanita separuh baya penampakanku di pagi hari membawa bunga dan sekarang tidak lagi membawa bunga adalah suatu yang tak lazim. Bisa-bisa dia menerka, kalau wanita yang ingin aku temui hari ini tidak jadi datang, sehingga aku dirundung kesedihan. Fatalnya, bisa saja aku sedang terpuruk di taman kota. Sehingga wanita paruh baya bersimpati dan ingin menghiburku. Sungguh pikiranku sekarang sedang dirasuki drama televisi.

Bunganya sudah saya berikan kepada anak kecil, Ibu.

Ooo,”gumannya.

Raut wajahnya masih ingin bertanya lagi, tapi dipendam.

Saya tidak tahu dimana orang yang ingin saya berikan bunga itu.”

Lahh, alamatnya Mas nggak punya? Kan sekarang bisa diantar ya Mas,” saran wanita separuh baya.

Saya tidak tahu alamatnya, saya tidak punya nomer yang bisa dihubungi dan saya tidak tahu dimana saya harus mencarinya.” Ekspresi wanita separuh terbaya terperangah mendengar jawabanku.

Lho, ngapaen Mas beli bunga kalo gitu?

Aku kembali tertegun, aku membeli bunga agar kenangan tentang sosok wanita itu kembali.

Sosok wanita yang sangat aku rindukan kehadirannya. Sosok wanita yang akan mendatangkan kedamaian di cawan memori. Menghangatkan tubuh dengan pelukannya. Mengusir ketakutanku saat gelap merabunkan penglihatan. Bak cahaya, dia akan selalu menuntun sehingga aku tidak akan tersandung dan jatuh.

Maaf sebelumnya Mas, wajah Mas tampak tak asing. Sepertinya saya pernah melihat Mas sebelumnya, tapi saya lupa.”

Yaa bu, dari lima tahun yang lalu, ditanggal dan bulan yang sama saya selalu mengunjungi taman kota ini setiap tahunnya.

Oooo pantesan dari pertama saya melihat Sampean, kayaknya saya pernah liat Sampean.”

Yang membedakan tahun ini, saya tidak kembali ke rumah dengan membawa bunga lagi dan keesokan hari bunga itu akan layu begitu saja, Bu.

Wahhhh, sudah lima tahun dan Mas belum bisa memberikannya,” wanita separuh baya mengeleng-gelengkan kepala.

Ya sudah Mas, mungkin nggak jodoh. Mas usaha lagi cari wanita yang baru saja, saya punya anak tapi masih lima tahun usianya. Kalo Mas mau nungguin anak gadis saya besar, ya ora opo-opo Mas, hehehe, ” kelakar wanita separuh baya berusaha menghiburku. Kuhargai usahanya dengan ikut tersenyum.

Ibu salah kaprah. Bunga itu bukan untuk orang yang saya ingin jadikan pacar atau istri.

Untuk siapa ?

Lalu untuk siapa?” rasa tahu wanita separuh baya merambat.

Untuk ibu saya,” jawabku pendek dan lirih. Raut wajah wanita separuh baya kembali terkejut.

Maaf Mas, kalau saya boleh tahu ibu Mas memang dimana sekarang?” suara wanita separuh baya berhati-hati, nadanya mengisyaratkan jika dia berusaha menjaga perasaanku. Aku menangadahkan kepala ke langit seraya menjawab.

Lima tahun yang lalu ibu saya pergi bekerja ke Arab Saudi. Selang empat belas bulan kemudian, ibu dikabarkan melarikan diri dari rumah majikannya. Majikannya di sana juga bilang kalau ibu mengambil beberapa perhiasaan lalu kabur. Sejak saat itu, tak ada lagi kabar tentang ibu. “ wanita separuh baya tidak bertanya lagi, melainkan menemaniku dalam keheningan untuk beberapa menit.

Jelas terekam dalam cawan memori, saat aku mengantarkan kepergian ibu.

Mataku tak lepas menatap punggung ibu yang semakin menghilang. Sebelum kepergian ibu, aku sempat bernegosiasi dengannya. Aku akan bekerja dan tidak melanjutkan sekolah mengah atas, asal ibu tetap di rumah. Asal ibu yang tetap membuatkan sarapanku, asal tetap ibu yang memukul kepalaku jika aku ketahuan merokok, asal tetap ibu yang panik saat tahu kalau aku demam. Asal tetap ibu, yang rela sehariaan terjaga menunggui aku yang sedang demam, asal tetap ibu, yang mengomel jika tidak aku habiskan makanan buatannya dan asal tetap ibu, yang tengah malam membenarkan letak selimutku sehingga aku tetap hangat.

Tak hanya Arab Saudi, bahkan jika itu neraka pun ibu akan tetap ke sana. Ibu tak ingin kamu tidak sekolah. Ibu ingin kamu jadi orang pintar, Nak. Orang yang berguna dan tidak dipandang sebelah mata. “  Perkataan ibu tempo itu, mengagalkan negosiasiku dengannya.

Hari ini adalah ulang tahunnya dan ibu suka sekali dengan mawar putih,” ucapku mencairkan dinding es yang melapisi percakapan kami yang sempat terhenti. Sebelum kepergian ibu, di hari ini ibu selalu mengajaku ke taman ini. Dia akan membelikan aku gulali dan tersenyum saat gulali itu belepotan di bibirku. Aku baru mengetahui kalau hari ini ulang tahun beliau tatkala melihat paspor satu hari sebelum kepergiannya. Ironis, disaat ulang tahun ibu harusnya aku yang memberi hadiah, malah aku yang dibelikan gulali. Salah satu kelalaianku terhadap waktu, dan tak mungkin aku minta kehadiran waktu saat itu diulang lagi.

Ibu, ibu, ibu “ panggil gadis kecil menyerahkan mawar putih dan “Selamat ulang tahun ibu, “lanjut gadis kecil sambil bernyanyi lagu “ happy birthday “, ya lah masak lagu “ naik-naik ke puncak gunung .“

Wanita separuh baya tersenyum lebar, memeluk dan mengecup kening gadis kecil.

Terimakasih sayang, “wanita separuh baya mengenggam mawar putih.

Ibu, ibu aku minta bunga itu dari Paman itu,” tunjuk gadis kecil dengan tangan kanannya. Telunjuk kanannya pas menunjuk ke arahku. Mata yang begitu cantik, dan aku melihat binar mata cantik yang melonggarkan kepenatanku. Memberi aku ruang untuk sejenak merasakan kehadiran sosok ibu.

Terimakasih Nak,“ ucap wanita separuh baya menatapku dan melanjutkan perkataan.

Terimakasih mawar putihnya. Mas, kalau pun ibu Mas ada di sini, beliau pasti mengucapkan kata yang sama.

Mataku tak lepas dari pandangan wanita separuh baya yang mengandeng tangan gadis kecil. Sama seperti lima tahun yang lalu, terus memandang sampai sosok itu menghilang. Hanya bedanya, sekarang cawan memoriku tentang ibu sudah memiliki banyak warna. Dulu hanya satu, hitam. Sekarang beranekaragam warna cerah memenuhi cawan memori. Kasih ibu sudah menghangatkan persendian, mencairkan kristal-kristal yang dulu merobek lapisan demi lapisan sendi. Aku beranjak dan mengayunkan langkah seringan langkah gadis kecil tadi. Kali ini lebih ringan dari kapas, udara. Ringan tak terhingga yang menghantarkanku untuk berusaha mengikuti jejak ibu.

 

Catatan :

Sampean : Kamu ( bahasa jawa halus)

Ora opo-opo : Tidak apa-apa ( bahasa jawa)

The following two tabs change content below.

Diah Wulan

Perawat at Siloam Hospitals
Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.